Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

KMP Solid Dukung Setya Novanto dan Demokrat-PAN Berhasil Menipu KMP

WARTAGAS - Dukungan yang diberikan oleh semua partai yang tergabung dalam koalisi Merah Putih (KMP) terhadap Ketua DPR, Setya Novanto akan memberikan dampak yang sangat buruk terhadap eksistensi partai-partai yang tergabung dalam koalisi Prabowo Subianto tersebut.

Cover Koran Tempo edisi Selasa, 24 November 2015 (Dok: Koran Tempo/Kompasiana.com)

Pasalnya dukungan solid yang diberikan oleh Koalisi Merah Putih terhadap Setya Novanto yang dilaporkan oleh Menteri ESDM, Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas laporan pencatutan nama Jokowi-JK-Luhut yang dilakukan oleh Setya Novanto makin membuat posisi partai-partai yang tergabung dalam koalisi Merah Putih akan semakin hancur citranya oleh masyarakat.

Pilkada serentak 9 Desember mendatang diyakini oleh penuli adalah awal dari kehancuran partai-partai yang mendukung Prabowo tersebut. Gerindra, Golkar hingga PKS diyakini akan kehilangan kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat termasuk pada pendukungnya selama ini, dan diyakini pula Pilkada serentak 9 Desember mendatang, ketiga partai tersebut akan menelan pil yang sangat pahit , sebagai bentuk hukuman yang diberikan oleh masyarakat yang menganggap KMP tidak memikirkan rakyat dan hanya memikirkan kepentingan kelompoknya.

Gerindra diketahui sebagai partai yang tergolong baru tersebut sangat disayangkan apabila harus menelan pil pahit lantaran mendukung penuh Setya Novanto yang padahal menurut peristiwa hukum, Apa yang dilakukan oleh Novanto dengan mencatut nama Jokowi termasuk pula JK, adalah bertentangan dengan kode etik dewan perwakilan rakyat.

Setya Novanto juga kian jelas dapat dipahami bahwa Novanto tidak dapat membedahkan mana wewenang legislatif dan mana wewenang eksekutif, hal ini tercermin dari sikap Novanto yang justru melakukan pendekatan dengan Freeport dengan harapan Freeport memenuhi permintaanya yakni saham sebesar 49% untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Urumuka, Timika, Papua, Beserta mencatut nama Jokowi-JK yang menurut Novanto meminta 20% saham kalau ingin Freeport diperpanjang kontraknya.

Lalu kemudian Golkar, diketahui Golkar saat ini sudah mengalami konflik internal yang sangat dalam dan bahkan kian meruncing setelah terjadinya perpecahan yang melahirkan dua kubu dari Munas Bali dan mUnas Ancol. Dan sikap solid yang diberikan oleh Golkar terhadp Novanto justru akan semakin memperburuk citra Golkar dan yang ada justru akan semakin membuat Golkar berada diujung bibir jurang dan sulit rasanya untuk menyelamatkan Golkar, sebab persaingan untuk merebut kursi Ketua Umum juga masih berlangsung sengit,

Belum lagi pernyataan Ketua Umum Golkar Munas Bali, Aburizal Bakrie yang menyebut bahwa ‘’Berdosa’’ kian membuat masa depan Golkar kian suram dan tidak jelas. Dan Golkar akan melelan pil pahitnya pada 9 Desember mendatang, dan Golkar sudah tak ada harapan lagi untuk meraih kejayaannya yang pernah diraihnya pada orde baru.

Tak hanya Golkar dan Gerindra, Nasib suram juga ikut akan dirasakan pula oleh Partai Keadilan Sejahterah yang secara terang-terangan mendukung Setya Novanto. Pernyataan Fahri Hamzah yang mencerminkan dukungan solid terhadap Novanto yang jelas-jelas sudah bersalah dimata masyarakat justru kian membuat PKS akan semakin hilang kepercayaan dari masyarakat, terlebih lagi masyarakat masih ingat betul PKS pernah mengalami permasalahan besar beberapa tahun yang lalu yakni Presiden PKS, Lufti Hasan Ishak yang jadi terangka oleh KPK terkait kasus impor kuota sapi.

Munas PKS sebelumnya juga sudah memberikan harapan akan terjadinya perubahan bagi partai dakwah islam tersebut, Namun diyakini apapun yang sudah dijanjikan oleh PKS, termasuk akan berubah dan akan mengusahakan rakyat ketimbang kepentingan kelompoknya diyakini akan sia-sia setelah PKS mendukung solid Novanto, terlebih lagi dukungan tersebut akan menjadi petaka bagi PKS, dan puncaknya PKS akan menelan pil pahit pada Pilkada serenyak pada 9 Desember mendatang.

Gerindra, PKS dan Golkar dipastikan akan langsung menelan pil pahitnya pada pelaksanaan pilkada serentak yang akan berlangsung pada 9 Desember mendatang, dan puncaknya ketiga partai yang mendukung Prabowo ini akan kian babak belur pada Pilpres 2019 mendatang, dan pada saat itulah, ketiga partai ini mendapat perolehan suara paling rendah dan diperkirakan tidak akan mampu menembus 5 besar.

Dibalik kerugian besar yang akan dipikul oleh Gerindra, PKS dan Golkar, justru Demokrat dan PAN yang akan meraih simpati publik. Karena sikap PAN dan Demokrat yang masih belum bersikap terkait dukungan terhadap Novanto sebagaimana yang secara terang-terangan yang dilakukan oleh KMP akan membuat Demokrat dan PAN memanfaatkan kondisi Pilkada serentak 9 Desember mendatang,

Pilkada serentak 9 Desember mendatang akan jadi momentum emas bagi Demokrat dan PAN untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Terlebih lagi PAN yang kini sudah menjadi bagian dari pemerintah dan bisa dipastikan kantung-kantung suara yang selama ini dikuasai oleh partai pendukung Prabowo akan masuk kedalam kantung partai pendukung Jokowi,

Posisi partai yang mendukung Prabowo sudah terkunci dan jadi kecelakaan politik nanti pada 9 Desember dan puncaknya pada Pilpres 2019 mendatang, akibat kesalahan fatalnya yang mendukung Setya Novanto yang memang dapat disebut sebagai ‘’Manusia Belut’’ karena dapat lolos dari beberapa kasus besar.

Oleh: Ricky Vinando (Analisis Politik-Hukum Kompasiana)
Akun Kompasiana: http://www.kompasiana.com/rickyvinando
Sumber: Kompasiana.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.