Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Pajak Perorangan Indonesia Bisa Jadi Termahal di Dunia? (Dalam Analisa Sederhana)

WARTAGAS - Pajak Perorangan Indonesia Bisa Jadi Termahal di Dunia? (Dalam Analisa Sederhana). Benarkah? Simak catatan sahabat GAS, Sudin Maurid Sitindaon dalam ‎Group Anak Siantar (GAS) Media Sosial dan Forum Komunikasi di Facebook, Sabtu (11/7/15) di bawah ini.

Pajak Perorangan Indonesia Bisa Jadi Termahal di Dunia? (Dalam Analisa Sederhana)
Ilustrasi - Foto: Facebook Group Anak Siantar (GAS)

Jangan tanya apa yang diberikan negara kepadamu tapi tanyalah apa yang kamu berikan kepada negara. Itu kata mutiara yang hampir tersebar diseluruh dunia.

Barusan ada yang memposting bahwa keterlambatan pajak atau plat kendaraan mati tidak berhubungan dengan razia kepolisian. Pajak telah ada dendanya. Faktanya dilapangan oknum polisi selalu punya alasan untuk menilang hal demikian.

Timbul pertanyaan berapa banyak objek pajak yang dilakukan oleh taat pajak namun selalu mendapatkan perlakuan tidak adil?

Teringat beberapa tahun lalu ketika bekerja di luar negri, beberapa orang teman sekantor selalu mengumpulkan bon makanan. Negara asal mereka ini ada dari Kanada, Inggris dan Jerman. Katanya bon makanan tersebut berisi pajak makanan yang 'refundable'. Mereka sudah bayar pajak melalui gaji yang dipotong langsung. Jadi pajak belanja kebutuhan primer 'refundable". Pemotongan pajak dari gaji di negara-negara tersebut bervariasi mulai dari 30% - 40%.

Jika dibandingkan pengenaan pajak di negara ini sangat tidak menguntungkan pajak perorangan. Gaji dikenakan pajak progressif hingga 30%. Semua produk 'konsumable' juga dikenakan bervariasi dan ditagihkan pada konsumer. Bisa dikatakan sebenarnya produser tidak membayar pajak karena pajak ditagihkan pada konsumer. Biasanya produser akan membayar pajak setelah dikurangi biaya.

Mari berasumsi seorang menghabiskan gajinya untuk makan direstoran yang tarif pajak makanan 20%, maka hanya 50% gaji untuk pajak. Umumnya 5-15% dari juga dipotong untuk kesehatan dan jaminan hari tua. Artinya gaji hanya tersisa 45%-35%. Jaminan kesehatan dan hari tua ini dikemudian hari jika digunakan juga akan dikenakan pajak 5-10%.

Kemudian, jika seseorang berhutang juga dikenakan pajak yang sebenarnya hutang tersebut dibayar dari gaji. Jika pengenaan pajak sekitar 5% saja maka bisa dikatakan gaji yang diterima hampir tidak ada.

Jadi selalu tanyakan dan awasilah selalu yang kamu berikan kepada negara.

Jangan tanyakan apa yang kamu berikan pada negara mungkin hanya berlaku saat perang.***

Penulis: Sudin Maurid Sitindaon dalam ‎Group Anak Siantar (GAS)

loading...

No comments

Powered by Blogger.