Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

AHOK, Korupsi dan Semanggi

AHOK, Korupsi dan Semanggi


Oleh: Sunardian Wirodono

Simpang Susun Semanggi akan diresmikan 17 Agustus 2017. Proyek revitalisasi Jembatan Semanggi ini, digagas Ahok untuk mengurangi setidaknya 30% beban kemacetan di putaran arus jalan itu.

Pembiayaan proyek Pemprov DKI Jakarta ini sekitar Rp 350 milyar, dimulai April 2016. Sama sekali tak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Proyek ini tak membebani uang rakyat DKI. Bagaimana bisa?


Berdasarkan catatan Pemprov DKI Jakarta, proyek infrastruktur ini dibiayai dana kompensasi kelebihan koefisien luas bangunan (KLB) dari PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company. Dengan demikian, dana APBD bisa digunakan untuk membiayai program lain, seperti subsidi angkutan umum hingga biaya pendidikan.


Gubernur DKI Jakarta Ahok mendapat pujian Presiden Joko Widodo, karena dinilai cerdas mencari sumber pendanaan SSS itu. Sementara kita tahu, proyek e-KTP (2010-2012) menghabiskan Rp 5,9 trilyun dan nilai yang ditilep para maling sekitar Rp 2,3 trilyun. Siapa malingnya? Sangat mungkin justeru para anggota DPR yang membabi-buta membela diri dengan membentuk Hak Angket dan Pansus KPK, Anggaran untuk itu sebesar Rp 3,1 milyar.


Bayangkan, duit sudah dikorupsi, proyek tak selesai, negara masih harus mengeluarkan duit untuk kepentingan para maling itu sendiri. Banyak kasus korupsi, yang jika dijumlahkan, negara dirugikan entah berapa ratus triliun. Tak heran DPR dicap sebagai sarang koruptor. Survei terbaru 2016, menempatkan DPR sebagai lembaga paling korup di Indonesia.


Ahok mematahkan konsep dan budaya yang sudah biasa terjadi di negara ini. Korupsi begitu wajar, seperti kata Fadli Zon korupsi sebagai olie pembangunan. Sementara Ahok membuat kita mengerti kemungkinan membangun tanpa APBD DKI. RPTRA Kalijodo salah satu bukti, dibangun dengan menggunakan dana CSR perusahaan.


Jika selama ini anggaran sering dikorupsi, maka serapan anggaran yang rendah dipermasalahkan. Padahal itu artinya anggaran tidka keluar, peluang korupsi ditutup. Bagi yang hobi korupsi, itu bukan hal menyenangkan. Ahok menutup keran jalur korupsi dengan cara menggunakan jalur non-APBD (jika memungkinkan), sehingga ada beberapa yang kalang kabut.


Pihak-pihak yang “dirugikan” inilah, kemudian menebar pesona dengan menjungkir-balikkan fakta. Mereka-reka kasus Ahok melakukan tindak korupsi dan sebagainya, meski semuanya tiada disertai bukti valid, terus menuding KPK tebang pilih.


Ahok dibenci dan disumpahi karena terlalu pelit, hingga sulit bagi siapa pun korupsi. Ahok yang keturunan Cina dan non muslim, dituding jauh lebih berbahaya dibanding Ahok yang telah menyelamatkan dan menghemat anggaran negara. Ahok yang Cina dan non muslim dianggap jauh lebih hina ketimbang mereka yang korupsi. Sementara HT coba dibela dan dibelokkan hanya sekedar kasus ancaman SMS HT, bagaimana berita soal penggelapan pajaknya senilai Rp 81 milyar?

Terimakasih Ahok, engkau lebih mulia dari musuh-musuh dan pemfitnahmu.

LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Sumber: Akun Facebook Sunardian Wirodono
loading...

No comments

Powered by Blogger.