Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Mandailing Bukan Batak: Aksara Toba Berasal dari Mandailing

WARTAGAS.COM - Polemik Mandailing bukan Batak sebenarnya jadi bias. Karena ada kesan yang mereka tolak sebenarnya legitimasi Toba atas Batak. Sudah rahasia umum bila disebut Batak persepsi publik mengarah kepada Toba. Seolah-olah etnis Mandailing, Karo, Simalungun seperti bagian dari Toba.

Mandailing Bukan Batak: Aksara Toba Berasal dari Mandailing
Berdasarkan penelitian, aksara Mandailing yang disebut tulak-tulak, merupakan dasar dari aksara Toba - Foto: medanbisnisdaily.com

“Menurut saya itulah dasarnya mengapa terjadi penolakan-penolakan. Lebih kepada ego saja. Padahal fakta justru sebaliknya. Dalam berbagai hal, Mandailing justru sering menjadi “induk”. Misalnya dalam konteks aksara. Seperti yang disampaikan sejumlah pakar, aksara Toba sendiri berasal dari Mandailing,” kata budayawan Batak, Batara Guru, dari lembaga Batak Merdeka, Rabu (8/11/2017), seperti yang dilansir oleh medanbisnisdaily.com.

“Mungkin hal itu bisa dilihat dari sejarah aksara keduanya. Berdasarkan hasil penelitian, aksara Toba yang dikenal saat ini berasal dari Mandailing. Hal itu berdasarkan sejumlah penelitian para ahli sejarah dan antropolog. Aksara yang dalam bahasa Mandailing disebut “tulak-tulak” ini menyebar dari selatan (Mandailing) ke arah utara (Toba),” lanjut Batara Guru.

Pendapat itu disampaikan Prof Uli Kozok, dari University of Hawai’ dalam berbagai seminar di universitas yang ada di Sumatera Utara. Hasil penelitiannya juga telah dibukukan dengan judul “Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII".

Ditambahkannya, pendapat Uli sejalan dengan peneliti budaya Batak, Harry Parkin dalam bukunya “Batak Fruit of Hindu Thought”, (1978:101). Dalam bukunya itu Harry Parkin menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan di pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Gaya bahasanya sama dengan dengan gaya bahasa yang terdapat dalam pustaha Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak.

Terkait aksara Mandailing itu sendiri, budayawan Mandailing, Z Pangaduan Lubis, dalam bukunya “Sekilas Budaya Mandailing” menyebut aksara tersebut digunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu. Aksara itu hanya dipergunakan menuliskan tarombo (silsilah keluarga). Juga digunakan untuk mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan dalam kitab tradisional yang disebut pustaha.

Oleh karena itu, hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat tulak-tulak.

Di Mandailing surat tulak-tulak dipergunakan untuk menulis pustaha. Ada pustaha yang terbuat dari kulit kayu atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu.

Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara-cara penyembuhan tradisional.

Selain itu ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.


BACA JUGA: Mandailing Bukan Batak, Wacana yang Dipaksakan


Stempel Sisingamangaraja XII

Sekadar mengingatkan, salah satu dasar pemikiran yang digunakan Prof Usman Pelly untuk menyebut Mandailing bukan Batak dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Mandailing bukan Batak, di VIP Restoran Hotel Madani, Medan, Senin (23/10) adalah stempel Sisingamangaraja XII.

Disebutkan Pelly, dalam stempel Raja Sisingamangaraja XII hanya tertulis Ahu Si Raja Toba, tidak ada si Raja Batak. Batak tidak ada dalam khasanah pustaka baik Toba, Angkola, apalagi Mandailing.

Namun mengenai keaslian stempel itu sendiri juga telah dibantah peneliti aksara Batak, Profesor Uli Kozok. Menurut Uli yang meneliti 3 lembar surat Sisingamangaraja XII kepada Nommensen, Sisingamangaraja XII tidak pernah menulis sendiri surat-suratnya, melainkan oleh tiga orang juru tulisnya.

Ketiga juru tulis ini adalah mantan murid Nommensen yang sakit hati pada gurunya itu, kemudian menjadi pengikut Sisingamangaraja XII.

Dari hasil penelitiannya, disebutkan bahwa surat-surat itu selalu dibubuhi cap yang berbeda antara satu surat dengan surat yang lain. Bentuknya bulat dengan sisi luar yang dihiasi gerigi. Setiap cap memiliki jumlah gerigi yang berbeda, masing-masing 10, 11 dan 12.

BACA JUGA: Mandailing Bukan Batak: Ada Kesan yang Sangat Politis


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI




Laporan: Tim
Sumber: medanbisnisdaily.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.