Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Gerejanya Disegel dan Diancam Bakar, Puluhan Jemaat HKBP Dolok Jetun Datangi Poldasu

WARTAGAS.COM - Puluhan jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Dolok Jetun Tanjungmorawa mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapoldasu, Senin (21/8). Kedatangan jemaat yang didominasi ibu-ibu itu untuk melaporkan dugaan tindak pidana penyegelan dan pengancaman pembakaran gereja yang dilakukan sejumlah pria, diduga suruhan pengusaha berinisial HH, Senin (21/8) pagi.

Gerejanya Disegel dan Diancam Bakar, Puluhan Jemaat HKBP Dolok Jetun Datangi Poldasu
Kapoldasu Irjen Pol Paulus Waterpauw - Foto: hariansib.co

Melansir dari Hariansib.co, kepada awak media, di Mapoldasu, salah seorang jemaat, J Sibarani (69) warga Jalan Batangkuis, Kecamatan Tanjungmorawa mengatakan, aksi penyegelan gereja sudah berulang kali dilakukan Dogong CS yang diduga suruhan HH. Bahkan, tahun 2015 lalu para pelaku sempat menutup akses jalan gereja yang berada di Desa Buntubedimbar, Tanjungmorawa, Deliserdang itu dengan seng.

"Kejadian itu sudah kami laporkan ke Polres Deliserdang dan polisi sudah menyita barang bukti seng dan kayu, tapi hingga saat ini tidak ada tindak lanjutnya," ujar Sibarani.

Pensiunan Polri itu menambahkan, selang beberapa hari aksi itu kembali berlanjut dan sudah dilaporkan kembali ke pihak kepolisian. Sangat disayangkan, pada tahun 2016 para pelaku kembali memasang plank bertuliskan "Mitra Kerja Poldasu" di belakang gereja mereka. Kejadian itu, juga sudah dilaporkan pihak gereja ke Polsek Tanjungmorawa tidak jelas proses hukumnya.

Disebutkan, aksi serupa terus berlanjut hingga akhirnya para pelaku datang dan hendak memagari gereja pada, Senin (21/8) sekira pukul 09.00 WIB. Mendapati itu, pengurus gereja membunyikan lonceng yang membuat para jemaat berdatangan ke lokasi. Saat itu, ucapnya, para pelaku didapati sudah mencangkuli tanah untuk memasang pondasi pagar. Ketika para jemaat menghalangi aktivitas para pelaku, para pelaku bahkan mengancam akan membakar gereja tersebut.

"Tadi mereka datang dan mencangkul tanah di sekitar gereja untuk memasang pondasi pagar. Kami datang ke lokasi setelah mendengar lonceng gereja berbunyi. Ketika kami menghalangi aksi mereka para pelaku, bahkan mengancam akan membakar gereja kami. Makanya kedatangan kami yang sebagian besar masih menggunakan pakaian seadanya ini ke Poldasu untuk melaporkan kejadian itu, sekaligus meminta keadilan dari Kapoldasu. Namun sayangnya, pihak SPKT tidak mau menerima laporan kami dengan sejumlah alasan yang tidak masuk akal," tambahnya.

Mendapati laporan dari wartawan bahwa laporan para jemaat itu tidak ditanggapi, Kapoldasu Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw yang saat itu baru selesai memaparkan pengungkapan kasus penghinaan Presiden RI Jokowi dan Kapolri langsung mendatangi SPKT Poldasu untuk mendengarkan laporan para jemaat.

Mendengar curahan hati (Curhat) para jemaat, Kapoldasu berjanji akan menindaklanjuti kasus itu dan memberikan keadilan pada para jemaat itu. Bahkan, mantan Kapolda Papua itu memerintahkan Direktur Ditreskrimum Poldasu Kombes Pol Nurfallah dan Kapolres Deliserdang AKBP Robert Da Costa untuk menindaklanjuti laporan itu.

"Bapak dan ibu jangan takut, saya akan tindaklanjuti laporan anda. Saya jamin kebebasan bapak dan ibu dalam menjalankan ibadah. Tetap semangat dan kami akan menindaklanjuti hal itu. Tuhan Yesus memberkati," sebutnya.

Diwawancarai terpisah, Wakil Ketua DPRD Deliserdang Apoan Simanungkalit SE yang juga merupakan panitia pembangunan gereja menyebutkan, pihaknya meminta polisi mengambil tindakan tegas terkait kasus dugaan pengancaman dan tindak persekusi itu, termasuk mengungkap keterlibatan aktor intelektual dalam aksi yang sudah berulangkali terjadi itu.

"Tindakan pemagaran gereja sudah kami laporkan ke Mapolres Deliserdang dengan No : STPL/223/IV/2015/SU/Res DS tanggal11 April 2015. Gereja ini sudah berdiri selama 30 tahun didukung surat Gubernur Sumut tanggal 17 Mei 1990 dengan No : 452.2/11312, perihal pembangunan gereja Desa Buntubedimbar dan Desa Helvetia, Deliserdang. Kemudian pada tanggal 23 Oktober 1990, Dirut PTPN IX membuat surat No : 9.3/X/8660/1990, tentang pembangunan gereja HKBP Dolok Jetun. Selama ini, HH hanya menunjukkan surat usang dan tidak berlaku lagi," jelasnya. (Hariansib/WG)


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI


loading...

No comments

Powered by Blogger.