Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Antara 'SIK SIK SIBATUMANIKAM' dengan 'MAUMERE'

WARTAGAS - Kritik Pesta Adat Batak yang kekinian. Tulisan ini Saya kutip dan edit dari sumber status facebook Bapak Nestor Rico Tambun.

Fenomena Adat Pesta Batak: Antara 'SIK SIK SIBATUMANIKAM' dengan 'MAUMERE'

Habang birrit-birrit... habang birrit-birrit, santabi loloan on.
Entah bagaimana, orang Batak tiba-tiba mabuk dan demam lagu Ge Mi Famire alias Maumere. Di laman Facebook dan dunia maya,bertaburan gambar dan video orang Batak ber-Maumere, termasuk ibu-ibu gereja. Di pesta adat Batak, menjemput rombongan hula-hula pun orang sudah berputar kekiri, putar kekanan....

"Amangoi... didia do Batak i?"
dang tutu sihupi... dang tutu sihupi, anggo so marsugasuga
dang tutu nauli...dang tutu nauli, anggo so denggan marroha
Lihatlah di youtube, banyak video orang menyanyikan lagu Batak. Lihatlah salah satu paduan suara dari Korea, yang membawakan lagu "Sik Sik Sibatumanikam" dengan cara yang begitu indah dan terhormat.
habang birrit-birrit... santabi loloan on.
Mungkinkah,suku bangsa sedang mengidap penyakit inferior?. Terlalu suka dan tergila-gila pada hal baru dari luar. Merasa milik sendiri itu tidak keren, bahkan tidak tahu sebenarnya miliknya apa saja. Suku Batak senang mengikuti trend.. mulai sejak poco-poco sampai maumere.. Sebenarnya tidak salah orang Batak menikmati hal-hal baru di luar dari budaya batak. Hanya menempatkan hal baru tersebut hrs sesuailah dimana yang layak. Tapi sekarang ini sudah tidak ada filter. Di pesta adat Batak...tak laku lagi arahannya parhata. Suka-suka yang minta lagu....suka-suka mau goyang apa....Hal ini sudah lumrah kita lihat dan ada saja alasan yang mengatakan: "namanya juga pesta, ya heppilah..."

Kini, lebih banyak peserta pesta ingin mendapatkan heppinya saja dan bau keringat karena joget (untungnya tidak sampai serangan jantung) tanpa memaknai apa "ulaon adat" yang sesungguhnya. Sehingga apa saja yang membuat heppi, ya lets do it...Walaupun masih ada juga orang batak yang tidak setuju dengan trend itu (walau akan tersisih dan marginal secara hitungan), tapi karena di pesta adat lagu itu bergema.. secara otomatis kita termasuk pelakunya.

Perlu pemahaman yang mendalam untuk mencintai budaya sendiri terutama kepada para tua-tua adat dan group pemusik. Siapkah kita yang muda menjadi penggagasnya?

Akan tetapi, kita anak muda bukanlah siapa-siapa dalam sebuah pesta adat. Mereka yang tetua yang lebih diperhitungkan. Kita sadar,tidak akan didengar oleh generasi penggemar "Anak Medan" dan "Maumere". Mereka akan bilang,"Ai ise ho?" dan "bahen pestam sesuai versimu, gak suka...jangan berpesta disini dan kami juga tidak datang ke pestamu.."
Molo didok Batak nalilu, pasti muruk do sude. Masa manomu hula-hula putar kekiri-putar kenanan. Bagi ibu-ibu pun, pesta itu yang penting marjoget. Santabi untuk para ina dan boru batak, di orang Batak, tokka do ina-ina pahutur-huturhon tarus dohot tambonna. Bawa sekka (selendang) tapi tidak dipakai ketika manortor karena takut rusak. Bapak wajib berpakaian jas dan dan berdasi, supaya ketika manortor, lebih banyak lapisan kain untuk menyerap keringat yang bercucuran.
Sejatinya,tortor batak itu sopan...kaleemmm....tapi seiring banyaknya koreografer dadakan, mulailah menyimpang urdot nai. Dan melebar kemana-kemana...sahat tu ulaon adat. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, yang pusatnya tentang habatakhon, huta bona pasogit, lobi-lobi sian diibukota.

Sampai ada yang bilang, kalo di kota besar untuk menghilangkan kepenatan, pergilah ke dunia hiburan, kalo di bona pasogit pergilah ke pesta orang batak untuk ajeb-ajeb...

Tapi, mudah-mudahan generasi muda, yang sering mengeluh dengan adat-adat zaman sekarang bisa lebih memahami atau akan menjauhinya??.

Antara 'SIK SIK SIBATUMANIKAM' dengan 'MAUMERE'
Oleh: Tansen Simanullang
loading...

1 comment:

  1. Setuju..GAS terus..maju batak sampai ke pelosok dunia..HORAS

    ReplyDelete

Powered by Blogger.