Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

STTC Dibuat "GAOR-GAOR SIBAK" - Masih Seputar Fenomena STTC Siantar

STTC Dibuat "GAOR-GAOR SIBAK" - Masih Seputar Fenomena STTC Siantar
PT STTC - Foto: Wartagas.com / Lintaspublik.com


Oleh: Rikanson J Purba
.
Di Simalungun, ada yang dinamakan "sibak". Itu tuh, daging duren yang terlalu mateng, kayak lempok di Palembang. Saking matengnya, kayak bubur, akhirnya dijadikan sambal dengan menambah cabe merah yang digiling halus. Plus garam dan "ittir-itir" (andaliman).

Kalau lihat teksturnya sih, agak gimana-gimana gitu, tapi kalau sudah dicolek kayak menyolek sambal, maknyus pokoknya. Mertua lewat tak akan kelihatan.

"Sibak" dikacau sedemikian rupa sehingga tampak seperti bubur. Jadi, banyak hal yang dikacau sedemikian rupa, sehingga tidak bisa dibedakan lagi unsur-unsur yang digabung, disebut "gaor-gaor sibak".

STTC ini sudah "gaor-gaor sibak" juga. Perhatikan bahwa ada beberapa hal yang "digaor" begitu saja:
1) Persoalan ruang, karena industri berada di permukiman (yang benar sih, permukiman yang mengelilingi industri)
2) Masalah gangguan kesehatan penduduk akibat polusi pabrik STTC
3) Masalah besaran PAD & CSR yang tidak jelas.

BACA JUGA: Keberadaan PT STTC Berdampak Positif Pada Pertumbuhan Ekonomi Bagi Warga Sekitar

Jadi, kalau ada orang yang "manggaor sibak" tapi asal "gaor-gaor" saja, berabe jadinya. "Manggaor sibak" harus diserahkan kepada ahlinya. Yah..., orang Palembang yang biasa bikin lempok-lah atau orang Silau Kahean (Panadol = par Nagori Dolog) & orang Raya Kahean (Sindar Raya) yang biasa mengerjakannya. Jangan deh diserahkan kepada "pardosa" (par Dolok Sanggul), karena mereka kenal "sibak" aja tidak.

BACA JUGA: "Perpindahan PT. STTC Hanyalah Kepentingan Beberapa Orang Saja", Kata Mereka

Jadi, persoalan/masalah:
1) Ruang, tidak begitu saja menyuruh pabrik STTC yang di Jl. Pdt Justin Sihombing (di)pindah(kan). Emang mau pindah ke mana? Selesaikan dulu perda tata ruangnya dong (RTRW > RDTR). Ini gawean eksekutif & legislatif.

2) Gangguan kesehatan akibat polusi, Dinas Lingkungan Hidup Siantar menyatakan masih dalam batas wajar. Tp bagi masyarakat, hal ini gelap, kaerna tidak transparan. Siapa yang melakukan pengujian? Berapa kadar polusi (biasanya dalam satuan "ppm") dan berapa rentang/batas normalnya? Eh, siapa tahu ada "86" di situ?

3) PAD & CSR, bahkan Adiaksa Purba yang Kepala Badan saja tak tahu persis angka pendapatan Kota Siantar dari STTC (PBB, cukai tembakau, dll), apalagi kita masyarakat biasa. Rp 250 juta per thn atau thn 2016 saja? Tak jelas. Demikian juga CSR, berapa? Diberikan kepaad siapa saja? Kapan diberikannya? Semua gelap...!

BACA JUGA: Terungkap Bahwa Warga Sekitar PT. STTC Tidak Setuju Perusahaan Dipindahkan

Jd, orang yang hanya menilai masalah ini hanyalah soal CSR, itulah yang sedang mengerjakan "gaor-gaor sibak". Seolah jika semua dana CSR itu diserahkan sama dia, tak ada masalah menyangkut STTC ini.
.
Begitukah???


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI




Sumber: Group Anak Siantar (GAS)
loading...

No comments

Powered by Blogger.