Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Kasus Setya Novanto: Strategi Jokowi Dua Burung Bertarung, Lemah, Masukkan Kurungan

WARTAGAS - Kasus Setya Novanto semakin panas. Dan, pertarungan antara Presiden Jokowi melawan Setya Novanto cs semakin panas. Sejak awal penyerahan rekaman pembicaraan kasus Setya Novanto, strategi Presiden Jokowi lawan strategi kubu Setya Novanto berlangsung. Adu strategi semakin ramai. Silent operation pun tak hanya menerapkan ‘strategi pukul semak, tunggu ular keluar lalu pukul’, kini ada strategi baru yang dilancarkan dan tampak efektif menghantam Setya Novanto dan Riza Chalid.

Kasus Setya Novanto: Strategi Jokowi Dua Burung Bertarung, Lemah, Masukkan Kurungan
Ketua DPR RI Setya Novanto

Mari kita telaah lanjutan efektivitas silent operation yang akan menghentikan sepak-terjang Setya Novanto sekaligus menyeret Muhammmad Reza Chalid atau Riza Chalid ke ranah hukum dengan hati riang gembira senang sentosa bahagia tertawa terbahak-bahak suka-cita pesta-pora ria menari menyanyi koor berdansa selamanya senantisa.

Namun demikian ada satu hal yang membedakan pertarungan itu yakni the master of strategy Presiden Jokowi bertindak dengan tahapan yang cermat. Arahan untuk melakukan tindakan step by step dengan mengandalkan Jenderal Luhut Pandjaitan, BIN, Polri, Kejaksaan Agung, serta Jusuf Kalla benar-benar memojokkan Setya Novanto. Jepitan dan jepitan dilakukan untuk melawan dan bahkan mengecoh kubu Setya Novanto.

Sejak awal mencuatnya kasus Setya Novanto yang diadukan mencatut Presiden Jokowi dkk. adalah pertarungan antara mafia migas dan Petral dengan Presiden Jokowi. Sejak sebelum rekaman diputar telah disampaikan isi rekaman sangat jelas mengindikasikan pertarungan itu. Dan benar. Setya Novanto dan Muhammad Reza atau Riza Chalid dalam rekaman itu sedang diselidiki bahkan terkemungkinan melakukan permufakatan jahat.

Tak mengherankan kubu Setya Novanto dan Reza atau Riza Chalid melakukan upaya (1) politik dengan corong Ical dan Fadli Zon serta Fahri Hamzah membela Setya Novanto, (2) menghindari penyebutan Riza Chalid atau Reza Chalid dan menyimpannya agar tidak masuk ke ranah publik. Maka Fadli Zon pun menyerang Jaksa Agung yang menyelidiki kemungkinan permufakatan jahat dalam rekaman tersebut.

Juga upaya MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) mengarahkan bahwa rekaman pembicaraan Setya Novanto dan Reza Chalid hanyalah omongan bukan sebagai Ketua DPR. Strategi kubu Setya Novanto berikutnya adalah mendekati anggota MKD – bahkan Junirmat Girsang menyampaikan adanya tawaran suap untuk memenangkan dan menggagalkan penanganan kasus persidangan kasus Setya Novanto. Indikasi masuk angin dan melempemnya MKD terbukti dalam sidang yang secara tidak obyektif menyoroti legalitas rekaman.

Temuan dan pemanggilan saksi Maroef Sjamsoeddin pun akhirnya tetap memojokkan Setya Novanto. Bahkan Mahfud MD pun dengan jelas berdasarkan rekaman yang beredar dan diperdengarkan menyebut Setya Novanto telah bersalah melanggar kode etik sebagai Ketua DPR. Maka demi menghindari informasi lanjutan, MKD mengambil strategi baru dengan menghadirkan Setya Novanto dalam persidangan hari Senin pekan depan. Tujuannya adalah adanya sinyalemen dengan demikian Reza Chalid atau Riza Chalid pun tidak perlu dihadirkan agar maneuver cross-checking ala MKD untuk melindungi Setya Novanto.

Pun jika Riza Chalid hadir di persidangan MKD pun akan diarahkan untuk koor bersama dengan Setya Novanto yang sudah didengar kesaksiannya atau pembelaannya terlebih dahulu. Rupanya, the operators of silent operation tidak mau tinggal diam. Tindakan berjaga-jaga terhadap maneuver MKD berhasil diendus – akibat tindakan yang begitu tampak di permukaan adanya 6 orang plus 3 orang PAN, Demokrat dan PKS yang berada pada zona untuk bersikap oportunis bisa berseberangan langsung dengan Presiden Jokowi.

Maka, sebelum MKD membuat keputusan Jaksa Agung pun dengan cepat bertindak memanggil Maroef Sjamsoeddin dan juga berikutnya Sudirman Said sebagai pelengkap. Praktis yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung memraktikkan teori text book penyidikan yakni dengan sistem ring. Ring satu yakni Maroef Sjamsoeddin diperiksa sebagai saksi. Setelah itu Reza atau Riza Chalid dan Setya Novanto akan dipanggil untuk memberikan keterangan.

Dengan sepuluh kekuatan yang ada pada Presiden Jokowi sebagaimana disebutkan adalah (1) Presiden Jokowi memiliki kekuasaan sebagai presiden yang mendapat dukungan mayoritas para purnawirawan Jenderal, (2) Jokowi dikelilingi oleh kekuatan politik dan menguasi TNI, Polri, BIN, (3) Jokowi tidak hutang masa lalu, (4) Jokowi merangkul dan ‘mengorangkan’ serta menghormati TNI, Polri, (5) Presiden Jokowi bukan penakut, (6) Jokowi sabar melihat keadaan dan situasi politik, dan (7) mengendalikan situasi politik yang terjadi, untuk (7) memengaruhi dan mengarahkan dampak dan akibat keputusan politik, agar (8) kekuatan lawan bisa diketahui dengan baik agar, (9) langkah cerdas dan jebakan serta perlawanan bisa menjadi kekuatan, untuk (10) secara strategis terpapar semua keburukan lawan di depan rakyat sehingga tetap kuat dukungan rakyat terhadap Presiden Jokowi, meskipun menimbulkan sumpah serapah lawan politik.

Karenanya, the silent operation pun bergerak dengan Kejaksaan Agung memeriksa terlebih dahulu Maroef Sjamsoeddin. Tindakan ini disertai dengan gebrakan Jaksa Agung, pernyataan Kapolri Badrodin Haiti mendukung upaya pembongkaran dan pembuktikan permufakatan jahat Setya Novanto dan Riza Chalid dengan mengadakan penyelidikan. The silent operators pun tidak hendak melibatkan Presiden Jokowi untuk membuat pengaduan terkait pencemaran nama baik dan pencatutan nama karena tidak akan efektif. Pun Presiden Jokowi, Jusuf Kalla dan Luhut Pandjaitan tidak perlu ribet dan susah payah untuk dimintai keterangan dan bersih.

Maka pasal pemufakatan jahat digunakan karena bukan delik aduan. Dengan dua alat bukti (1) rekaman pembicaraan, (2) pengakuan saksi, dan (3) motif serta suasana batin yang melingkupi dalam rangkaian skenario yang disebut dalam rekaman, telah cukup untuk menggiring ke dalam kasus permufakatan jahat. Lalu apa perlawanan yang sedang dilakukan oleh kubu Setya Novanto selain dengan MKD yang condong berpihak ke Setya Novanto? Salah satunya adalah adanya arah untuk menekan Riza Chalid dan mengorbankan Reza Chalid – meskipun awalnya Riza Chalid dan Reza Chalid berjibaku bersama, namun ketika kepentingan bermain, maka lawan akan saling menerkam. (Untuk itu besar kemungkinan Riza atau Reza Chalid akan kabur dan tidak menghadiri sidang MKD maupun pemanggilan sebagai saksi (atau saksi mahkota) delik dugaan pemufakatan jahat yang dilakukan oleh Setya Novanto dan atau Riza Chalid.)

Dengan posisi demikian (baik atas kehadiran atau ketidakhadiran Riza Chalid) tetap saja tidak menguntungkan karena MKD pun tertekan antara mengadili kasus etik dengan menyalahkan Setya Novanto – yang ujungnya secara psikologis mendorong Kejaksaan Agung untuk bersemangat mengusut kasus Setya Novanto. Di sisi lain, membebaskan Setya Novanto pun akan memiliki dampak luar biasa akibat tekanan publik yang luar biasa.

Oleh karena itu, sejak awal pelemparan kasus ke MKD DPR adalah hanya upaya untuk ‘memukul semak agar ular keluar untuk dipukul’. Sasaran sesungguhnya adalah peristiwa hukum yang lebih besar yakni (1) kasus Petral yang merugikan negara US $ 18 yang melibatkan Muhammad Riza Chalid akan menggelinding dengan mulus karena ekspose terhadap Riza Chalid cukup. Lalu (2) apapun yang diputuskan oleh MKD bukan menjadi prioritas karena hanya digunakan sebagai semak untuk mengeluarkan ular agar bisa dipukul. Serta, yang terpenting lagi, (3) menelisik kasus pemufakatan jahat yang kini ditangani oleh Kejaksaan Agung.

Dengan strategi seperti itu jelas akan menghantam dan membuat macan saling terkam dengan berbagai ular keluar dan teridentifikasi – lalu dengan kekuatan yang ada gampang dipukul. (Itu yang disadari oleh Fahri Hamzah sehingga kini dia tak banyak berbicara.) Kini, bola Setya Novanto telah menggelinding di Kejaksaan Agung. Maka tak mau kalah, MKD pun bermanuver untuk menyelamatkan Setya Novanto dengan membentengi Riza Chalid untuk bersaksi belakangan atau tidak bersaksi sama sekali, plus kemungkinan Riza Chalid atau Reza Chalid akan terterkam temannya sendiri atau akibat strategi silent operation yang menerapkan ‘pukul semak agar ular keluar lalu dipukul’ yang diterapkan oleh Presiden Jokowi.

Dan, rupanya, selain strategi ‘memukul semak, menunggu ular keluar, lalu pukul’ berhasil, kini strategi baru pun disiapkan sejak semula yakni, Presiden Jokowi ‘membiarkan dua burung bertarung, setelah lemah, lalu ditangkap dan dimasukkan ke dalam kurungan'. Akankah kali ini Setya Novanto lolos? Jika lolos dampak dan perlawanan Setya Novanto yang akan terjadi adalah Presiden Jokowi akan bisa dijatuhkan karena dalam rekaman disebutkan jika Presiden Jokowi menolak memerpanjang kontrak dengan Freeport maka Jokowi akan jatuh. Ini kata kunci.

Salam bahagia ala saya.

Penulis: Ninoy N Karundeng (www.kompasiana.com/ninoy)
Sumber: Kompasiana.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.