Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Inilah Rahasia Sukses Tionghoa Siantar!

WARTAGAS - Sewaktu saya masih duduk imut di SD dan SMP, suka ngiri melihat teman sebangsa setanah air yang keturunan Tionghoa. Kenapa? Karena uang jajan saya hanya cukup membeli selembar “Krupuk Jange” yang renyah atau bon-bon (permen) SUGUS atau HACKS saja, sedangkan teman Tionghoa saya itu selalu memiliki uang yang cukup untuk membeli berbagai jenis jajanan atau mainan. Jenis mainan teman itu pun tak pernah saya lihat dijual di warung-warung pengkolan Jalan Pisang Siantarcity.

Rahasia Sukses Tionghoa Siantar! Foto: Patung Dewi Kwan Im di tengah kota Pematangsiantar
Patung Dewi Kwan Im di tengah kota Pematangsiantar. Sumber: Kompasiana.com

Dulu aku berpikir mungkin dia membelinya dari “luar negeri" saking anehnya. Maklumlah waktu itu rata-rata etnis Chinese di Siantar lebih "wah" dari etnis lainnya. Untungnya teman itu orangnya baik hati dan tidak sombong plus tidak pelit. Tak jarang saya ketiban rejeki kalau dekat-dekat dia. Nah setelah membaca suatu artikel yang mengupas tentang rahasia keberhasilan orang-orang Tionghoa asal Hokian, baru saya tahu menyadari mengapa etnis Tionghoa bisa sukses dalam usaha dan memiliki tingkat ekonomi yang mapan. Di sini saya akan berbagi isi dari artikel tsb.

BEGINI CERITANYA! Eng..ing..engg....!!! Banyak di antara orang-orang Tionghoa yang menjadi pengusaha sukses walaupun ia baru satu generasi berada di negeri ini atau di negeri rantau lainnya di seluruh dunia. Seperti kita ketahui bangsa ini memang bangsa perantau dari jaman sebelum masehi, dari Dinasti Ming, Dinasti Qing yang Agung dan terbentuknya Republik Rakyat China pada tahun 1912 setelah Revolusi Xinhai. Tak heran kitab salah satu agama menuliskan “Belajarlah sampai Ke Negeri Tionghoa”.

Konon orang-orang Tionghoa, khususnya suku Hokkien mememiliki falsafah hidup dalam menjalankan bisnisnya dengan falsafah "3C to do and not to do".

A. “3C” TO DO
1. “Cengli”= adil, Kalau ingin sukses, cara kita bekerja dan berusaha haruslah cengli alias adil. Dengan kata lain kita harus jujur, tidak curang dan bisa dipercaya. lni membuat banyak orang suka mempekerjakan kita atau bekerja sama dengan kita. Semakin dipercaya, maka pintu pun semakin terbuka lebar bagi kesuksesan kita.

2. “Cincai" = gampang, gak ribet. Artinya orang yang gampang, mudah memberi, tidak ribet, tidak banyak perhitungan dan bukan tipe orang yang sulit. Uniknya, orang-orang yang mudah memberi seperti ini juga mudah mendapat keuntungan. Mungkin maksudnya sama seperti dalam satu ayat dalam Alkitab yang sering di sampaikan oleh Guru Sekolah MInggu “Siapa yang menabur akan menuai”. Bagi Hokkien, orang-orang yang pelit, terlalu banyak perhitungan dalam memberikan yang terbaik bagi Tuhan maupun dengan sesama, (dalam bentuk angpao / sedekah / zakat / kolekte / sumbangan / durung-durung) kemungkinan berkat juga susah turun bagi mereka. Ya..harus kudu banyak amal. Kudu bagi-bagi rejekilah!!!

3. “Coan.” Artinya memperoleh untung. Orang yang bekerja keras atau berusaha, wajar donk kalo mengharapkan keuntungan, bukan “kebuntungan”. Tapi “coan” di sini bukan semata-mata menguntungkan diri sendiri. Namun juga akan menguntungkan orang lain. Ada orang yang hanya ingin mendapatkan untung untuk diri sendiri sebanyak-banyaknya dengan modal yang sekecil-kecilnya (ingat prinsip ekonomi). Namun hal ini dalam praktek ‘gak selamanya prinsip ini berlaku bagi pebisnis murni. Jadi “coan” ini menitikberatkan bahwa dalam bisnis harus menguntungkan semua pihak seperti konsumen, rekan bisnis kreditor (bank) atau pihak-pihak lain.

B. “3C” NOT TO DO
1. Pantangan pertama adalah “Ciok” atau hutang. Bukan berarti gak boleh ngutang. Ya... hutang sebenarnya tidak menjadi masalah jika dibayar sesuai ketentuan, tetapi akan menjadi aib jika hutang hanya dihabiskan untuk hal-hal yang memboroskan atau tidak perlu. Dan akhirnya hutang tidak dapat dilunasi.

2. ”Ciak” alias uang orang dimakan begitu saja. “Ciak” disini diartikan orang yang hanya makan (menghabiskan) tanpa bekerja keras.

3. ”Cao” alias melarikan diri. Kalau sudah begini akan sulit baginya untuk dipercaya melakukan sesuatu atau diajak bekerja sama.

Tambahan "C" not to do dari saya. “Cuap-cuap” doank dan banyak “Cincong” Kawan..! Segitu aja dulu ya ceritanya, semoga rahasia sukses ala sodara kita Hokkian bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Khususnya sodara-sodara yang selama ini memandang minor bahkan iri terhadap sodara kita Tionghoa. Perlu juga dicatat bahwa tidak semua sodara kita Tionghoa itu hidupnya wuenak tenan dan mapan secara ekonomi loh, ada juga yang sangat menderita dan miskin. Di Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Barat bahkan pinggiran Jakarta banyak yang hidup menjadi kuli, petani biasa, pemulung, karyawan dll.

Jadi stigma selama ini yang mengatakan bahwa Orang-orang WNI keturunan Tionghoa di Indonesia pada kaya-kaya, tajir, makmur harus dipikir ulang. Sewaktu saya kecil, di Siantar, saya ingat ada juga parbotot-botot (tukang beling) saudara kita etnis Tionghoa menggunakan sepeda keliling untuk mencari pelanggannya... Termasuk saya yang suka menjual “spartak alas kaki sepatu bekas, bosi-bosi, ember pecah, belanga belah dll". Lumayan buat jajan...xixixixixiixi. Makanya marilah belajar berlaku cengli, cincai, coan secara positif dan ingat juga agar jangan mencaplok hak orang lain.

OK deh kalo begitu, lain waktu saya mau bercerita lagi. Tapi kalo ada waktu ya. Sekarang aku mau ke ladang dulu ya….. duada... da... bai-bai…Si Yu…. Kam sia, Xie-xie From me yang belum sukses Parjalpis Anti Rasis, Pecinta Damai.

NB: Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau kurang berkenan di hati anda.

Penulis: Saut Donatus
Sumber: Kompasina.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.