Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Renungan: Antara Gereja dan Negara (Roma 13:1-7)

Renungan: Antara Gereja dan Negara (Roma 13:1-7)


Pendahuluan:

Sejak awal tahun tema yang diangkat adalah tentang "gereja". Berbagai dimensi tentang gereja sudah dibahas. Hari ini kita akan membahas dimensi yang lain yaitu antara gereja dan negara. Ini dimensi yang jarang sekali dikhotbahkan karena kurang menarik bagi kebanyakan orang, mungkin karena sudah terlanjur apatis dengan pemerintahan karena dianggap gagal mensejahterakan warganya. Melalui Firman Tuhan hari ini, kita akan belajar bagaimana kita harus bersikap terhadap negara.

Isi:

Bangsa Romawi merupakan bangsa yang sangat toleran kepada kepercayaan-kepercayaan lain. Kepercayaan bangsa Romawi bersifat animistis, mereka menyembah roh-roh dari hutan, sungai, gunung, dan alam. Sekalipun mereka memiliki kepercayaan sendiri, kekaisaran Romawi memiliki ideologi/gagasan/pemikiran yang membuat mereka bisa hidup berdampingan dengan agama lainnya. Mereka bukan sekedar toleransi, tetapi mereka juga mengadopsi dewa atau dewi agama lain menjadi tambahan dewa atau dewi mereka. bahkan Kaisarpun menjadi objek penyembahan mereka.

Kondisi inilah yang mempersulit kehidupan umat Kristen dan Yahudi yang hanya mau menyembah satu Allah saja. Kehadiran dewa-dewi yang begitu banyak sudah merupakan ancaman bagi orang-orang Yahudi, ditambah dengan kewajiban untuk menyembah Kaisar.

Kaisar Nero melihat orang Kristen sebagai bahaya besar bagi kelangsungan kekaisaran Romawi karena jumlah mereka yang semakin besar dan persembahan kurban yang semakin hari semakin sedikit. Nero melihat apabila orang Kristen tetap diberi kebebasan dalam beribadah, maka akan semakin banyak pengikut mereka. Kaisar Nero menerapkan sikap bermusuhan terhadap orang Kristen. Ia merestui penganiayaan terhadap orang Kristen. Orang Kristen dianiaya dengan sangat ngerinya, misalnya dilabur dengan gala-gala lalu dibakar hidup-hidup dan dijadikan obor pada pesta malam.

Ini menjadi latar belakang adanya pemberontakan dari kaum Zelot. Mereka yakin bahwa tidak ada raja bagi orang-orang Yahudi kecuali Allah; dan upeti tidak dibayarkan kepada siapapun, kecuali kepada Allah. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan menolong mereka kecuali mereka memulai tindakan kekerasan untuk menolong diri mereka sendiri. Tujuan mereka ialah untuk meniadakan pemerintahan sipil. Mereka tidak hanya melakukan terror terhadap pemerintah Romawi, mereka juga menghancurkan rumah-rumah dan membakar tanaman dan membunuh sesama Yahudi yang membayar upeti kepada pemerintah romawi.

Mungkin Paulus menuliskan perikop ini untuk memisahkan kekristenan dari pemberontakan Yudaisme dan untuk menjelaskan bahwa kekristenan dan kewarganegaraan yang baik bisa bersahabat dan berjalan bersama-sama.



Ada 3 kebenaran yang diajarkan melalui perikop ini:

1. Kekuasaan adalah anugerah Allah.
Pemerintah berasal dari Allah dan ditetapkan oleh Allah (Rom 13:1)

"Tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah". Ada beberapa kebenaran yang tersirat dari frase ini: Pertama, bahwa kita harus takluk kepada penguasa sebab mereka adalah mewakili Allah. Bila menghadapi penguasa, kita tidak sekadar berurusan dengan manusia yang sederajat, tetapi secara tidak langsung berurusan dengan Tuhan sendiri. Kedua, bahwa Keberadaan pemerintah berdasar pada ketetapan Allah. Dasarnya bukanlah kepercayaan bahwa orang atau golongan tertentu merupakan keturunan dewa. Bukan juga kepercayaan pada kesaktian seseorang yang dianggap telah menerima wahyu. Dasarnya bukan juga kekerasan senjata atau kemauan rakyat semata-mata.

Persoalannya adalah, yang duduk dalam pemerintahan seharusnya adalah orang-orang yang pantas, yang mengusahakan kesejahteraan masyarakat, namun kenyataannya, tidak ada pemerintahan yang baik. Pemerintah dipilih oleh manusia, dari kelompok tertentu, dan ada rekayasa politik di dalamnya sehingga terpilihlah orang-orang yang tidak layak yang mengusahakan kepentingan sendiri, kebutuhan keluarga. Kita mungkin bertanya bagaimana menghadapi pemerintahan yang begini? Apakah Allah menetapkan pemerintahan yang begini?.

Ternyata ini bukan masalah zaman ini saja. Orang Roma termasuk Paulus sjuga mengalami pemerintahan yang tidak kalah buruknya, tapi dalam suratnya Paulus tetap menggunakan kalimat imperatif, “harus”, Seakan-akan untuk orang Kristen tidak ada pilihan. Tuhan mengijinkan berjalannya pemerintahan yang kurang baik supaya orang Kristen dapat menunjukan perannya lebih baik baik di dalam doa dan juga dalam tindakan. Kebenaran bahwa pemerintah berasal dan ditetapkan Allah tidak bisa direvisi, sehingga kita harus tetap hormat kepada mereka. Ini memang sebuah misteri Allah, di satu sisi Allah menetapkan pemerintahan dan meminta kita taat dan hormati, di sisi lain pemerintahan yang ada tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Bagaimanapun orang Kristen harus puas dengan misteri itu.

Pemerintah adalah hamba Allah. (Rom 13:4)

Pemerintah adalah hamba Allah (Rom 13:4). Kata hamba yang dipakai di sini dalam bahasa aslinya adalah diakonos/ pelayan. Artinya adalah pelayan Tuhan yang mewakili semua maksud Tuhan. Pemerintah dipercayai masyarakat Romawi sebagai utusan Tuhan untuk memimpin dan mengatur semua hal yang berkaitan dengan pemerintahan.

Orang Kristen harus tunduk kepada pemerintah karena pemerintah adalah hamba Allah. Karena pemerintah adalah hamba Allah maka dia harus menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan keinginan Allah bukan melalui keinginan pribadi untuk memenuhi ambisi tertentu.

Istilah itu bertentangan dengan pandangan orang Yunani dan Romawi tentang negara. Kaum abdi negara memang "hamba" , tetapi negara sendiri tidak berhamba kepada siapa pun juga, negara merupakan penguasa tertinggi yang menuntut loyalitas (kesetiaan) mutlak dari rakyat. Pada zaman Paulus tuntutan itu sudah mulai berwujud dalam kultus kaisar (persembahan kurban kepada roh kaisar sebagai perwujudan negara). Di sini Paulus tidak langsung mempersoalkan loyalitas kepada negara, bahkan ia menyuruh orang Kristen taat kepada negara. Namun, ketaatan itu ditempatkannya dalam kerangka yang sama sekali baru dengan menyebut pemerintah sebagai hamba Allah.

Kebenaran ini sekaligus menjadi batasan untuk pemerintah. Di dalam semua kebijakannya, mereka harus bisa mewakili Tuhan yang mengatur segala sesuatu untuk kebaikan warganya. Kebenaran ini juga sebagai batasan bagi orang Kristen. Jika pemeritah mengambil kebijakan yang melawan Tuhan, maka kita harus sadar bahwa kita harus tetap lebih patuh pada Allah, sebab pemerintah adalah hamba Allah.

Rasul Petrus pun memberikan suatu pengecualian pada suatu keadaan tertentu bahwa warga negara juga dapat "tidak mentaati" penguasa jikalau penguasa itu menuntut sesuatu yang menjadi milik Allah. Kata-kata Petrus sendiri di hadapan Sandherin menunjukkan kenyataan tersebut "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah." (Kisah 4:19).

2. Ketundukan Terhadap Pemerintah Adalah Kewajiban
Kata "takluk" (ay.1a) dalam bahasa aslinya hupotass├┤ , kata ini muncul tiga puluh kali dalam PB yang artinya "menempatkan diri di bawah". Kata hupotass├┤ muncul beberapa kali dalam PB dan merupakan sikap yang harus diambil seorang Kristen terhadap Allah (Yak 4:7) dan hukum Allah (Rom 8:7), terhadap Kristus (Ef 5:24), tetapi juga terhadap para pelayan gereja (1 Kor 16:16). Menurut Efesus 5:22, seorang istri Kristen harus takluk kepada suaminya, dan menurut 1 Petrus 2:18 seorang budak Kristen kepada tuannya. Tetapi Efesus 5:21 menyatakan bahwa anggota jemaat harus takluk (LAI: merendahkan diri) yang seorang kepada yang lain.

Menurut pola dunia ini, orang takluk kepada penguasa atau kepada orang lain disebabkan karena takut, atau karena mengharapkan sesuatu. Seorang yang berkuasa tidak akan takluk pada orang lain yang kelihatannya levelnya di bawah. Tetapi Firman Tuhan meminta orang Kristen takluk karena alasan lain, yaitu karena Tuhan menghendakinya. Di dalam Efesus 5:21Paulus berkata, "rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus, sehingga tak seorang pun boleh menganggap dirinya dibebaskan dari kewajiban takluk. Di mana pun kasih berkuasa, di situ orang saling melayani

Kata takluk yang dimaksudkan dalam teks ini bukan sekedar taat dan patuh terhadap pemerintah, tetapi bagaimana seorang warga negara (baik orang kaya-miskin, jenderal, polisi, pegawai negeri, pejabat pemerintahan) bisa menempatkan dirinya berada di bawah sesama manusia yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi darinya. LAI menerjemahkan "pemerintah", (ay.1a) dalam bahasa asli memakai bentuk jamak yang diterjemakan "penguasa-penguasa". Dengan demikian nasihat ini menjadi lebih konkret. Yang dimaksud bukan sekedar pemerintah yang nun jauh di sana, tetapi juga orang yang berwenang, para pejabat sipil, petugas kepolisian, dll yang berada di sekitar kita. Kita harus takluk kepada mereka. Ayat 7 memberikan penegasan akan hal ini "Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat."

Ketundukan kepada pemerintah tidak hanya diberikan dengan sikap hormat saja, tetapi dengan tindakan yang real yaitu dengan membayar pajak. Untuk melakukan pembayaran pajak ini, dibutuhkan sebuah kerendahan hati dari seluruh warga negara Roma untuk mengakui bahwa ini adalah ketetapan yang berasal dari Allah. Pada zaman Paulus, pajak merupakan iuran yang wajib dibayar oleh rakyat sebagai sumbangan kepada negara. Ada banyak macam pajak menurut apa yang di pakai dasar pemungutan iuran itu, seperti tanah, jalan, kekayaan, pembangunan, pendapatan, pajak perseorangan, orang Yahudi membayar pula pajak bait suci sebanyak dua dirham setahun (Mat. 17:24) dan berbagai kewajiban pajak lain (Mrk. 2:14). Menurut Rom. 13: 6, dan 7, Paulus menganggap salah satu kesetiaan kepada pemerintah adalah membayar pajak.

Paulus mengatakan bahwa orang Kristen wajib membayar pajak sebagai pengakuan bahwa ungkapkan dalam ayat 3-4 bukan omong kosong belaka, sebab dengan membayar pajak, orang Kristen memperlihatkan bahwa mereka rela takluk kepada pemerintah sekaligus menjadi pengakuan bahwa pemerintah adalah hamba Allah (ayat 3-4).

3. Taat pada pemerintah adalah hal serius
Keseriusannya terlihat dari konsekuensinya

Orang yang tidak tunduk kepada pemerintah dianggap melawan ketetapan Allah. dan konsekuensinya berat, yaitu "akan mendatangkan hukuman atas dirinya". Hukuman itu juga merupakan hukuman Allah, Ia akan mempertahankan ketetapan-Nya dan menghukum mereka yang melanggar ketetapan itu.

Peringatan dalam ayat 2 ini tidak ada dalam 1 Timotius 2:1; Titus 3:1; 1 Petrus 2.13-17 yang juga berbicara tentang sikap orang Kriten terhadap pemerintah. Maka perlu kita pertanyakan, mengapa Paulus menganggap perlu dengan begitu tegas menyatakan hukuman kepada mereka yang melawan pemerintah? Kemungkinan karena jemaat di Roma bersimpati pada gerakan kaum Zelot atau orang Kristen di Roma terhanyut oleh keyakinan bahwa akhir zaman sudah dekat sehingga mereka memandang rendah segala hal duniawi, termasuk negara. Itu sebabnya Paulus menyadarkan mereka akan sebuah aspek penting yaitu untuk menghargai pemerintah.

Keseriusannya terlihat bagaimana Tuhan menyadarkan kita melalui suara hati (ay.5)

Setiap orang Kristen harusnya memiliki kesadaran untuk tunduk kepada pemerintah karena pemerintah merupakan hamba Allah. Allah melalui Paulus mengatakan kepada seluruh manusia supaya takluk bukan hanya karena kemurkaan Allah (ay.5a) tetapi karena dorongan suara hati (ay.5a). Allah ingin supaya manusia benar-benar memahami hal ini. Itu sebabnya Ia menanamkannya di dalam hati nurani kita, bahwa pemerintahan itu ada karena ketetapan Allah dan mereka menjadi hamba Allah untuk menjalankan roda kepemimpinan yang ada di dunia.

Kesimpulan:

Gereja dan negara merupakan dua institusi yang berbeda. Namun keduanya memiliki hubungan yang erat. Jemaat gereja sekaligus adalah warga negara, oleh karena itu seharusnya terbina hubungan yang baik antara gereja dan negara. Sejarah telah memperlihatkan bahwa gereja yang menguasai negara membawa kepada masa kegelapan gereja. Demikian halnya dengan masa dimana negara menguasai gereja, ini adalah masa yang suram di dalam perkembangan kekristenan. Solusi yang terbaik adalah membiarkan keduanya tetap berbeda namun berjalan dalam terang Firman-Nya. Setiap individu dalam gereja wajib tunduk pada negara, namun pemerintah menjalankan roda pemerintahan sebagai wakil Allah yang dengan hikmat melindungi dan mengusahakan kebaikan warga negaranya.

LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Oleh: Pdt.Novida Lassa, M.Th
Sumber: rec.or.id

loading...

No comments

Powered by Blogger.