Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Jakarta Disurvei Kota Tak Aman Bagi Perempuan, ini Kata Kapolda

WARTAGAS.COM - Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis enggan menanggapi hasil survei Yayasan Thomson Reuters yang menyebutkan Jakarta sebagai salah satu kota besar yang tidak aman bagi perempuan. Idham menganggap survei itu sebagai motivasi bagi jajarannya untuk terus meningkatkan keamanan.

Jakarta Disurvei Kota Tak Aman Bagi Perempuan, ini Kata Kapolda
Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis - Foto: net

Saya bilang, begini, survei itu kan sah-sah saja. Tapi kan kita tidak tahu metoda yang digunakan, sampelnya apa saja. Kita ambil hikmahnya saja di balik hasil survei itu bahwa Jakarta ranking 9 kota tidak aman khususnya di bidang kriminalitas," kata Idham di Jakarta, Minggu (22/10/2017), seperti dilansir detikcom.

Pihak kepolisian tidak mengetahui metoda sampling dan juga parameter yang digunakan oleh lembaga survei tersebut sehingga mengkategorikan Jakarta sebagai kota tidak aman bagi perempuan. Sementara dari hasil analisa dan evaluasi Polres jajaran Polda Metro Jaya, secara umum menunjukkan situasi yang kondusif.

Sementara ini Jakarta aman-aman saja. Nggak ada keresahan yang muncul. Tapi saya tidak mau menanggapi dari sisi survei atau apapun hasilnya. Saya kan tidak tahu apa metodanya dan samplingnya, juga parameternya," lanjutnya.

Menurutnya survei sah-sah saja dilakukan dan ia sendiri menganggap hal itu sebagai sinyal untuk meningkatkan keamanan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Polda Metro Jaya senantiasa meningkatkan keamanan dengan melakukan upaya preemtif, preventif hingga represif.

Saya anggap saja itu sebagai sinyal untuk membangkitkan anggota untuk lebih aktif lagi dalam hal tindakan dimulai dari preemtif, preventif; dimulai dari itu tadi dengan metoda patroli sekala kecil hingga skala besar, sambang desa, kring serse, peran Bhabinkamtibmas digalakan lagi, Babinsa, Pak Lurah. Kita ambil hikmahnya itu untuk memberikan jawaban bahwa apa yang dihasilkan oleh survei itu tidak seperti itu faktanya," paparnya.

Berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, kejahatan terhadap perempuan tidaklah terlalu mengkhawatirkan seperti disebutkan dalam survei tersebut. Datanya ada di Direktorat Reserse Kriminal Umum, tetapi menurut saya tidak besar, tidak signifikan dengan apa yang dirumuskan dari hasil survei tadi," imbuh Idham.

Kejahatan bisa terjadi terhadap siapa pun, tidak hanya perempuan. Perempuan di Jakarta sendiri masih bisa beraktivitas dengan leluasa.

"Faktanya begitu. Anda bisa lihat sendiri, perempuan kalau pulang kerja malam masih bisa menggunakan bus, atau taksi atau angkutan lain," lanjutnya.

Meski demikian, Polda Metro Jaya dan jajaran terus meningkatkan patroli, baik patroli rutin maupun patroli rutin yang ditingkatkan guna memberikan rasa aman terhadap masyarakat Ibu Kota. Idham memastikan situasi Jakarta aman.

Saya yakinkan Jakarta dalam situasi aman terkendali, kita bekerja sama dengan TNI, aparat Pemda mendukung. Tiap malam kita gelar patroli skala kecil, skala besar yang langsung dipimpin Karoops, Asops, kita jaga terus," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengatakan angka kejahatan terhadap perempuan sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah total kejahatan yang ada di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

"Kalau datanya saya tidak tahu persis karena saya tidak memegang datanya. Tapi, kalau perempuan sebagai korban itu angkanya mungkin seratusan dalam setahun ini, jadi sedikit sekali bila dibandingkan dengan total kejahatan yang ada—itu kan mencapai lima ribuan lebih di seluruh jajaran Polda Metro Jaya—saya kira kalau dibandingkan dengan kejahatan terhadap perempuan itu sangat kecil sekali,"terang Nico.

Dikutip dari BBC.com, survei Yayasan Tomson Reuters yang berada di London itu menempatkan Jakarta di urutan ke-9 kota paling tidak aman bagi perempuan. Sementara di urutan pertama kota paling tidak aman bagi perempuan adalah Kairo sebagai Ibu Kota Mesir, kedua adalah Karachi, Pakistan dan di peringkat ke-3 yakni Kinshasa, Kongo.

Untuk tiap kategori, survei menetapkan poin terbaik adalah 19. Jakarta sendiri hanya mendapat tujuh poin dalam kekerasan seksual, yang kondisi terbaiknya didefinisikan sebagai 'perempuan bisa hidup di kota bersangkutan tanpa menghadapi risiko kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serangan seksual, atau pelecehan.'

Peringkat tersebut disusun berdasarkan pada kekerasan seksual, akses atas layanan kesehatan, praktik budaya, dan peluang ekonomi untuk kaum perempuan.


LIHAT JUGA VIDEO MENARIK DI BAWAH INI



Laporan: Tim
Sumber: detikcom
loading...

No comments

Powered by Blogger.