Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

FDT 2015 - Budayawan Sumatera Utara Kecewa Perhelatan Festival Danau Toba Sekadar Saja

WARTAGAS - Budayawan Sumatera Utara (Sumut) Idris Pasaribu sangat kecewa terhadap pergelaran Festival Danau Toba (FDT) 2015. FDT tahun ini dinilainya sebagai yang terburuk sejak pertama kali festival budaya itu diadakan.

Penari Batak Karo dalam pembukaan Festival Danau Toba, 19 Nov. 2015. (Foto: Chairul Fikri/Beritasatu.com)

Menurut Idris, salah satu penyebab buruknya pergelaran FDT tahun ini adalah sosialisasi dan persiapan yang tidak baik. Katanya, tidak heran bila festival tersebut sepi.

"Saya aja pun gak mau ke sana. Sosialiasinya kurang. Kita gak tahu alamatnya di mana. Kalau dulu itu disampaikan ke Singapura, ke mana-mana. Tahun ini gak ada. Sangat minim. Baik melalui berita, spanduk, televisi, radio, sangat minim," ujar Idris, Jumat (20/11/2015).

Kemeriahan Pembukaan Festival Danau Toba 2015 yang diselenggarakan di Taman Mejuah-Juah, Brastagi, Sumatera Utara yang buka resmi oleh Menteri Pariwisa, Arief Yahya, 19 Nov. 2015
Kemeriahan Pembukaan Festival Danau Toba 2015 yang diselenggarakan di Taman Mejuah-Juah, Brastagi, Sumatera Utara yang buka resmi oleh Menteri Pariwisa, Arief Yahya, 19 Nov. 2015. (Chairul Fikri/ Beritasatu.com)

Selain itu, kata Idris, FDT tahun ini juga minim dengan nilai-nilai tradisi dan budaya. Ia pun yakin target wisatawan sebanyak 55.000 tidak akan tercapai.

"Seperti renang, galaksin, segala macam, itu gak nampak lagi. Kalau musik-musik modern juga ditampilkan untuk apa," katanya.

Lanjut Idris, FDT tahun ini juga diperlakukan dengan remeh oleh pemerintah, terlebih karena adanya pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember.

"Pemerintah sangat tergesa-gesa. Mereka lebih fokus ke pilkada daripada Festival Danau Toba. Mereka lebih fokus urusan politik ketimbang festival budaya," katanya.

Idris menilai, penyelenggaraan FDT kali ini sangat buruk juga karena persiapan dan koordinasi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang buruk. Seharusnya, kata dia, pemerintah pusat lebih baik jika menyerahkan dana penyelenggaran festival kepada pemerintah daerah dan membiarkan pemerintah daerah yang menyelenggarakan. Di samping itu, pemerintah juga sebaiknya memandatkan penyelenggaraan FDT kepada seniman-seniman dan budayawan lokal.

"FDT harus tetap diadakan. Tetapi dengan catatan jangan tiga bulan mau digelar di situ baru sibuk. Begitu siap FDT ini (2015), bulan Januari (2016) sudah disiapkan untuk FDT tahun depan. Kementerian jangan berpesta di kampung orang, sementara orang daerah hanya jadi pembersih sampah saja. Mereka cukup jadi steering committee saja. Biarkan seniman berkreasi dan hidup," katanya.

Ditambahkan Idris, FDT selama ini kurang memberdayakan masyarakat, terutama seniman dan budayawan, setempat. Biaya Rp 3,4 miliar juga menurutnya tak masuk akal.

"Ini tidak. Mentang-mentang kepala biro, ada anaknya besar teteknya, besar pinggulnya, jadi penari dia. Maunya jangan gitu. Maunya yang ditampilkan yang betul-betul penari lah. Sangat kecewa saya," kata Idris mengakhiri.***

Editor: Tim WartaGAS
Sumber: tribun-medan.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.