Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Kota Siantar, Harapan saat Anomali

WARTAGAS.COM - Terpilihnya Jokowi menjadi presiden telah membangkitkan era pembangunan infrastruktur yang baru buat negara ini. Perlahan keraguan ditepis dengan aksi nyata sehingga perlahan oposisi mulai mendukung kebijakannya. Disusul dengan terpilihnya beberapa kepala daerah yang juga memiliki kompetensi yang mumpuni untuk membangun daerah masing-masing seperti Ahok, Risma, dll. Siantar perlu mencari sosok yang memiliki kecakapan seperti disebutkan diatas

Kota Siantar, Harapan saat Anomali
Jl. Merdeka, Kota Pematangsiantar (Foto: GAS)

Sosok calon walikota Pematang Siantar tentunya diharapkan bisa bersinergi dengan kepala daerah sekitarnya, bisa menjalankan fungsinya dalam mengawasi kinerja SKPD seperti yang dilakukan oleh Ahok dan juga memiliki kecakapan dalam memetakan perpolitikan di daerah sehingga legislatif dan eksekutif juga bisa bersinergi dengan baik.

Siapapun sosok walikota terpilih periode ini, berdasarkan pengamatan dengan interaksi dengan masyarakat ternyata tidak berharap walikota yang mengubah kota ini menjadi kota pendidikan, kota parawisata, kota perdagangan, apalagi kota industri. Siantar butuh berbenah dan mengejar beberapa ketertinggalan. Masyarakat Siantar secara umum lebih menginginkan kepala daerah memperhatikan pertanian dan peternakan walau lahan yang dibutuhkan untuk itu sudah sangat terbatas. Sementara sebagian masyarakat lain menginginkan kota Siantar mejadi kota transit perdagangan dan parawisata serta mengembalikan Siantar menjadi kota pelajar.

Sementara itu masyarakat juga lebih berharap adanya fasilitas publik, masyarakat lebih menginginkan sosok terpilih untuk memperbaiki anomali yang terjadi di Siantar. Jika ditelusuri lebih dalam lagi masyarakat secara umum bisa menemukan anomali yang ada di daerahnya, antaralain:

1. Jalan ke stasiun kereta api tak bisa dilalui truk. Hal ini disinyalir menyebabkan, angkutan barang dan jasa bergeser. Ongkosnya tentu naik.
2. Tidak memiliki stasiun televisi swasta nasional. Hal ini disinyalir karena perijinan dan untuk meningkatkan omset pedagang parabola. Parabola telah menjadi kebutuhan.
3. Tidak memiliki bioskop. Hal ini disinyalir karena pungli.
4. Angkutan Antar Kota Antar Provinsi berplat kuning sebagian tergusur kendaraan pribadi berplat hitam. Hal ini disinyalir karena permainan pebisnis transportasi angkutan umum.
5. Kehilangan letak strategis sebagai jalur lintas. Hal ini disinyalir terjadi karena beberapq kepala daerah sebelumnya gagal dalam mempertahankan letak strategis tersebut untuk pengembangan pbangunan infrastruktur jalan serta gagal bersinergi dengan kepala daerah sekitarnya.
6. Kehilangan predikat sebagai kota pelajar. Hal ini disinyalir karena kurang terjaganya standard mutu pendidikan yang berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.
7. Predikat kota kriminal mulai tersemat kembali khususnya narkoba dan jambret.

Akankah walikota terpilih dalam periode ini kemang sosok yang dibutuhkan masyarakat dan kota Siantar mari kita melipat ke lima jari kita berdoa, memohon kepada Nya. Sebab hanya doa yang bisa kita lakukan ditengah-tengah anomali pilkada Siantar yang masih tertunda.

Penulis: Sudin Maurid Sitindaon
Sumber: ‎Group Anak Siantar (GAS)
loading...

No comments

Powered by Blogger.