Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Bioskop Ria, Riwayatmu Kini

WARTAGAS - Bioskop Ria atau Ria Theatre Jalan Sudirman Pematangsiantar pada masa jayanya termasuk bioskop yang selalu ramai Penonton bahkan sampai berdesak desakan saat membeli tiket masuknya, sekarang terbengkalai. Pada bekas gedung bioskop Ria, sekarang kita diberikan pertunjukan kondisi gedung yang tidak terawat, hampir di seluruh badan gedung mengeluapas warna catnya, suram, kusam, buram, dan sepi merana bak seorang perawan yang tengah malas berdandan akibat mengalami badai patah hati, ditinggal kekasihnya yang berkhianat. Simbol kemegahan dan gengsi yang dulu pernah dimiliki oleh masyarakat Pematangsiantar- Simalungun dan sekitarnya, kini terancam sirna, hanya tinggal kenangan.
Gedung Bioskop Ria Pematang Siantar Tahun 1977
Bioskop Ria Tahun 1977 Pematang Siantar (Foto: Google)
Menurut rencana, bangunan bioskop Ria akan dibangun Mall. Hal ini sudah sekian lama menjadi rencana sejak Aset Pemprovsu ini sudah puluhan tahun tidak difungsikan. Pada tahun 2013 sempat ada rencana renovasi gedung bioskop Ria menjadi pusat perbelanjaan. Namun, hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda aktivitas pembangunan dan para pedagang yang biasa di sekitar bioskop masih tetap jualan. Namun, rencana tersebut kembali bergaung seiring pernyataan Penjabat (Pj) Wali Kota Jumsadi Damanik ketika menghadiri acara diskusi pengembangan sistem sadar wisata di Taman Hewan Pematangsiantar (THPS), Selasa (20/2/2016) bahwa bioskop Ria di Jalan Sudirman, Kecamatan Siantar Barat akan disulap menjadi mall (hetanews.com,03/2/2016).

Pernyataan dan Rencana tersebut sangat disayangkan dan memprihatinkan sekali, dimana seharusnya Pemerintah memberikan pendidikan dan penyadaran publik tentang pentingnya pelestarian masa lalu, menjaga, dan mempertahankan serta mendorong masyarakat untuk mengembangkan budaya bangsanya. Karena jika Bioskop Ria menjadi Mall, maka Bioskop yang tersisa ini tinggal catatan sejarah belaka. Itupun jika masih ditemukan literature dan dokumentasinya. Karena catatan terkait bioskop begitu minim, Bioskop yang sudah tiada tercatat pada masanya, sementara yang masih ada hampir tidak terdokumentasikan sejarah keberadaannya.
Gedung Bioskop Ria Pematang Siantar
Gedung Bioskop Ria Pematang Siantar (Foto: Facebook)
Booming produksi film era 1950-an sampai awal 1980-an turut mendorong pertumbuhan bioskop, Tak terkecuali di Pematangsiantar. Bioskop milik pengusaha lokal terus tumbuh sampai dekade 1980. Sampai kemudian redup dikalahkan televisi dan jaringan bioskop nasional. Jika menilik sejarah bioskop di Indonesia, sebelum tahun 1970 sarana hiburan rakyat yang bersifat visual masih sangat terbatas atau sederhana. Karena tempat pelaksanaan hiburan tersebut belum difokuskan pada satu tempat bangunan yang khusus. Artinya pelaksanaan hiburan ini masih dilaksanakan di tempat terbuka seperti di lapangan ataupun di tempat-tempat yang lebih luas. Hiburan ini pada masa itu disebut “layar tancep” (bioskop keliling). Layar tancep ini ini bersifat gratis yang memang ditujukan sebagai sarana bagi masyarakat kecil di sebuah daerah. Layar tancep ini telah ada sejak lama tepatnya sebelum zaman kemerdekaan seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang Belanda yang menggelar layar tancep ini di dalam perkebunan-perkebunan mereka saja, layar tancep ini lebih ditujukan bagi para pekerja perkebunan-perkebunan sehingga lebih bersifat tertutup bagi masyarakat umum, kegiatan ini biasanya dilaksanakan tepat pada acara pasar malam.

Dalam perkembangannya masyarakat mulai tergerus modernisme dengan menanggalkan cara-cara tradisional dalam bertindak, bergaya pakaian, berbicara, dan lain-lain. Modernisme dibawa dengan pemutaran film. Film sangat fenomenal karena mampu mengubah segala bentuk tradisionalisme menjadi bentuk modernisme. Industriawan mengenalkannya dalam bentuk pembangunan gedung-gedung bioskop di berbagai sudut kota.

Di Pematangsiantar sendiri berdiri bioskop- bioskop yang menjadi kebanggaan masyarakat kota untuk bersantai menikmati tontonan tak bernafas lagi. Semua, semuanya tinggal kenangan digerus perubahan yang terus melaju dan menindas, diantaranya bioskop Ria, bioskop Deli, bioskop Riang yang sekarang menjadi Siantar Plaza. Menyedihkan sekali nasib semua usaha bioskop ini, hampir rata-rata dihantam badai kebangkrutan.

Permasalahannya sangatlah jelas. Semua itu gara-gara membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah, Di saat pembajakan belum mereda, pada awal 1990-an para pengusaha bioskop kembali dihadapkan pada permasalah berikutnya dengan munculnya siaran televisi asing lewat parabola. Ancaman lainnya kemudian adalah hadirnya televisi swasta nasional. Kini saluran televisi sangat banyak, VCD murah meriah, sehingga masyarakat dapat menonton sendiri di rumah. atau cukup datang ke Sinemax di Siantar Plaza Bioskop yang mengadopsi style Home Theatre yang elegan di Kota Pematangsiantar yang menawarkan beberapa film dengan fasilitas nyaman.

Budaya nonton film pun berubah drastis, tidak saja di Pematangsiantar, tapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan Kapitalisme telah merasuk dunia hiburan termasuk bioskop, telah mengubah paradigma hiburan mutakhir. Nonton film bersama, sambil bergurau, komentar, makan kacang rebus, tidak ada lagi. Fenomena menonton sekarang untuk konsumsi pribadi dan dilakukan sendiri, Jangankan budaya nonton film, budaya nonton televisi pun berubah. Kalau dulu satu keluarga nonton tivi bersama-sama, sekarang di kamar anak-anak ada televisi sendiri-sendiri. Bahkan, televisi sudah masuk ke telepon seluler sehingga orang bisa menonton televisi dimanapun berada.
Pastinya menyebabkan usaha bioskop menjadi berantakan. Para pengunjung sedikit demi sedikit sirna, yang pada akhirnya sepi, dan pemasukan seret. Puncaknya, usaha tontonan bioskop gulung tikar, menggelepar dan mati untuk selamanya.

Bioskop sebagai bagian dari sejarah kota Pematangsiantar tak seharusnya musnah. Kalaupun tak bisa mempertahankan seluruhnya, paling tidak bioskop Ria yang tinggal sebagai warisan kebudayaan harus dijaga dan dilestarikan. jika memungkinkan Pemerintah Daerah bisa membeli dan mengambil alih Bioskop Ria, Tak sekadar mempertahankan sebagai saksi perkembangan kota dan gaya hidup warganya, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata dimana warga yang pernah merasakan atmosfir kejayaan dapat nostalgia, sebagai rujukan tentang perfilman Nasional dengan koleksi film-film lawas, Konsep wisata bioskop ini juga bisa dijadikan sarana edukasi. Pihak yang ditunjuk sebagai pengelola bisa menggelar jadwal pemutaran film-film dokumenter yang merekam aktivitas masyarakat di masa lalu. Bioskop Ria juga dapat menjadi gedung pusat pertunjukan kesenian dan budaya dimana Kota Pematangsiantar terdiri dari masyarakat yang heterogen, antara lain Simalungun, Toba, Karo, Melayu, Jawa, Minang maupun Tionghoa. Hal ini merupakan pasar yang potensial jika dapat dikelola dengan baik.

Hendaknya Pemerintah Kota Pematangsiantar tidak memaknai perkembangan laju perekonomian dan modernitas dengan berdirinya bangunan Mall, walaupun Bioskop Ria terasa begitu terasingkan, Begitu sepi di tengah keramaian dan kesibukan jantung kota namun perlu dicermati gedung dan ruang itu tidak hanya menawarkan hiburan semata tetapi telah ikut membentuk sebagian besar karakter penontonnya dengan apa yang tengah disajikannya. Bioskop Ria sebagai produk budaya perkotaan adalah bagaian penting dari sejarah masyarakat Pematangsiantar maupun sejarah perfilman Indonesia.

Bagaimanakah nasib bioskop Ria selanjutnya? Kita tunggu saja. Mudah-mudahan Pemerintah kota Pematangsiantar maupun Pemprov. Sumatetera Utara mau melakukan pemanfaatan gedung bioskop Ria untuk tujuan wisata, edukasi, arsip dan dokumentasi serta ruang kreasi seni dan budaya. Atau insan pencinta arsitektur dan sejarah kota, yang membeli bioskop Ria kemudian merenovasinya dalam bentuk aslinya. Selain dapat tetap dijadikan bioskop, dapat pula dijadikan museum kecil mengenai perfilman dan per bioskop an di Tanah Air.

Menjelang perhelatan Pemilukada Kota Pematangsiantar, semoga lahir pemimpin kota Pematangsiantar yang arif dan bijaksana dengan mengedepankan pembangunan yang berorientasi pada nilai social, cultural dan histori sehingga tindakan pengerusakan, penghancuran terhadap bangunan yang turut membentuk wajah kota ini tidak hilang atas nama pembangunan.

Penulis: David Simamora - Pendiri Siantar Heritage Society
loading...

No comments

Powered by Blogger.