Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Mari Jadikan Siantar Menuju Kota Pariwisata

WARTAGAS - Secara geografis kota Siantar menjadi kota yang sangat strategis pada jaman penjajahan Belanda. Namun perlahan letak geografis yang strategis ini perlahan terlihat luntur sehingga mengakibatkan perekonomian kota tersebut seolah mati suri. Hal ini ditandai ketika Kota Siantar tidak lagi menjadi Kotamadya, sekaligus Ibu kota kabupaten Simalungun.

Mari Jadikan Siantar Menuju Kota Pariwisata
Sumber Foto: becaksiantar.com

Adanya Bandara Kuala Namu yang bertaraf internasional, dimana semakin dekat dengan kota Siantar, serta adanya rencana pembangunan jalan tol Kuala Namu – Tebing Tinggi, berdampak pada waktu tempuh bandara Kuala Namu – Danau Toba akan semakin singkat.

Rencana jalur kereta api ganda Kuala Namu – Siantar, sehingga waktu tempuh bisa menjadi 1,5 jam, seolah menghidupkan harapan perekonomian kota Siantar yang seolah telah mati suri menjadi akan mengeliat kembali.

Kota Siantar adalah kota yang paling siap untuk menjadi kota parawisata untuk wisatawan yang hendak berkunjung ke Danau Toba. Hanya berjarak sekitar 45 kilometer dari Danau Toba. Karena itu, fokus pembangunanpun harus segera dilakukan dengan memanfaatkan lahan kota Siantar, yang berada di Tanjung Pinggir, sekitar 600 hektar.

Mungkin lahan itu kunci masa depan pembangunan kota Siantar. Dengan menerapkan tata kelola konsep pembangunan yang matang, Tanjung Pinggir memungkinkan untuk membangkitkan kota Siantar menjadi kota parawisata. Lokasi Tanjung Pinggir sangat cocok untuk dikembangkan menjadi tempat perhotelan, areal tamasya dan hiburan.

Namun, kota Siantar harus segera dapat dan mampu berbenah dengan baik, seiring dengan perubahan infrastruktur dan perubahan pemerintahan yang ada. Sehingga letak geografis yang strategisnya, dapat dijadikan menjadi kota Parawisata terdepan, baik untuk tingkat lokal, nasional maupun mancanegara.

Untuk itu mari bersama-sama kita bangun sebuah motto, “Danau Toba punya keindahan, Siantar punya Pariwisata.”

Pembangunan infrastruktu baik jalan, perhotelan, pusat perbelanjaan bertaraf nasional maupun internasional, seperti mall harus memperhatikan letak tata kota, memperhatikan jalur perjalanan wisatawan yang akan berkunjung ke Danau Toba.

Rencana pembagunan mall di Jalan Melanton Siregar, perlu dipikirkan kembali letak pembangunannya, sehingga berada dijalur wisatawan yang hendak menuju Danau Toba. Sementara itu, gagasan relokasi Pasar Horas mungkin akan menjadi polemik namun relokasi ini mungkin akan menjadi solusi untuk 3 hal.

Menyebar pusat perekonomian yang terlalu terpusat, mengurai kemacetan dan mengubah wajah kota menjadi kota parawisata. Apalagi jika pusat perekonomian yang sekarang, seperti jalan Sutomo dan Merdeka dapat dibenahi sehingga menjadi tempat wisatawan untuk berbelanja produk kreatif, wisata kuliner yang halal. ***

Oleh: Sudin Maurid Sitindaon‎ dalam Group Anak Siantar (GAS)
loading...

No comments

Powered by Blogger.