Header Ads

Lagi Viral: Pemuka Agama Ini Dipaksa Tinggalkan Kawasan Permukiman dan Tidak Boleh Lakukan Ritual Keagamaan

WARTAGAS.COM - Sebuah video sedang viral di media sosial.

Pemuka Agama Ini Dipaksa Tinggalkan Kawasan Permukiman dan Tidak Boleh Lakukan Ritual Keagamaan
Sumber: Medan Tribun

Di dalam video itu tampak seorang pria yang mirip biksu sedang membacakan sebuah pernyataan di hadapan sekelompok orang.

Dalam pernyataan itu disebutkan, kalau dia adalah pemuka agama, diminta untuk meninggalkan Desa Babat dan tidak boleh melakukan ritual keagamaannya.

Seorang netizen bernama akun Niluh Djelantik turut memosting video tersebut di laman facebooknya.


"Kezaliman zaman NOW.

Ada 6 agama yang diakui secara undang-undang dan masih ada ratusan kepercayaan yang sudah ada dari nenek moyangmu belum dilahirkan.

Dasar Bani Micin beraninya mengintimidasi dan main persekusi.

Sini main ke kampungku agar gak picek dan pedih melulu hatimu.

Untuk saudara pemeluk agama Budha, jangan berkecil hati. Salam hormat dari Bali.

Lihat satu per satu dari mereka yang menindasmu akan dipermalukan olehNya.
#peluktianglistrik
." Tulisnya sebagai caption video.


Dihapus. Posting lagi 🤗

Kezaliman zaman NOW.
Ada 6 agama yang diakui secara undang-undang dan masih ada ratusan kepercayaan yang sudah ada dari nenek moyangmu belum dilahirkan.
Dasar Bani Micin beraninya mengintimidasi dan main persekusi. Kamu adalah penista agama yang sebenar-benarnya.
Sini main ke kampungku agar gak picek dan pedih melulu hatimu.
Untuk saudara pemeluk agama Budha, jangan berkecil hati. Salam hormat dari Bali. Lihat satu persatu dari mereka yang menindasmu akan dipermalukan olehNya

#peluktianglistrik
Dikirim oleh NILUH DJELANTIK pada 10 Februari 2018

Senada dengan postingan Vadisa Tampubulon.

Ia memposting, bahwa hal itu adanya dugaan dari salah satu ormas keagamaan yang memaksa si pria yang ada dalam video tetsebut untuk meninggalkan daerah Legok Tangerang, Banten.

"FPI MELAKUKAN DEMO TERHADAP SALAH SATU UMAT BERAGAMA DI TANGERANG.

Dipaksa meninggalkan tempat ibadah. Kejadian di daerah Legok Tangerang

Di bawah tekanan Dan paksaan dari pendemo harus menandatangani Surat pernyataan.

Tapi dipernyataannya di jelaskan tdk dibawah tekanan.

Siapa yang percaya ???

Sdh jelas2 dibawah tekanan.

Dimana Negara menyikapi kejadian seperti ini?

Apa Negeri ini milik F…?????

Aparat hrs bertindak seblm manusia2 radikal ini menguasai daerah2 yg warganya notabene bukan muslim.
Atau warga yg melakukan Ibadah dibubarkan begitu saja.

Mana PANCASILA itu…?
" tulis Vadisa Tampubolon, Sabtu (10/2/2018).

Begitu juga dengan akun Michael.

Pemuka Agama Ini Dipaksa Tinggalkan Kawasan Permukiman dan Tidak Boleh Lakukan Ritual Keagamaan

Ia turut memosting peristiwa ini

"Persekusi di Legok Tangerang. Apakah kebebasan beragama diatur oleh Pancasila dan UUD 1945 sudah tidak berlaku lagi di Indonesia? Mohon kiranya Presiden Jokowi dan Menteri Agama menjamin dan mengusut tuntas persekusi ini," tulisnya.


Kejadian di daerah Legok Tangerang sdh duselesaikan dengan baik oleh Aparat setempat.
Jadi beritanya kita close yaaaa....
Mudah2an tdk ada kejadian seperti ini lagi.

Kl ada teman2 yg merasa terganggu dengan viralnya video ini, mohon dimaafkan.
Krn kita ingin negara kita bisa Damai. Dan setiap umat selalu saling menghormati.

Hidup Indonesia......
NKRI HARGA MATI
Dikirim oleh Vadisa Tampubolon pada 10 Februari 2018

Masyarakat Menolak, Begini Penjelasan Kapolres

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto menanggapi video seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, yang viral di media sosial. Menurut kepolisian, perkara tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

"Salah paham saja. Sudah diselesaikan secara musyawarah dan sudah selesai," kata AKBP Fadli Widiyanto dalam keterangan kepada wartawan, Sabtu (10/2/2018).

Peristiwa tersebut terjadi Rabu (7/2/2018). Berawal dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok. Warga keberatan atas rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.

Masyarakat sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Warga resah karena menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha.

"Ada penolakan dari masyarakat atas segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat ibadah," kata Fadli.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI




Laporan: tim
Sumber: medan tribun
loading...

No comments

Powered by Blogger.