Header Ads

Bareskrim Dalami Pemodal, Aliran Dana Serta Pemesan Hoax MCA

WARTAAGS.COM - Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menegaskan akan mendalami pelaku utama dan pemilik modal penyebar hoax dan ujaran kebencian yang dilakukan kelompok Muslim Cyber Army (MCA).

Bareskrim Dalami Pemodal, Aliran Dana Serta Pemesan Hoax MCA
Tim Siber Bareskrim Mabes Polri menghadirkan tersangka saat merilis pengungkapan sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/2). Direktorat Tindak Pidana (Dirtipid) Siber Bareskrim Polri menangkap enam orang yang tergabung dalam grup WhatsApp The Family Muslim Cyber Army (MCA) dan tersangka kasus ujaran kebencian/SARA serta kasus yang diselesaikan secara restorative Justice. - Foto: hariansib.co

"Belum ada (ditemukan pelaku utama alias otak) MCA sedang diselidiki. Kami sedang dalami siapa yang menyuruh dan dari mana dapatkan modal sehingga bisa lakukan kegiatan seperti ini," ujar Fadil di Bareskrim Polri, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2).

Fadil mengatakan, pihaknya juga mengejar identitas pemesan hoax ke MCA. Akan diselidiki keterkaitannya dengan organisasi atau individu tertentu.

"Sedang kami dalami siapa yang order. Apakah ada kaitannya dengan ormas atau organisasi apapun, siapa yang biayai, kasih kami waktu," ujar Fadil.

Fadil juga menduga terdapat sejumlah aliran dana dalam setiap jaringan MCA menyebarkan hoax. Hal ini terlihat dari sistem kerja MCA yang terstuktur.

"Walau kemarin saya katakan kelompok ini nggak terstruktur seperti Saracen. Namun kerja secara sistematis. Jumlahnya (biayanya) bisa banyak," ujar Fadil.

Kelompok MCA ini merupakan kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Ada 4 jaringan yang bekerja bertugas untuk menampung, merencanakan, menyebar dan menyerang kelompok lain agar hoax yang disebar berhasil.

Bareskrim Polri menangkap enam tersangka pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang dan Dosen UII, TAW (40) yang ditangkap di Yogyakarta.

BACA JUGA: Inilah Sosok Dosen Anggota MCA Penyebar Hoax yang Ditangkap Polisi


Segera Serahkan Diri
Fadil Imran juga mengimbau wanita berinisial TM, anggota kelompok MCA segera menyerahkan diri. TM diduga sebagai salah satu konseptor dalam modus operandi hoax MCA.

"Saya imbau TM, jenis kelaminya adalah perempuan sebagai konseptor yang juga member, untuk menyerahkan diri," ujar Fadil.

Fadil menyebut, konseptor ini merupakan member yang tergabung dalam jaringan 'The Family MCA'. Jaringan ini terdiri dari 9 admin yang memiliki pengaruh di grup-grup lain kelompok MCA.

Kelompok ini merupakan anggota inti MCA yang bertugas mengatur dan merencanakan strategi menyebarkan hoax dan ujaran kebencian.

"Mereka (The Family CMA) ini adalah anggota inti, " ujar Fadil.

Fadil juga mengungkapkan pihaknya masih memburu anggota MCA, Suhendra Purnama, yang diduga berada di Korea Selatan. Suhendra, kata Fadil, adalah konseptor lain kelompok MCA.

"Yang di Korea Selatan. Konseptornya kami tunda dulu," ujar Fadil.

BACA JUGA: Polisi Buru Anggota The Family MCA Hingga ke Korea Selatan


Direkrut Secara Khusus
Fadil Imran mengatakan, kelompok MCA melakukan tes khusus untuk merekrut member menjadi admin. Calon admin nantinya akan ditempatkan dalam jaringan sesuai kebutuhan MCA.

"Kan para pelaku ini merekrut dengan melihat dari grup-grup dan dilihat-lihatlah calonnya," kata Fadil.

Fadil mengatakan, calon admin akan dilihat visi-misi yang sama dengan MCA serta memiliki kemampuan penggunaan alat elektronik. Selain itu, admin harus beragama Islam.

"Memproduksi, visi-misi, dan sebagainya, dan punya kemampuan komputer apa nggak nanti kan mereka komunikasi lewat aplikasi Zelo," ujar Fadil.

Fadil mencontohkan perekrutan di tim 'The Family CMA (TFMCA)'. Calon admin yang diterima adalah calon yang telah memiliki pengalaman di grup-grup di bawah tim (TFMCA).

"Lebih dalam lagi TFCMA. Ini wadah yang sudah lolos di grup-grup kecil dan dianggap lolos. Bahkan mereka juga dibayar. Ini masih kita dalami, " ujar Fadil.

Seperti diketahui, ada empat jaringan besar dalam kelompok MCA. Pertama, kelompok The Family MCA yang bertugas merencanakan dan mempengaruhi member lain. Ada 9 admin dalam grup ini.

Kedua, kelompok Cyber Moeslim Defeat Army yang bertugas melakukan setting isu hoax yang akan diviralkan. Ada 145 member dalam jaringan ini. Ketiga, kelompok Snipper yang bertugas menyerang seseorang atau kelompok yang diduga lawan MCA. Ada 177 member MCA dalam grup ini. Keempat, MCA United yang merupakan grup terbuka bagi siapa yang memiliki visi-misi MCA.

Dibagikan 150 Ribu Kali
Polisi menyebut berita hoax yang diunggah anggota MCA inisial TAW (40) sudah dibagikan sebanyak 150.000 kali. Berita hoax yang diunggah merupakan informasi meresahkan terkait seorang muazin yang disebut meninggal dibunuh orang gila.

"Dari data yang ada, upload-an pertama dari yang bersangkutan (TAW) sudah diteruskan sampai 150 ribu kali reupload," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Bandung.

Menurut Umar, sejauh ini 150 ribu kali dibagikan tersebut hanya melalui media sosial (medsos) Facebook. Ia menduga hoax yang dibuat TAW itu disebarkan juga melalui aplikasi perpesanan WhatsApp (WA).

"Tidak menutup kemungkinan di WA group. Ini kita bicara 150 ribu kali ini di medsos (FB), belum di WA. Kita masih selidiki," kata Umar.

TAW ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Reskrimum Polda Jabar di Jakarta Utara pada Senin (26/2) malam. Personel langsung menggiring TAW yang berprofesi sebagai dosen tersebut ke Polres Majalengka.

Kasus bermula saat adanya informasi di medsos Facebook yang ditulis akun Tara Dev Sams pada Sabtu (17/2) lalu. Ia menulis berita yang isinya soal muazin dianiaya orang diduga gila.

Dari hasil penyidikan, polisi memastikan tidak ada korban muazin dan pelaku orang gila. Namun unggahan TAW di Facebook telah membuat resah warga Majalengka.

Polisi kemudian memburu pengunggah berita tersebut. Hingga akhirnya, polisi menemukan identitas dan menangkap TAW.

Harus Diproses
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin meminta pelaku ditindak tegas.

Ma'ruf mengatakan pelaku yang menyebarkan berita bohong bisa menimbulkan konflik. Untuk itu, polisi harus bertindak tegas.

"Siapa saja yang menyebarkan hoax itu, dari mana saja, ya harus diproses. Itu menimbulkan kegaduhan, bisa terjadi konflik. Oleh karena itu, pihak kepolisian tidak usah ragu di mana saja harus diproses," ujar Ma'ruf saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Ma'ruf juga mengimbau masyarakat tidak lagi menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Bahkan dia meminta masyarakat tidak menggunakan kata 'muslim' untuk menyebarkan berita bohong.

BACA JUGA: The Family MCA 'Goreng' Isu PKI dan Penganiayaan Tokoh Agama

"Tentu saja jangan melakukan (hoax), jangan menggunakan nama (MCA) melakukan itu, termasuk jangan juga menggunakan nama 'muslim' kan. Dan yang penting jangan melakukan hoax. Itu supaya negara ini aman," tegasnya.

"Negara ini harus kita jaga, kawal supaya keutuhan bangsa tetap terjaga," tambahnya. (detikcom/hariansib)

LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Hati-hati Penelpon Penipuan Mengatasnamakan Petugas Grapari Telkomsel, Ini Cara Mengerjainya


loading...

No comments

Powered by Blogger.