Header Ads

Batak Network - Semua Tentang Batak

Merayakan Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong!

Merayakan Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong! - Foto: Pohon Natal di Mal Kelapa Gading - Dok. Group Anak Sianatr (GAS) / Wartagas.com (2015)


Oleh: Pdt. Joas Adiprasetya*)

Selalu saja ada ketegangan yang terjadi sejak awal bulan Desember, ketika acara Natal dirancang untuk komunitas-komunitas yang anggotanya terdiri dari banyak gereja. Pasalnya, banyak umat Protestant yang tidak terlampau peduli bahwa Natal harus dirayakan pada atau sesudah tanggal 25 Desember. Alasannya sederhana saja. Mereka akan berdalih: Bukankah yang penting hatinya, bukan tanggalnya. “Bagaimana” dan bukan “kapan.” Apalagi, bukankah tanggal faktual kelahiran Yesus tak lagi bisa dilacak. Mereka cukup memiliki informasi bahwa 25 Desember dipilih berdasarkan tradisi Barat pra-Kristen yang kemudian dikristenkan dan diadopsi menjadi tanggal kelahiran Sang Juruselamat. Cukup beralasan. O, ya, ada alasan praktis lainnya. Yaitu: kita harus merayakan natal-natal kecil ini sebelum akhirnya memuncak pada perayaan Natal “besar” pada tanggal 24 Desember malam di gereja masing-masing.

Namun, alasan-alasan tersebut tak cukup kuat bagi sebagian umat Katolik, misalnya, yang cukup ketat mempertahankan kebiasaan mereka untuk tidak merayakan Natal sebelum 25 Desember. Orangnya belum lahir kok dirayakan, demikian kilah mereka. Alasan yang juga masuk akal.

Bagaimana posisi saya sebagai seorang Protestant? Jelas saya memihak pada pendirian gereja Katolik! Lho, kok? Apakah ada pertimbangan lainnya? Jelas ada. Baiklah saya uraikan apa yang saya pahami.

Pertama, saya amat menyadari nilai praktis dari perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Karena setelah tanggal tersebut, praktis keluarga-keluarga Kristen berkeinginan untuk menghabiskan liburan bersama keluarga hingga tahun baru menjelang. Bagaimana bisa berlibur dengan tenang, bahkan bagaimana bisa berlibur, jika pada tanggal 26 Desember si kecil harus ikut Natalan Sekolah Minggu, lalu keesokan harinya giliran si kakak yang ikut Natalan Pemuda, dan seterusnya. Alasan ini bisa saya pahami sepenuhnya. Toh saya juga punya keluarga. Namun, alasan praktis ini tidak punya bobot teologis yang cukup kuat, yang sebentar akan saya paparkan. Tapi, ketahuilah, saya sepenuh-penuhnya memahami cara berpikir ini.

Kedua, saya juga paham bahwa 25 Desember bukan tanggal faktual kelahiran Yesus. Banyak orang yang bahkan beranggapan bahwa Yesus sesungguhnya lahir pada bulan April. Sekali lagi tanggal berapa pun bukan poin yang terpenting. Yang terpenting adalah, bahwa secara global, ekumenis dan tradisional, gereja-gereja telah menyepakati bahwa tanggal 25 Desember menjadi tanggal peringatan kelahiran Sang Juruselamat. Tentu dengan pengecualian gereja-gereja Orthodoks Timur yang merayakannya pada awal bulan Januari. Singkatnya, 25 Desember adalah sebuah konsensus orang beriman, yang memandang perlu untuk memiliki satu tanggal bersama untuk memusatkan ibadah dan iman mereka pada momen di mana Sang Anak Allah lahir di tengah dunia.

Dalam kaitan dengan itu, lantas gereja memasukkan tanggal 25 Desember ke dalam kalendar gerejawi. Iman kristen diasuh berdasarkan rentetan peristiwa imani yang diungkapkan lewat kalendar gerejawi tersebut. Bahkan, bukan hanya 25 Desember, kalendar gerejawi kemudian juga meletakkan 4 minggu sebelum 25 Desember sebagai masa Pra-Natal atau yang lazim kita kenal dengan sebutan Minggu-Minggu Adventus. Selama empat minggu itu, kita mempersiapkan diri menyambut Natal (memperingati kelahiran Yesus sekitar dua ribu tahun silam) serta menyambut kedatangan Kristus kembali (mengharapkan kedatangan-Nya di masa depan). Jadi, masa adventus adalah masa di mana masa silam (peringatan) dan masa depan (pengharapan) menyatu. Dan semua proses ini memuncak pada perayaan Natal itu sendiri, yaitu mulai dari Malam Natal (24 Desember malam, Christmas Eve) dan Hari Natal (25 Desember). Singkatnya, seluruh struktur kalendar gerejawi tersebut turut membentuk struktur iman kristiani kita.

Nah, kini bayangkan kekacauan yang bakal muncul jika Natal dirayakan sebelum tanggal 25 Desember—katakanlah tanggal 16 Desember—yaitu ketika kita masuk pada masa adventus, yang pada intinya mempersiapkan diri kita untuk menyambut Natal dengan baik. Lalu setelah itu (17 Desember) kita kembali memasuki masa persiapan Natal (masa Adventus) menurut kalendar gerejawi. Apa bukan sebuah kekacauan? Jika ini dilangsungkan, maka kacaulah seluruh struktur kalendar gerejawi dan penghayatan kita terhadap makna Adventus dan Natal menjadi kabur dan tak lagi bermakna.

Jika penjelasan yang saya paparkan bisa diterima (harapan saya demikian), maka bagaimana secara praktis menyiasati kebutuhan perayaaan-perayaan Natal yang begitu banyak itu (natalan komisi, natalan wilayah, natalan marga, natalan keluarga, natalan kantor, natalan klub golf, natalan kelompok PA, natalan ini dan natalan itu)? Pertama-tama, perlu dipertanyakan apakah memang mengikuti perayaan natal yang berjibun itu merupakan sebuah kebutuhan yang musti dipenuhi? Atau apakah memang itu kebutuhan? Saya kok curiga bahwa itu semua bukan kebutuhan kita. Lebih tepat, mungkin, itu semua merupakan sebuah kebiasaan yang lantas kita anggap sebagai kebutuhan. Jadi, bagaimana?

1. Buatlah prioritas, perayaan Natal mana yang memang butuh Anda ikuti. Jika memang tidak benar-benar butuh, tidak perlulah mengikutinya.

2. Jika perayaan Natal tertentu dirasa memang sebuah kebutuhan (atau keharusan), maka jika Anda termasuk orang yang terlibat dalam perencanaannya, berikanlah argumentasi Anda untuk tidak merayakannya sebelum tanggal 25 Desember. Syukur-syukur kemudian bisa dialihkan setelah tanggal 25 Desember, tentu dengan konsekuensi minimnya pengunjung yang bakal datang.

3. Atau, jika perayaan setelah 25 Desember tetap tidak mungkin, opsi lain adalah menyelenggarakannya bukan sebagai perayaan Natal, namun perayaan persiapan Natal, yang isinya bernuansa Adventus. Strategi ini memiliki nilai ekumenis, karena lantas mereka yang berasal dari Gereja Katolik tidak mengingkari apa yang mereka praktikkan selama ini.

4. Atau pilihan lain: Alih-alih membuat perayaan Natal yang menghabiskan banyak uang yang tak perlu, buatlah perayaan (menyambut) Natal yang berbentuk aksi nyata demi sesama yang membutuhkan. Strategi ini mulia sifatnya, karena menggeser kebiasaan yang konsumtif dan egoistik menjadi kebiasaan yang produktif dan altruistik (berorientasi pada sesama).

Bagaimana dengan gereja? Selain beberapa pemikiran di atas, menurut saya sudah sejak lama gereja-gereja (termasuk GKI Pondok Indah) berpikir untuk mengubah kesalahan selama ini, yang memusatkan perhatian lebih pada Natal tinimbang Paska, padahal pada momen Paska-lah iman kita memperoleh perhatian paling penting. Natal bermakna dalam terang Paska. Paska tetap bermakna tanpa perayaan Natal. Palang Salib lebih penting dari Palungan. Maka, usulan konkret saya:

5. Jika memang perayaan-perayaan Natal untuk komunitas-komunitas tertentu tidak mungkin dilakukan setelah tanggal 25 Desember, karena alasan praktis atau alasan-alasan lain, maka sebaiknya apa pun yang diselenggarakan sebelum tanggal 25 Desember menjadi kegiatan Adventus (persiapan Natal).

6. Atau tiadakan sama sekali semua perayaan “kecil” tersebut dan dipusatkan secara lebih meriah pada Malam Natal dan Hari Natal, bersama-sama sebagai satu umat. Perayaan Natal yang terpusat pada tanggal 25 Desember kemudian musti children-friendly, lansia-friendly, singkatnya, mengakomodasi seluruh anggota keluarga dari semua usia dan semua latar-belakang. Jika ini dikerjakan, maka Anda bisa bayangkan betapa makna “gereja sebagai keluarga” menjadi begitu bermakna. Selain itu, strategi ini memungkinkan gereja kita untuk menjalankan keinginannya sejak dulu untuk menggeser pusat perhatian pada Paska dan bukan Natal. Keuntungan lain: hemat. Uang yang mustinya dipakai untuk hiasan natal, hadiah natal, konsumsi, dan lain-lain di perayaan-perayaan kategorial, kini bisa dialihkan untuk tugas sosial gereja ke masyarakat. Dan keuntungan teologis yang terutama: kekacauan struktur iman kristiani terhindarkan. Masa adventus tetap menjadi masa penantian dan pengharapan, yang memuncak pada Natal itu sendiri.

Apakah usulan saya ini bisa dilaksanakan? Tentu saja bisa. Anda tentu dengan mudah melihat bahwa usulan-usulan di atas membuat kepeningan persiapan Natal berkurang. Tapi, ‘kan masalah selama ini bukan soal bisa atau tidak bisa, melainkan mau atau tidak. Soal yang satu ini terus-terang hanya kita masing-masing yang bisa mengaturnya.

Akhirnya, selamat (mempersiapkan) Natal. Salam dari kami berlima yang tengah kedinginan di Boston.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI




*) Penulis adalah Pendeta GKI Pondok Indah, dosen di STT Jakarta

Foto: Pohon Natal di Mal Kelapa Gading - Dok. Wartagas.com / GAS (2015)
loading...

No comments

Powered by Blogger.