Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Orde Baru Lebih Baik? Silahkan Nilai saja Sendiri!!!

WARTAGAS.COM - Zaman Suharto itu sadar atau tidak sadar semuanya dikontrakkan kepada asing (Amrik). Dengan imbalan berbagai kekayaan tambang bebas dikelola oleh asing dan banyak yang akhirnya habis tanpa bisa mengangkat harkat dan derajat sebagian besar rakyat Indonesia. Karena dana yang mengucur ke rakyat dari pengelolaan tambang itu jatuh sesuka-suka hati penguasanya saja. Akhirnya rata-rata rakyat tetap miskin dan rata-rata pejabat beserta kroni-kroninya kaya-raya luar biasa.

Orde Baru Lebih Baik? Silahkan Nilai saja Sendiri!!! - Foto: Suharto
Suharto
Melalui tangan-tangan mafia Berkeley ekonomi jelas dikontrakkan kepada Amrik, kiblatnya sangat jelas, akibatnya segala hal tentang ekonomi dikuasai oleh Amrik, dan jaman itu belum ada keterbukaan. Rakyat tak tahu apa-apa tentang kondisi ekonomi negara. Tahunya tiba-tiba saja terjadi devaluasi nilai mata uang dalam persentase yang luar biasa besar. Ini terjadi berkali-kali, seriap devaluasi nilai mata uang RI hilang 50%, misalnya dari Rp. 400/USD tiba-tiba jadi Rp. 600/USD kemudian beberapa tahun jadi Rp. 900/USD, begitulah penanganan ekonomi RI di jaman orba. Tapi rakyat mana ngerti soal devaluasi, ngertinya cuma harga kebutuhan pokok tiba-tiba naik tinggi sekali. Kalau jaman keterbukaan seperti sekarang ini terjadi hal begitu (rupiah mendadak melemah 50%) hampir bisa dipastikan pemerintah akan jatuh, tapi jaman Suharto hal demikian terjadi berkali-kali secara rutin, sampai akhirnya Suharto jatuh saat 1 USD menembus angka Rp. 16.000, padahal saat pertama Suharto naik jadi presiden nilai 1USD = Rp. 200, jadi pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang Suharto berkuasa adalah sebesar 98,5% alias nilai rupiah hanya tersisa sebesar 1,5% saja. Jadi apa ekonomi RI bagus di jaman Suharto? Nilai saja sendiri.

Tapi jaman itu meski nilai rupiah anjlok berkali-kali kok jarang ada demo besar? Tentu saja, siapa berani demo kalau pengin selamat? Karena yang demo-demo bakal di cap sebagai PKI dan dengan stigma seperti itu artinya darahnya halal, dan contoh demo besar yang berakhir dengan tragis adalah saat terjadi peristiwa MALARI (malapetaka lima belas januari) tahun 1971, 5 tahun setelah Suharto berkuasa, ribuan orang ditangkap dan dipenjara. Jadi benarkah rakyat puas saat Suharto berkuasa, tentu saja tidak puas sama sekali, makanya terjadi peristiwa MALARI itu diawal-awal kekuasaan Suharto. Tapi setelah itu orang-orang tak lagi berani demo, karena hanya bikin petisi saja para penandatangannya sudah pada ditangkapi, itu terjadi tahun 1978 saat 50 tokoh masyarakat bikin petisi 50.

Disamping yang tak puas dengan pemerintahan Suharto tentu ada sebagian kecil pengecualian, mereka sangat puas dan senang dengan Suharto, mereka itu para bawahan, antek dan para kroni Suharto yang mendapat bagian kuwe besar sebagai partner Suharto. Mereka menjadi sangat kaya-raya, sebagian menerima secara gratis macam HPH (Hak Pengelolaan Hutan) yang luasnya mencapai jutaan hektar. Sebagian lagi menerima dalam bentuk fasilitas kemudahan, termasuk monopoli, siapa yang menerima terbanyak? Tentu saja keluarga Suharto, proyek-proyek raksasa yang seharusnya sahamnya dikuasai oleh begara macam jalan tol harus dipegang oleh keluarga Suharto, modalnya dari mana? Tentu dari negara, aneh memang, semua fasilitas dimiliki oleh negara, tapi sahamnya dikuasai oleh keluarga penguasa, juga ada proyek mobil nasional yang akhirnya gagal total. Bahkan negara diamputasi untuk urusan jual beli minyak, semua harus lewat keluarga dan kroni penguasa, termasuk juga bahan pokok macam terigu dan semen, padahal jelas negara lebih mampu mengurus, tapi diberikan kepada swasta.

Banyakkah yang dibangun Suharto di jamannya? Penilaiannya sangat relatif, untuk memudahkan harus ada perbandingannya. Tahun 70an sd. 90an adalah masa-masa pembangunan sedang gencar-gencarnya di banyak negara, terutama negara-negara Asia, tapi yang dibangun Indonesia di jaman itu relatif sangat sedikit. Coba kita lihat tetangga dekat macam Malaysia, Vietnam, Thailand, Tiongkok, Korea, Singapura dll, mereka sangat banyak membangun dibanding Indonesia. Kalau kita berkunjung ke sana baru akan terbuka mata dan sadar, ternyata Indonesia sudah ketinggalan jauh. Banyak negara dulu penghasilan penduduknya di bawah Indonesia, tapi mulai tahun 80an sd. 90an mereka ngebut, ngejar Indonesia dan meninggalkan jauh.

Keamanan negara jaman Suharto memang terjamin, dengan catatan yang dijamin itu semua orang-orang yang manut saja. Kalau yang berani protes jangan harap bisa dijamin, sekarang protes mungkin besok sudah hilang jiwa raganya. Padahal sesunnguhnya bahan untuk protes itu sangat banyak, diantaranya soal penanganan ekonomi yang secara rutin terjadi devaluasi nilai mata uang dan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi secara rutin pula yang merupakan efek devaluasi itu.

Jaman itu negara benar-brnar dikendalikan oleh Amrik, karena sesuatu hal Indonesia diembargo beli persenjataan modern dari Amrik dan Mentri Ginanjar berangkat ke Rusia, pulangnya dia umumkan, tak perlu kuatir lagi soal pesawat tempur canggih, Indonesia sudah pesan belasan pesawat Sukhoi dari Rusia sebagai pengganti skuadron F16 yang sudah tua-tua dan Amrik tak mau jual suku cadangnya sehingga pesawat-pesawat itu tak lagi bisa terbang. Nah marahlah Amrik sejak itu, hanya dalam sekejap saja negara kocar-kacir, kerusuhan dimana-mana dan ekonomi langsung ambruk. Akhirnya Suharto pun ambruk, semua itu menandakan bahwa jaman Suharto itu sesungguhnya negara dalam kondisi sangat lemah, kelihatan kuat dan aman hanya karena ditopang oleh Amrik, dengan imbalab kekayaan alam, sampai banyak tambang-tambang dikuras habis tapi duitnya hanya menetes yang jatuh ke rakyat dan mengucur deras untuk para penguasanya.

Jadi meski kelihatan sangat kuat, bisa jadi Suharto saat itu hanya presiden boneka saja yang didudukkan oleh Amrik supaya Amrik bisa mengeksploitasi kekayaan kita sebesar-besarnya tanpa halangan apapun. Pantaskah Suharto disebut pahlawan? Bagi sebagian kecil orang tentu pantas, karena mereka telah menerima sangat banyak, tapi bagi sebagian besar rakyat? Entahlah.

Keluarga Suharto juga ikut menikmati kejatuhan Suharto, sekarang dia bebas dan aman teriak-teriak minta gelar pahlawan nasional untuk bapaknya. Jaman dulu ada orang diperiksa tentara gara-gara mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk Soekarno dan sampai diturunkan Suharto tak pernah memberi gelar pahlawan nasional untuk Soekarno, hanya memberi gelar pahlawan proklamator sebagai hiburan. Itu gelar yang tak ada acuannya di dunia, faktanya memang Soekarno adalah proklamator, semua orang tahu itu, gelar pahlawan nasional untuk Soekarno baru diberikan di jaman SBY


Oleh: Liem Gin Tjiang
Sumber: Facebook Liem Gin Tjiang
loading...

No comments

Powered by Blogger.