Header Ads

Sinabung Erupsi Dahsyat, Sejumlah Desa Gelap Gulita, Dampak Erupsi Hingga ke Dairi dan Aceh Tenggara

WARTAAGS.COM - Gunung Sinabung erupsi dahsyat, Senin (19/2) pagi. Suara letusan dan gemuruh membuat warga di sejumlah desa di sekitar kawasan gunung tersebut panik dan berlarian berupaya menjauh dari sumber suara. Seperti terlihat di Desa Payung dan Kuta Rayat, sejumlah siswa yang berada di sekolah berlarian sambil menangis. Gunung Setinggi 2.460 meter itu erupsi meluncurkan awan panas dengan tinggi kolom 5 Km.

Sinabung Erupsi Dahsyat, Sejumlah Desa Gelap Gulita, Dampak Erupsi Hingga ke Dairi dan Aceh Tenggara
Material vulkanik Gunung Sinabung menyelimuti langit kota wisata Berastagi, di Karo, Sumatera Utara, Senin (19/2). Gunung Sinabung erupsi dengan tinggi kolom 5.000 meter.- Foto: Hariansib.co

Melansir dari Hariansib.co, bahwa bu vulkanik menyelimuti beberapa desa di sekitar Gunung Sinabung di Kecamatan Simpang Empat, Namanteran, Payung, Tiganderket dan Munthe. Kondisi di lima kecamatan itu jadi gelap seperti malam hari dengan jarak pandang sekitar 2-5 meter. Selain itu, batuan kecil juga menghujani sejumlah desa antara lain di Desa Sigarang-garang, Kuta Mbaru dan Kuta Rayat.

Warga Desa Naman, Kecamatan Namanteran sudah mengungsi ke desa tetangga Desa Ndeskati untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat luncuran awan panas.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo Martin Sitepu ketika dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, akibat abu vulkanik tersebut, kondisi di kelima kecamatan itu gelap gulita. Hujan abu vulkanik pun masih terus terjadi hingga pukul 14.00 WIB.

"Posisi gelap gulita dengan jarak pandang hanya sekitar 2-5 meter. Yang paling parah di lima kecamatan itu. Tapi, dampak erupsi juga sampai ke kawasan Kuta Buluh," kata Martin, Senin (19/2) di Kabanjahe. Masyarakat diimbau untuk menjauhi zona merah dan mencari tempat yang lebih aman.

Lebih lanjut dikatakan, pengungsi lama sudah ditempatkan di hunian sementara dan sebagian mendapat bantuan sewa rumah dan lahan pertanian dari BNPB. Kebutuhan mendesak masker dan mobil tangki untuk menyemprot abu vulkanik di jalan dan pemukiman warga.

Petugas Gunung Sinabung di Simpang Empat, Armen Putra kepada wartawan, Senin petang mengatakan, erupsi terjadi sekitar pukul 08.53 WIB. "Telah terjadi awan panas letusan dengan tinggi kolom 5.000 meter (5 Km), amplitudo 120 milimeter dan lama gempa 607 detik. Jarak luncur awan panas sektoral Selatan-Tenggara 4.900 meter dan sektoral Tenggara-Timur 3.500 meter. Angin bertiup lemah ke arah Barat-Selatan," jelasnya.

Menurutnya, aktivitas vulkanik masih tinggi dan Gunung Sinabung masih status awas (Level IV). Karena itu, masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 3 Km dari puncak, jarak 7 Km sektor Selatan-Tenggara, jarak 6 Km sektor Tenggara-Timur, serta dalam jarak 4 Km sektor Utara-Timur Gunung Sinabung.

Demikian juga masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung telah terbentuk bendung alam di hulu Sungai Laborus. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar waspada karena bendungan ini dapat jebol karena tidak kuat akibat naiknya volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir. Ia mengingatkan kepada BPBD Karo agar melakukan sosialisasi ancaman bahaya lahar hujan/banjir bandang kepada masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang hilir dan sekitar Sungai Laborus.

Kabid Darurat dan Logistik BPBD Karo Natanael Perangin-angin ketika dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, ada 400 jiwa dari Desa Naman mengungsi sementara ke Desa Ndeskati. Mereka merasa tidak nyaman dan merasa khawatir atas erupsi Gunung Sinabung. Hingga saat ini tidak ada korban jiwa. Ia mengimbau kepada warga yang sempat meninggalkan desanya agar kembali ke desa semula, karena aktivitas erupsi Gunung Sinabung sudah mulai menurun dari semula.

Sementara itu, erupsi Gunung Sinabung berdampak juga pada jalan lintas Tiga Binanga-Kabanjahe persisnya di lintasan Desa Sarinembah hingga Desa Kinepen Kecamatan Munte, Karo sepanjang 15 Kilometer menjadi gelap gulita lantaran tertutup abu vulkanik.

Hal tersebut disampaikan sejumlah pengguna kendaraan masing-masing Jaya Perangin-angin, Kendi Meliala dan Melky Sebayang sopir angkutan umum Sebayang kepada Awak Media, Senin (19/2) melalui selulernya. Menurut mereka, jalan di Desa Sarinembah-Desa Kinepen sepanjang 15 Kilometer menjadi gelap gulita lantaran tertutup abu vulkanik.

Sementara itu di Kecamatan Lau Baleng dan Mardingding debu tebal menutupi jalan sehingga mobil Damkar pos Lau Baleng melakukan penyiraman debu yang cukup tebal sepanjang jalan nasional. Hujan abu juga melanda wilayah Kecamatan Tanah Pinem sekitarnya di Dairi.

Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Tanah Pinem AKP Sabar Pinem. Menurutnya hujan abu terparah di Desa Kuta Buluh dan Desa Balandua Kecamatan Tanah Pinem. Sementara kebutuhan masker yang ada di masyarakat terbatas.

Sementara itu, tim relawan GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) juga turun ke desa-desa di sekitar Gunung Sinabung membagikan masker yang menjadi kebutuhan utama saat itu.

"Saat ini kami memantau ke sejumlah desa untuk mendata kebutuhan warga serta membagi-bagikan masker," kata Ketua Moderamen Pdt Agustinus Purba didampingi Pdt Dormanis Pandia.

Dalam situasi sekarang ini disebutkan perlu penanganan medis terutama bagi anak-anak akibat debu Sinabung untuk mengantisipasi berbagai penyakit terutama ISPA. Juga perlu asupan gizi dan vitamin.

GANGGU AKTIVITAS WARGA DAIRI
Debu vulkanik akibat erupsi Gunung Sinabung sampai di Kabupaten Dairi. Debu sangat tebal hingga mengganggu pernafasan warga dan aktivitas masyarakat.

Pantauan Awak media,  di Sidikalang, Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dairi, Puskesmas Batang Beruh, Palang Merah Indonesia dan Kantor Camat Sidikalang membagikan masker gratis kepada masyarakat dan pengguna kendaraan yang melintas.

Robin Simbolon (47) warga Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Dairi mengatakan, debu Gunung Sinabung kali ini membuat kota penghasil kopi ini tertutup kabut tebal sejak pagi. "Tebal sekali. Kalau keluar harus menggunakan masker, karena debunya sangat tebal hingga membuat pernafasan jadi terganggu. Selain itu, benda-benda yang ada di luar seperti jemuran kain dan lainnya harus kita masukkan kembali ke rumah, karena debunya akan dan membuat kotor," ujarnya.

Irwan Bancin (40) warga Batang Beruh menyampaikan, turunnya hujan sekitar pukul 16.30 WIB membuat debu Sinabung tidak terasa lagi dan dapat membersihkan debu yang menempel pada beberapa benda yang berada di luar.

"Syukurlah turun hujan. Jadi enggak terasa lagi debunya. Debu-debu yang menempel juga bisa dibersihkan hujan. Kita berharap erupsinya sudah berkurang dan mudah-mudahan saudara kita yang di Tanah Karo bisa selalu waspada dan berada dalam lindungan Tuhan," harapnya.

Agara Terkena Dampak
Sementara itu, debu vulkanik Gunung Sinabung juga sampai ke Aceh Tenggara (Agara).
Berdasarkan pantauan Awak Media di Kutacane, sejumlah warung kopi terpaksa ditutup pemiliknya. Sekolah, rumah, perkantoran, kendaraan, lingkungan pertamanan pepohonan semuanya berabu, termasuk di udara terlihat butiran-butiran putih beterbangan.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tenggara H Zainuddin didampingi Sekretarisnya Alpansyah yang dihubungi Awak Media di ruang kerjanya mengatakan, saat ini pihaknya membagikan 10 ribu masker kepada masyarakat.

Dikatakannya, akibat abu letusan gunung bisa menyebabkan flu dan ISPA. Ada sekitar 10 ribu masker sudah dibagikan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Dinas Kesehatan, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karo yang terkena dampak terparah abu vulkanik Sinabung, seperti Kecamatan Babul Makmur, Lawe Sigala-gala, Leuser dan Semadam.

Kepada seluruh warga dianjurkan menggunakan masker, apabila ada kejadian sakit segera laporkan atau datangi puskesmas terdekat.

Pantauan di lapangan, terlihat Kadiskes Agara langsung ikut membagikan masker kepada masyarakat, pejalan kaki, pengendara roda dua, empat dan becak bermotor di jalan nasional di depan kantor Dinkes setempat.

Lihat Videonya di bawah ini

Dahsyatnya Letusan Gunung Sinabung, Ubah Siang Jadi Gulita
#SekilasIngpo #ErupsiGunungSInabung

Dahsyatnya Letusan Gunung Sinabung, Ubah Siang Jadi Gulita

Suasana mencekam akibat erupsi sinabung yang sangat besar hari ini (Senin, 19/2/2018)... siang bagaikan malam..

Report : Sudarmono mono
Dikirim oleh Batak Network pada 20 Februari 2018


Siap Turunkan Bansos dan Tagana
Sementara itu, Menteri Sosial Idrus Marham yakin tidak ada kendala dalam menangani bencana meletusnya Gunung Sinabung. Bantuan sosial hingga relawan disebut siap diterjunkan ke lokasi.

"Di sana kan sudah kejadian, ini kan susulan jadi saya punya keyakinan itu tidak ada masalah bagi kita semua, utamanya Kemensos secara fungsional bertanggung jawab masalah itu," kata Idrus di Gedung Kemensos, Jalan Salemba Raya, Kenari, Senen, Jakarta Pusat.

Menurut Idrus, Kemensos memiliki Penerapan Standar Operasional (protap) setiap terjadi bencana. Protap tersebut merupakan bentuk respons cepat dari pemerintah.

"Biasanya langkah yang kita ambil, satu, ini instruksi Bapak Presiden (Presiden Joko Widodo). Pastikan siapapun yang kena dampak sebuah bencana, pastikan semua bisa makan. Jangan sampai tidak ada yang terurusi makannya," tuturnya.

"Karena itu pasti nanti bansos dari kita itu pasti akan turun. Kemudian yang kedua pasti ada dapur umum ada mobil-mobil yang sudah siap nanti seperti itu," tambahnya.

Ketiga, kata Idrus, jika ada rumah warga yang rusak, Kemensos juga akan menyiapkan tenda-tenda pengungsian. Selain itu, Kemensos juga memiliki relawan yang siap siaga menangani bencana alam. "Kemensos punya tenaga yang namanya Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang selalu siap mengambil langkah-langkah cepat setiap ada musibah di manapun daerah terjadi," ujarnya.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Laporan: tim
Sumber: hariansib
loading...

No comments

Powered by Blogger.