Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

BAH! Jautir Simbolon Abang Kandung Bupati Samosir Dilaporkan Menganiaya Aktivis Lingkungan YPDT

WARTAGAS.COM - Petugas Sat Reskrim Polres Samosir mengaku sedang menyelidiki kasus dugaan tindak pidana yang dialami Sebastian Hutabarat dan Johannes dari aktivis pencinta lingkungan Yayasan Pencinta Danau Toba yang bertempat tinggal di Balige. Dalam laporan resmi di Polres Samosir, keduanya melaporkan terkait adanya dugaan penganiayaan yang dilakukan abang Bupati Samosir, Jautir Simbolon (JS), dkk.

BAH! Jautir Simbolon Abang Kandung Bupati Samosir Dilaporkan Menganiaya Aktivis Lingkungan YPDT
Ilustrasi

Ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler, Kamis (17/8), Kapolres Samosir AKBP Donal Simanjuntak mengatakan, sesuai laporan keduanya, Selasa (15/8) lalu, korban mengaku tempat kejadian perkara (TKP) penganiayaan tersebut di lokasi Galian C Dusun Silimalombu, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir.

"Polres Samosir sudah menerima pengaduan para korban. Saat ini kami sedang proses dan lakukan pendalaman," ujarnya, seperti yang dilansir oleh Hariansib.co

Ditambahkan, terkait kasus itu pihaknya sudah melakukan visum et repentum di rumah sakit. Selain itu, akunya, penyidik juga sudah memeriksa para korban dan saksi-saksi. Untuk melengkapi proses penyelidikan dasar, pihaknya juga sudah melakukan olah TKP.

Dijelaskan, hingga saat ini penyidik masih memerlukan beberapa keterangan saksi lagi. Hal itu diperlukan untuk dapat segera meningkatkan penanganan kasus itu ke tahap selanjutnya, disertai penetapan status terhadap oknum yang dilaporkan tersebut.

"Dalam hal ini, Polres Samosir tetap melaksanakan penyidikan sesuai prosedur yang berlaku. Kami pastikan, penanganan kasus itu akan dilakukan secara profesional, proporsional dan transparan," tegasnya.

Informasi diperoleh, pegiat lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba Sebastian Hutabarat dan Johannes Marbun mengalami penganiayaan di Onanrunggu, Selasa (15/8). Saat diwawancara, Johannes Marbun mengaku, penganiayaan itu bermula saat keduanya berkeliling dan memasuki areal tambang milik JS.

Saat keduanya terlibat perbincangan dengan JS, tiba-tiba diskusi memanas saat menyinggung soal penolakan tentang tambang batu yang dikelola JS. Tiba-tiba, akunya, JS marah dan mengeluarkan kata-kata kasar. Selanjutnya, penganiayaan dialami korban saat hendak meninggalkan lokasi.

TIDAK MENYANGKA
Sementara itu Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba(YPDT), Johannes Marbun (37), tidak menyangka bahwa mereka akan dipukul JS.

Pasalnya, dia dan Sebastian Hutabarat (47), sudah permisi baik-baik dari base camp milik Jautir Simbolon setelah sempat beberapa waku berdiskusi tentang berbagai hal termasuk soal kegiatan penambangan batu yang dikuatirkan merusak lingkungan. "Kami dikejar setelah 10 meter keluar dari base camp milik JS, dan kurang lebih 10 orang yang mengejar," kata Johannes.

Dijelaskannya, setelah dikejar, sejumlah pelaku mencoba melorotkan celana Sebastian. "Melihat hal itu, saya mencoba menghalangi aksi tersebut. Namun Jautir Simbolon, justru memukul saya hingga terjatuh. Bahkan setelah berdiri, Jautir Simbolon dan pelaku lainnya kembali menganiaya saya sampai baju saya ikut koyak", kata Johannes.

Menurut Johannes, dia dipukul JS pertama kali di bagian pelipis kanan. Saat itu Johannes terjatuh dan diseret hingga pakaiannya robek dan sudah dijadikan sebagai alat bukti oleh kepolisian.

"Diperkirakan ada 10 orang yang memukuli kami, termasuk JS", tambah Johannes.

Kemudian dia berlari ke arah rumah kepala desa bermaksud meminta bantuan yang jaraknya sekitar 50 meter dari lokasi penambangan batu tersebut.

"Kejadiannya sangat cepat. Padahal kami sudah bagus-bagus permisi dan malah bersalaman, namun tak tahunya kami dikejar dan diperlakukan sekasar itu, dan selanjutnya saya meminta bantuan dan berlari ke arah rumah kepala desa. Sementara saat kejadian, sekretaris desa berada di lokasi kejadian dan sebenarnya sudah berusaha melerai,"terang Johannes.

Ia melanjutkan, peristiwa penganiayaan itu berlangsung kurang lebih setengah jam. Setelah istri kepala desa datang ke lokasi, karena kepala desa sedang keluar, dia bersama Sebastian kemudian dibawa ke rumah kepala desa. "Tetapi, disana kami berdua masih terus mendapat tekanan dari anak buah Jautir Simbolon, dengan macam ancaman seperti membunuh atau lainnya. Dan di situ kami juga sempat diajak berdamai, namun kami tidak mau. Memang diajak berdamai. Tetapi kami tidak mau karena tindakan itu bisa saja terjadi kepada siapa pun,"ujarnya.

Kapolres Samosir AKBP Donald Simanjuntak kepada wartawan via Whatsapp, Kamis (17/8) mengatakan, Polres Samosir sudah menerima pengaduan mereka dan saat ini pihaknya sedang melakukan pendalaman peristiwa tersebut.

"Polres Samosir sudah melakukan visum ke rumah sakit, pemeriksaan terhadap korban dan saksi, serta melakukan cek TKP,"kata Kapolres.

Sesuai STPL (Surat Tanda Penerimaan Laporan Polres Samosir, tertera Bripda Roberto Manalu selaku penyidik yang menerima laporan pengaduan atas nama Sebastian Hutabarat dengan laporan polisi nomor: LP/117/VIII/2017/SMR/SPKT tanggal 15 Agustus 2017.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI




Sumber: Harian SIB
loading...

No comments

Powered by Blogger.