Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Siantar Menuju Kota Perdagangan

WARTAGAS - Saya berpendapat sebuah konsep baik berupa visi dan misi bukanlah menjadi sesuatu rahasia, karena pada dasarnya teknik pelaksanaanya yang menjadi pembuktian keberhasilan.

Siantar Menuju Kota Perdagangan - Foto: Pasar Horas atau Pajak Horas Siantar
Pasar Horas atau Pajak Horas Siantar - Foto: Metrosiantar.com

Untuk itu, dia telah mencoba membuat sebuah draft Konsep ”Mewujudkan Kota Siantar sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa, yang Mantap, Maju dan Jaya".

Dengan dukungan sektor Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Pariwisata. Sebagai mana tertulis dalam, Perda No 4 Tahun 2012, tentang rencana pembangunan jangka panjang kota Siantar.

Sangat sulit, lanjutnya, mendapatkan nilai rupiah perdagangan di kota Siantar. Jika merujuk pada hasil industri yang ada maka sesuai dengan laporan BPS tahun 2013 dalam .000 rupiah, terlihat Industri makanan, minuman, dan tembakau di angka Rp.3.854.032.852.

Industri tekstil, Pakaian Jadi, dan Kulit di angka Rp. 4.330.094, Industri Kayu dan barang-barang Dari Kayu, Termasuk Alat-alat RT dari Kayu di angka Rp. 42.052.217, Industri Kertas Percetakan dan Penerbitan di angka Rp 11.520.250, Industri Kimia, Minyak Bumi, Batu Bara, Karet dan Plastik di angka Rp. 3.532.615, Industri Barang-barang dari Logam , Mesin dan Perlengkapannya di angka Rp. 4.732.653 dan Industri Pengolahan Lainnya di angka Rp. 2.377.500.

“Total keseluruhan Jumlah Output Industri Besar, sedangkan Menurut Golongan Industri Rp. 3.922.578.181, mendekati angka 4 trilyun pada tahun 2013,” ungkap salah satu Bakal Calon Walikota Siantar.

Dengan melihat angka statistik diatas, dengan mudah menyimpulkan, kota Siantar sebagai kota perdagangan sangat bertumpu pada Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kota Siantar tidak lagi menjadi kota perdagangan, seperti dulu, yakni menjadi kota penyangga perdagangan produk pertanian, peternakan dll untuk daerah sekitarnya.

Dahulu, kota Siantar menjadi kota perdagangan yang sangat terpusat di daerah kota dan Pajak (Pasar) Horas, Parluasan, Simpang Ampat dan Simpang Dua. Pada saat itu, terlihat hiruk pikuk kemacetan dan kesembrautan.

Ide pemerintah untuk membuat jalan lintas Parluasan via Rindam ke Simpang Dua langsung merubah peta perdagangan kota Siantar, apalagi truk angkutan tidak terlihat lagi melintasi daerah perkotaan, padahal stasiun kereta juga berada di daerah kota.

Perlahan tapi pasti kota Siantar meredup menjadi kota perdagangan karena pembangunan infrastruktur dan peraturan daerahnya kurang memahami dan mengantisipasi dampaknya. Dampak kemunduran kota Siantar menjadi kota perdagangan, terlihat dengan lepas sebagai ibukota kabupaten Simalungun.

Untuk itu, perlu kiranya usulan penataan perkotaan dan peraturan daerah ditinjau kembali untuk menghidupkan kembali kota Siantar menjadi kota perdagangan. Mengusulkan jalur ganda kereta api, yang menghidupkan distribusi produk-produk industri, pertanian, peternakan dll.

Disamping itu, terdengar kabar bahwa Serbelawan akan menjadi pusat stasiun kereta api yang terintegrasi dengan baik dengan terminal bus untuk para penumpang dan juga terintegrasi dengan baik juga dengan pergudangan untuk barang.

Walikota ke depan, tegasnya, juga perlu memikirkan untuk mendirikan pasar induk produk pertanian, pasar induk produk peternakan dan perikanan dan pasar produk tekstil dan industri kreatif.***

Penulis: Sudin Maurid Sitindaon‎ dalam Group Anak Siantar (GAS)
loading...

No comments

Powered by Blogger.