Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Danau Toba... Kolam Renang Terbesar di Dunia, Namun Belum Melahirkan Ahli Renang Kelas Lokal, Nasional ataupun Dunia

WARTAGAS - Kita pinggirkan dulu sejenak bahwa Danau Toba itu merupakan destiny Wisata di Sumatera Utara. Mari kita berbicara tentang Olahraga. Olahraga yang kita maksud disini adalah olahraga yang berhubungan dengan air, dan tentunya Danau Toba itu selalu dikaitkan dengan air alam. Oh iya, sebuah pertanyaan yang selama ini selalu ada dalam benak saya. Ada gak yah olahragawan khususnya perenang dari wilayah seputaran Danau Toba?

Danau Toba... Kolam Renang Terbesar di Dunia, Namun Belum Melahirkan Ahli Renang Kelas Lokal, Nasional ataupun Dunia
Berenang di Danau Toba (Foto: Google Image)

Danau Toba... Bisa dibilang Kolam Renang Terbesar di Dunia, Namun Belum Melahirkan Ahli Renang Kelas Lokal, Nasional ataupun Dunia?
Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara miskin yang tidak bermodal seperti Kenya & Etiopia telah berhasil melahirkan atlit marathon kelas dunia, hanya dengan mengandalkan sebuah motivasi untuk menjadi pelari tercepat di dunia. Atlit-atlit dari negara miskin tersebut bahkan sering training tidak menggunakan sepatu dan pada saat bertarung di arena internasional pun sering tidak menggunakan sepatu, alias berlari kaki ayam.

Di Parapat dan Samosir, atau bahkan di pelabuhan Balige, kita sering melihat anak-anak yang menghabiskan hari-harinya menyelam dan mengapung di Danau Toba. Anak-anak ini bahkan sudah pintar menyelam dan berada di dalam air dalam jangka lama, jadi boleh dibilang, teknik pernapasan dalam air sudah sangat mahir.

Namun, hanya satu hal yang memotivasi anak-anak ini untuk menyelam dan mengapung di danau tersebut, mengharap para pengunjung yang kebetulan berada di dermaga atau di kapal untuk melemparkan uang logam. Anak-anak ini akan berteriak-teriak “kasih uang limpul lah pak, ibu, kakak, oppung, tulang, namboru” apa saja yang menggugah hati para pengunjung agar menjatuhkan uang logam ke dalam air. Dalam sehari mungkin mereka akan mendapatkan 5000 rupiah, atau bisa jadi tidak ada yang menjatuhkan uang limpul sama sekali.

Seorang wisatawan bersiap melemparkan uang logam kepada seorang anak yang berenang di kawasan Pelabuhan Ajibata, Danau Toba, Toba Samosir, Sumut.
Seorang wisatawan bersiap melemparkan uang logam kepada seorang anak yang berenang di kawasan Pelabuhan Ajibata, Danau Toba, Toba Samosir, Sumut. (Foto: Google Image)

Ketika melewati tempat ini dan menyaksikan hal ini, sering tersirat dibenak kita “Mengapa ya anak-anak ini tidak dilatih jadi atlit perenang, baik itu perenang nasional maupun internasional?” Fasilitasnya sudah punya, kolam renang yang terpanjang dan yang terlebar didunia. Anak-anak, yang sudah mampu terendam dalam air berjam-jam dan bisa menahan nafas dalam air dalam jangka lama. Baju renangpun mungkin ngga perlu pake yang mahal-mahal, hanya butuh cawat saja sudah cukup. Yang dibutuhkan sekarang hanya 2 tiga orang guru berenang, dan mungkin satu kapal kecil yang berfungsi sebagai P3K.

Coba, kalau semua daerah di wilayah Danau Toba ini bisa menyadari potensi kemajuan anak-anak daerah ini melalui olah raga, alangkah indahnya kalau suatu saat kontingen Olympic berenang Indonesia berasal dari pinggiran Danau Toba. Di daerah ini ada fasilitas, namun tidak ada bimbingan.

Selain membuka pintu agar anak-anak bisa jadi perenang, tempat ini juga bisa dikembangkan jadi lokasi ski air, atau berlayar dan mendayung perahu (canoeing). Tapi apakah memang potensi ini betul-betul tidak pernah disadari oleh pemerintah-pemerintah daerah di sekitar Danau Toba?

Badminton yang dulunya adalah kejayaan dan milik Indonesia, sekarang sudah tidak tau lagi ujung tanduknya. Negeri kita ini sekarang sudah lebih senang menonton dari pada bermain. Kalau sudah bisa nonton permainan di TV, di Warnet, dan bisa komentar-komentar mengenai game-game internasional di media sosial, sudah merasa keren dan merasa maju. Payah!!

Ketika kita menonton team sepak bola kegemaran kita menyekor “gol”…. bisa jadi kita loncat di udara dengan kegembiraan yang dasyat, namun…. tidak ada kegembiraan yang paling dasyat dari kegembiraan yang menggambarkan permainan yang kita lakukan sendiri, sekalipun itu misalnya hanya keberhasilan memanjat tiang licin pada saat perlombaan-perlombaan 17 Agustusan.

Marilah kita ajari generasi muda Tanah Batak untuk jadi pemain olah raga yang bisa berdisplin, agar mereka juga menjadi pemimpin yang disiplin nantinya. Horas.***

Editor: Tim WartaGAS
Sumber: bonanipasogit.wordpress.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.