Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Nyonya Meneer Tak Sanggup Berdiri Lagi, dan Dipailitkan

WARTAGAS.COM - Perusahaan jamu PT Nyonya Meneer dipailitkan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Semarang, disebabkan kegagalan membayar kewajiban utang terhadap kreditornya. Hal tersebut disampaikan oleh juru bicara PN Semarang M. Sainal yang membenarkan putusan pailit telah dijatuhkan dalam sidang pada Kamis, 3 Agustus 2017 lalu.

Nyonya Meneer Tak Sanggup Berdiri Lagi, dan Dipailitkan
Nyonya Meneer - Foto: wikipedia/tempo

"Putusannya mengabulkan permohonan membatalkan putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang," ujar Sainal, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 4 Agustus 2017.

Adapun sidang putusan permohonan pailit tersebut dipimpin oleh Hakim Ketua Nani Indrawati. Gugatan pailit itu awalnya diajukan oleh salah satu kreditor asal Kabupaten Sukoharjo yang bernama Hendrianto Bambang Santoso.

Pemohon menyatakan PT Nyonya Meneer tidak memenuhi kewajiban untuk membayar utangnya sebesar Rp 7,04 miliar. Sainal menuturkan dari pembatalan tersebut dinyatakan PT Nyonya Meneer pailit. "Atas putusan tersebut, telah ditunjuk kurator untuk menyelesaikan kewajiban Nyonya Meneer kepada para kreditor," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro berujar dipailitkannya perusahaan merupakan hal wajar di dunia usaha. "Intinya perusahaan datang dan pergi,” tuturnya, di kantornya. “Di AS pun toko buku sebesar Barnes and Noble sudah hampir menghentikan usahanya.”

Menurut Kepala Bappenas ini, suatu perusahaan gulung tikar sejalan dengan proses perubahan atau kemajuan zaman yang menuntut manajemen perusahaan mengikuti kecepatan bisnis modern. "Kalau soal jamu, kita lihat ada merek lain yang disebut bisa melakukan adjustment dengan baik, keuntungan dan omzet pun meningkat," ujarnya.

Lebih jauh, Bambang mengatakan di era persaingan ketat saat ini hanya perusahaan berdaya saing baik yang dapat menjaga kemampuan dan melihat peluang usaha yang dapat bertahan. "Di negara maju seperti AS pun banyak perusahaan besar tidak berdaya menghadapi gejala perubahan yang luar biasa dan kemudian menggantikan peran mereka," ucapnya.

Kekuatan yang dibutuhkan oleh perusahaan saat ini, menurut Bambang, adalah kemampuan dalam beradaptasi terhadap perubahan teknologi, zaman, permintaan, dan gaya hidup. Permintaan konsumen saat ini misalnya bisa berubah sewaktu-waktu dari pembelian langsung secara fisik menjadi pembelian online yang lebih mudah. "Kita nggak bisa menyalahkan dunia usaha lesu kalau transaksi tetap berjalan." (Tempo/WG)


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



loading...

No comments

Powered by Blogger.