Header Ads

Ini Kata Susi Juliana Simanjuntak Tentang Pernikahannya dengan Lucen Aritonang Sempat Ditunda Beberapa Kali

WARTAGAS.COM - Pasca viralnya tulisan tentang kisah pernikahan Susi Juliana Simanjuntak dengan Lucen Ricardo Aritonang, berbagai tanggapan dan polemik bermunculan.

Ini Kata Susi Juliana Simanjuntak Tentang Pernikahannya dengan Lucen Aritonang Sempat Ditunda Beberapa Kali
Susi Juliana Simanjuntak - Foto: newscorner.id

Tudingan bahwa postingan Susi yang sebelumnya dituangkannya lewat akun Facebook Dek Yuli S adalah hoax, dan diposting secara tak bertanggung jawab pun muncul.

Pasalnya postingan tersebut menghilang dari dinding Facebook. Selanjutnya ada tudingan dari sebagian netizen yang menyebutkan pemilik akun tersebut mencari ketenaran.

BACA JUGA: Viral, Istri Kaget Bukan Kepalang Suami Ketahuan Jalani Hubungan Inses dengan Adik Kandung, Ada Anak

Setelah berusaha melakukan penelusuran, akhirnya Awak Media mendapat klarifikasi dari salah seorang kakak perempuan Susi Juliana Simanjuntak. Namun belum afdol rasanya jika tidak mendapat pernyataan dan penjelasan secara resmi dari Susi Juliana Simanjuntak.

Awak Media mencoba menjalin komunikasi langsung dengan Susi Juliana Simanjuntak, putri bungsu dari delapan bersaudara yang terlahir dari ibu boru Lubis itu.

Berikut penjelasan resmi dari Susi Juliana Simanjuntak terkait postingan dan kisahnya, seperti yang dilansiir oleh newscorner.id (16/2/2018).

Viral, Istri Kaget Bukan Kepalang Suami Ketahuan Jalani Hubungan Inses dengan Adik Kandung, Ada Anak
Foto: Facebook

Berawal dari tugas PPL saat masih kuliah tahun 2006 silam di salah satu sekolah di Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara. Di sekolah tersebut, ia berkenalan dan selanjutnya dekat dengan Andro, seorang siswa.

Tahun berganti, ia kembali ke Medan usai masa PPL. Setelah wisuda, ia bekerja di salah satu sekolah swasta di Medan. Namun komunikasi dengan Andro masih terjalin layaknya adik dan kakak.

Hingga akhirnya di tahun 2011, akun Facebook miliknya menerima permintaan teman dari Lucen Ricardo Aritonang. Abang Andro yang selanjutnya menjadi suami Susi. Meski komunikasi antara mereka belum terjalin setelah berteman di Facebook.

“Awalnya aku kenal adiknya pas PPL di Laguboti, trus tahun 2011 aku di-invite Lucen. Lihat pertemanan yang sama, ada Andro. Aku cek di profilnya ternyata abangnya Andro, maka aku terima,” jelasnya.

Hingga akhirnya bulan Maret tahun 2015, Lucen mulai menjalin komunikasi dengannya secara intens. Komunikasi mereka berjalan baik, meski mereka terpisah ruang. Lucen berada di Duri, Provinsi Riau, sedangkan Susi tinggal di Medan, Sumatera Utara.

Namun seperti disampaikan Lucen padanya setelah mereka kian akrab, sejak berteman di Facebook tahun 2011 Lucen telah sering memperhatikan tiap postingan Susi.

”Kami intens komunikasi tahun 2015, meski menurut Lucen ia telah sering memperhatikan tiap postinganku jauh sebelumnya,” jelas Susi.

Di tahun yang sama sekitar bulan Juni, mereka sepakat bertemu di Medan. Kebetulan, dua bulan sebelumnya, Pendeta Mungkur, bapauda sekaligus orangtua angkat Lucen sudah pindah tugas dari HKBP di Jakarta ke HKBP Pabrik Tenun di Medan. Lucen pun pulang dari Duri ke Medan.

Mereka bertemu setelah Lucen datang ke rumah orangtua Susi di kawasan Mandala, Medan.

“Ketemulah kita di Medan dan jadian tanggal 14 Juni 2015. Nikah pun kami di tanggal dan bulan yang sama, tepat dua tahun sejak jadian (berpacaran),” terang Susi.

Penuturan Susi, sebelum mereka bertemu, Lucen telah memberitahunya bahwa Andro bukan adiknya kandungnya. Mereka saudara sepupu, yakni bu Andro dan ibu Lucen kakak beradik.

“Sebelum kami ketemu, dia udah sampaikan kalau Andro bukan adik kandungnya, namun ibu mereka kakak beradik,” kata Susi.

“Aku marga Aritonang, mamakku di Tarutung,” kata Lucen kepada Sudi.

“Jadi tantemu lah mamanya Andro,” sebut Susi.

“Iya,” jawab Lucen.

Disampaikan Lucen padanya kalau orangtuanya tinggal di Desa Sitompul, Tapanuli Utara. Meski hingga saat ini Susi belum pernah ke sana.

Di awal hubungan mereka, sebenarnya Susi mengaku sudah dibohongi oleh Lucen. Sebab, Lucen mengatakan ayahnya telah lama meninggal dunia. Lalu ibunya menikah lagi dengan seorang pria bermarga Sianturi.

“Dari awal sudah ada kebohongan. Disampaikannya kalau bapak kandungnya telah lama meninggal, lalu ibunya menikah lagi dengan seseorang bermarga Sianturi. Padahal tidak seperti itu ceritanya. Saya dibohongi nih dua tahun,” ujarnya.

Masih disampaikan Susi, Lucen menyampaikan padanya mereka ada sembilan bersaudara. Meski dari bapak yang berbeda, namun mereka kompak dan meminta kepada Susi agar kelak tidak membeda-bedakan.

Setelah mereka bertemu, di hari Minggu mereka beribadah bersama di Gereja HKBP Pabrik Tenun. Di sanalah, menurut Susi selanjutnya Lucen menyampaikan rasa cinta secara langsung kepadanya.

Ayah angkat Lucen, Pendeta Mungkur bertanya kepada mereka keduanya kapan mereka melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun saat itu Lucen mengatakan kepada pria yang dipanggilnya papi itu, bahwa mereka baru saja menjalin hubungan.

Lalu Lucen kembali ke Duri. Ia datang lagi ke Medan di bulan Oktober. Saat itu menurut Susi, Lucen ada masalah dengan mantan pacarnya. Mantan pacar yang gagal menikah meski sebelumnya sudah sepakat keduanya menikah pada bulan Juni 2015.

Di bulan Oktober itu juga, Susi dipanggil oleh keluarga Lucen (Pdt Mungkur) ke rumah mereka untuk membicarakan hubungan mereka secara serius. Pendeta Mungkur mengatakan tak ingin mereka berlama-lama berpacaran, lebih baik segera menikah.

Pendeta Mungkur bertamya kepada Susi apakah ia sudah mengetahui risalah keluarga Lucen. Selanjutnya direncanakan untuk datang ke rumah orangtua Susi pada bulan Desember.

Selanjutnya 10 Desember 2015, Lucen datang bersama Pdt Mungkur dan seorang tulang-nya dari Tarutung datang ke rumah orangtua Susi. Mereka membawa makanan secara adat dan menyampaikan niat mereka untuk melamar Susi (marhata sinamot).

Selanjutnya disepakati tanggal pernikahan mereka, yakni 16 Juni 2016. Hal tersebut dicatat dan dimasukkan dalam agenda.

Lalu pihak keluarga Lucen berjanji akan datang kembali pada bulan Februari untuk meneruskan rangkaian adat (Marhori-hori dinding).

Januari 2016, Pdt Mungkur berangkat ke Tarutung menemui ibunya Lucen. Disampaikan bahwa Pdt Mungkur yang akan menjadi pangamai (wali) dalam pernikahan mereka. Sebelumnya, ibu Lucen sudah setuju. Namunj rupanya abangnya Lucen yang sudah berumahtangga dan tinggal di Sibolga, tidak setuju.

Alasannya, mereka hanya dua orang laki-laki bersaudara dari satu bapak. Mereka berdua lah yang akan membawa marga dan tanggung jawab adat. Sementara Mungkur dan Aritonang sudah berbeda marga.

Keberatan itu mendapat dukungan dari keluarga besar. Pendeta Mungkur pun batal mangamai.

Keluarga Pendeta Mungkur pun datang ke rumah orangtua Susi. Ia meminta maaf karena tak bisa menjadi wali dalam pernikahan yang telah direncanakan pada Juni 2016.

Pihak keluarga Susi menerima jika wali pernikahan diganti, asal tanggal dan bulan yang sudah disepakati dapat dilanjutkan sesuai rencana.

Namun, ibunya Lucen meminta agar pernikahan diundur hingga tahun depan (2017). Hanya saja, keluarga Susi menolak. Sebab, ibunya susi berpikir tidak baik jika diundur-undur dan terlalu lama dibiarkan.

Ibu Lucen meminta waktu lagi. Katanya, masih banyak hal yang harus ia ia pikirkan.

“Datang mamanya Lucen bilang, godang nai dope sipikkiranku, Eda,” cerita Susi

Kesepakatan diubah. Pernikahan dijadwalkan bulan Oktober 2016.

Namun hingga akhir bulan Juli 2016 belum ada pemberitahuan dari keluarga Lucen, baik tentang biaya maupun hal lain yang akan disiapkan menjelang acara pernikahan.

Susi pun mempertanyakan hal tersebut kepada Lucen. Lalu, Lucen menghubungi ibunya di kampung.

Menurut Susi, saat itu Lucen sempat merasa tak enak dengan sang ibu. Pasalnya, ibunya mengatakan tak ada lagi biaya untuk pernikahannya.

“Mamaknya bilang sama bang Lucen kalau uang udah ga ada lagi untuk pestamu. Saya memang tidak ada komunikasi langsung dengan ibunya saat itu. Tapi saya juga kesal. Saya sempat bilang sama bang Lucen agar dia cari wanita lain saja. Soalnya keluarga kami pun sudah malu, asik diundur-undur,” kisah Susi.

Namun Lucen meminta agar Susi bersabar. Selanjutnya Agustus 2016, Susi mendapat telepon dari ibu Lucen, yang mengatakan salah seorang menantu perempuannya meninggal dunia. Maka tak mungkin pesta pernikahan mereka dilangsungkan bulan Oktober

“Meski aku tau batalnya pernikahan itu sebelum ada anggota keluarga yang meninggal, tapi aku jaga juga jangan sampai mamanya Lucen merasa malu. Aku jawab, ya kita bersabarlah namboru,” terang Susi.

Bulan Agustus itu juga, Lucen dan ibunya bersama bapak tirinya bermarga Sianturi datang ke rumah orangtua Susi untuk menyampaikan pengunduran pernikahan. Dalam pertemuan itu, ibunya Susi menanyakan kepastian tanggal pernikahan mereka kepada keluarga Lucen.

Lantas, keluarga Lucen menjawab bahwa pernikahan mereka akan diselenggarakan tahun depan. Mendengar jawaban itu, orangtua Susi kurang puas. Mereka meminta kepastian jadwalnya.

“Mama tanya, tahun depannya itu kapan. Tapi keluarga mereka hanya meminta agar pihak kami menunggu kedatangan mereka untuk memberikan kepastian,” terang Susi.

Saat itu, sambung Susi, sebenarnya ibunya mulai jengkel dan merasa dipermainkan.

“Tidak bisa begitu. Kalian jangan menggantung boru saya,” kata ibunya seperti ditirukan Susi.

Susi sendiri saat itu mencoba ikut berbicara.

“Gini lho Bou, tahun depan itu 2017 ada 12 bulan. Jadi saya harus menunggu dia tanpa kepastian? Nggak bisa begitu lho, Bou. Saya juga harus memikirkan masa depan saya,” sebut Susi saat itu.

Lucen menimpali agar orangtuanya memberikan kepastian dan tidak menggantung hubungan mereka. Saat itu juga Lucen langsung meminta agar orangtuanya memberikan kepastian. Dia meminta agar pernikahannya dengan Susi digelar antara bulan Juni atau Juli tahun 2017. Lalu disepakati pernikahan keduanya digelar tanggal 14 Juni 2017.

Pasca pertemuan tersebut, hubungan Lucen dan Susi berlanjut, tetap LDR alias jarak jauh. Lucen di Duri dan Susi di Medan.

Menjelang tanggal pernikahan yang telah disepakati, tepatnya seminggu sebelumnya atau 7 Juni 2017 Susi mengalami kecelakaan saat mengantarkan undangan pernikahan.

“Kepala saya bocor hingga empat jahitan. Saat itu saya, juga keluarga berpikir ini pertanda apa,” kata Susi.

Namun Susi menepis pertanda itu. Ia fokus pada rencana pernikahannya yang sudah di depan mata. Pernikahan pun dilangsungkan, yang dilanjutkan acara adat dan resepsi.

Usai pesta, pengantin dibawa ke rumah Pendeta Mungkur, orangtua angkat Lucen. Dari rumah itu, pasangan pengantin baru itu diantar ke salah satu hotel di Medan oleh Pendeta Mungkur dan adik Lucen, Andro.

Saat keduanya masih menikmati masa bulan madu, pagi-pagi adik perempuan Lucen, Erlinda menelepon abangnya. Melalui pembicaraan di telepon, Erlinda meminta agar Lucen pulang ke rumah Pendeta Mungkur untuk mengantarkan obat putranya yang berkebutuhan khusus. Kata Erlinda, obat tersebut berada di tas kecil milik Lucen.

“Pulang sekarang! Antarkan obat Dany yang ada di tas mu. Obat itu harus diminumnya sebelum sarapan!” kata Erlinda kepada Lucen seperti ditirukan Susi.

Susi sempat komplain mengapa Lucen membawa-bawa obat anaknya Erlinda. Namun Lucen menegaskan, seingatnya ia tidak ada membawa obat tersebut. Namun ternyata obat itu memang ada di dalam tas Lucen.

Segera, Lucen yang terlihat panik langsung bergegas hendak mengantarkan obat tersebut. Namun Susi menahannya. Ia menawarkan agar obat tersebut dikirim menggunakan jasa transportasi online. Lucen pun setuju.

Lucen menelepon Erlinda dan mengatakan obat dikirim dan sedang dalam perjalanan. Namun Erlinda tak menjawab. Ia langsung mematikan telepon.

Siangnya, Susi dan Lucen mendatangi kantor Catatan Sipil di Lubukpakam, Deliserdang, guna mensahkan pernikahan mereka secara hukum negara.

Dari Lubukpakam, keduanya pulang ke rumah Pendeta Mungkur. Saat hendak kembali ke hotel dan berpamitan, Erlinda tidak menghiraukan. Ia hanya tiduran dan pandangannya menatap langit-langit.

Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 WIB, Erlinda kembali menelepon Lucen. Ia meminta Lucen segera pulang. Alasannya, Dany sakit parah dan harus segera dibawa ke rumah sakit.

“Katanya, (sakit) ginjalnya kumat,” tukas Susi.

Mendengar kabar itu, Lucen panik.Apalagi, Erlinda mengatakan sudah dua hari Dany tidak buang air kecil.

Susi berusaha menenangkan suaminya.

“Di rumah itu ada dua mobil. Amang (pendeta), Andro, tulang dan ada yang lain di rumah. Mereka bisa bawa Dany ke rumah sakit,” sebut Susi.

Siangnya, mereka check out dari hotel dan kembali ke rumah Pendeta Mungkur. Namun rumah sepi. Hanya ada istri pendeta. Susi menyangka orang-orang semua ke rumah sakit. Hanya saja ketika ia bertanya, ternyata tidak ada yang ke rumah sakit.

“Ada yang (belanja) monza. Sedangkan Dany, ternyata dibawa ibunya makan mie ayam ke warung yang ada di simpang jalan dekat rumah Pendeta Mungkur,” tukas Susi, yang mengaku saat itu sangat terkejut.

Lalu Susi bertanya, “Tapi tadi katanya Dany sakit parah?”

“Ah, terusnya dia sakit,” jawab istri pendeta.

“Katanya mau opname.”

“Opname apa? Nggak ada,” tukas istri pendeta.

Setelah semua berada di rumah, Lucen dan Susi membuka kado-kado hadiah pernikahan mereka. Semua berkumpul, kecuali Erlinda.

Usai acara buka kado, keduanya dinasehati oleh para orangtua yang ada, termasuk Pendeta Mungkur dan tulangnya Lucen. Saat itu, kata Susi, keluarga sudah sepakat supaya Erlinda tidak lagi tinggal dengan Lucen seperti sebelumnya. Bahkan Erlinda tidak diizinkan lagi tinggal di Duri, Riau.

BACA JUGA: Viral, Istri Kaget Bukan Kepalang Suami Ketahuan Jalani Hubungan Inses dengan Adik Kandung, Ada Anak

Seperti apa kelanjutan kisah ini? Ikuti lanjutannya. (Bersambung)


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Laporan: tim
Sumber: newscorner.id
loading...

No comments

Powered by Blogger.