Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Cemari Danau Toba, PT Aqua Farm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka Harus Bertanggungjawab

WARTAGAS.COM - Usaha budi daya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) yang digeluti PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka (grup PT JAPFA) dianggap mencemari Danau Toba dengan membuang limbah pakan ternak ke danau hingga kualitas air danau makin buruk.

Keramba milik PT SUri Tani Pemuka di Danau Toba - Foto: Ist.

Robert Paruhum Siahaan, Ketua Tim Litigasi Yayasan Pencinta Danau Toba, mengatakan, setelah pengkajian langsung kondisi danau, mengambil sampel air pada 22 titik dan menguji di Sucofindo– dianggap lembaga independen untuk meneliti kualitas air–, ditemukan pencemaran kualitas air danau.

Selain sampel air di Lottung, Samosir, juga di usaha keramba milik Aquafarm dan Suri Tani. Pemeriksaan laboratorium antara lain analisa kimia, fisika, mikrobiologi. Untuk parameter fisika, dianalisis suhu, residu terlarut, dan residu tersuspensi.

Dari hasil pemeriksaan, kualitas air danau melewati ambang batas air kualitas kelas satu. Ia tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 dan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 1 tahun 2009, menyatakan, pembudidayaan ikan air tawar, di air kualitas kelas dua atau tiga.

Untuk parameter kimia, dianalisis antara lain adalah Ph, COD, BOD, oksigen terlarut, pospat, nitrat, amoniak bebas, arsen, clorin bebas, kobal, barium, crom, tembaga, senyawa besi (Fe), Seng (Zn) timbal dan mangan.

Hasilnya, kata Paruhum, dari pemeriksaan laboratorium Secofindo ditemukan Ph air sampel di danau 8,45, standar 6-9. BOD hasil laboratorium 2,1 mg/l, standar dua mg/l. COD 13, 5 mg/l, standar maksimal 10 mg/l. Untuk amoniak bebas 0,18 mg/l, standar maksimal 0,5 mg/l.

Paruhum mengatakan, hasil laboratorium Sucofindo sangat jelek dan air danau tercemar limbah pakan ternak keramba jaring apung, terutama dua perusahaan itu sudah beroperasi bertahun-tahun.

“Perusahaan keramba jaring apung beroperasi di Danau Toba dengan kualitas air kelas satu. Itu jelas melanggar peraturan dan perundang-undangan,” katanya.

Dia bilang, kepolisian juga harus memeriksa perusahaan keramba jaring apung lain yang belum mereka laporkan. Ada dugaan, mereka lakukan hal serupa, membuang limbah pakan ternak ke danau hingga kualitas air buruk.

Dengan begitu, air danau yang dulu untuk keperluan warga sehari-hari sudah mengandung racun. Kala buat mandi pun, tubuh bisa gatal-gatal.

“Ini mengerikan. Dua perusahaan besar ini harus bertanggung jawab,” ujar Paruhum belum lama ini.

Dia menyayangkan, Pemerintahan Simalungun mengabaikan Badan Lingkungan Hidup Sumut yang merekomendasikan agar tak ada lagi penambahan keramba jaring apung. Meski sudah ditetapkan, Pemerintahan Simalungun tetap tak mengindahkan. Malah malah tetap memberikan izin, hingga keramba bertambah bukan berkurang.

“Walau sudah ada rekomendasi tak mengeluarkan izin keramba, tak diindahkan Pemerintah Simalungun. Okelah, ini otorita daerah, kalau tanah dataran bisalah dikatakan otorita, kalau air kan gakbisa dibatasi, akan berpindah-pindah.”

Belakangan, katanya, di danau mulai banyak lintah, padahal sebelumnya tak tampak berkembang pesat. Dua bulan lalu, katanya, turis mendapati lintah-lintah di danau.

Belum lagi, ada warga mengalami gatal-gatal pada tubuh saat mandi, terutama dekat keramba. “Bukti nyata kerusakan lingkungan dan dampak negatif keramba jaring apung ikan tawar di Danau Toba.”

Keramba jaring apung di Danau Toba. Foto: Sapariah Saturi
Keramba jaring apung di Danau Toba. Foto: IST

Data dari Badan Lingkungan Hidup Sumut, sejak 2013, ada sekitar 8.912 keramba jaring apung di Danau Toba, dengan rincian 8.428 unit milik masyarakat dan 484 punya perusahaan yaitu Aquafarm.

Hidayati, Kepala BLH Sumut, mengatakan, setidaknya ada 1,5 ton limbah perikanan setiap tahun di Danau Toba. Limbah dari keramba Aquafarm ini terbesar dengan jumlah 1,9 ton.

“Dari pemeriksaan laboratorium yang kita lakukan, limbah perikanan yang dibuang dalam Danau Toba itu mengandung unsur senyawa kimia BOD, COD dan Fosfor diatas rata-rata. Ini harus ditekan agar pencemaran air tak makin parah.”

Hidayati menjelaskan, ada sembilan titik masih ditemukan keramba di sekitar Danau Toba, yaitu di Silalahi II (300 unit), Silalahi III (40), Paropo (400) dan Soalan (185).

Di Haranggaol, dimana ada jutaan ikan mati beberapa waktu lalu, ditemukan setidaknya 6.768 keramba. Di Tongging 500 keramba dan Panahatan ada 100 unit, Tigaras 85 keramba serta Sibaganding 50 unit.






Laporan: Tim
Sumber: Siantarnews
loading...

No comments

Powered by Blogger.