Header Ads

Duet Jokowi-AHY Terganjal Perang Dingin Mega-SBY ?

WARTAGAS.COM - Alat pemukul gong itu sudah di tangannya. Tapi Presiden Joko Widodo tak langsung mengayunkan ke arah gong. Dia melambaikan tangan ke arah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang saat itu berdiri bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Hinca Panjaitan untuk berdiri di sampingnya.

Duet Jokowi-AHY Terganjal Perang Dingin Mega-SBY ?
SBY dan Megawati - Foto: hariansib.co

Lalu, 'Dung.. dung.. dung.. dung!', tepuk tangan pun membahana sebagai tanda Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat resmi dibuka di Sentul, 10 Maret lalu.

Ajakan Jokowi kepada AHY selaku Ketua Komando Tugas Bersama Partai Demokrat untuk mendampinginya memukul gong ada yang menafsirkan sebagai simbol untuk berduet dalam Pemilihan Presiden 2019.

PDIP sebagai pendukung utama mengakui bahwa nama AHY masuk dalam daftar pertimbangan cawapres Jokowi. Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menyebut ada tiga daftar terkait isu tersebut.

Ada daftar panjang yang berisi nama-nama yang memenuhi kriteria umum, daftar pendek yang berisi kriteria lebih spesifik, dan daftar prioritas.

"Saya menduga nama AHY masuk daftar pendek," kata Hendarawan kepada wartawan, Senin (12/3). Namun dia enggan menyebut apakah AHY akan masuk ke dalam daftar prioritas. Sebab belum ada pembicaraan lebih lanjut soal itu.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyebut tipis kemungkinan Jokowi duet dengan AHY.
Apalagi hubungan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono hingga saat ini masih dingin.

"SBY dan Megawati sampai sekarang masih perang dingin. Jangan lupa, penentu pendamping presiden Jokowi veto player bukan sama Jokowi namun ditentukan Megawati. Veto player itu aktor determinan yang menentukan kebijakan strategis," kata Pangi.

Menurut dia, jika Jokowi disandingkan dengan AHY, PDIP seolah membesarkan kader Demokrat dan berpeluang berkuasa dua periode selanjutnya. Kalau pun PDIP mengambil Cawapres dari luar partai, kata Pangi, tentu tak akan mengambil dari luar Partai Demokrat. "PDIP tentu enggak akan membiarkan AHY jadi cawapres Jokowi," tambah Pangi.

Perang dingin SBY dengan Megawati ditandai mundurnya SBY dari jabatan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan menjelang Pilpres 2004. Saat itu Megawati adalah Presiden RI dan maju ke pilpres sebagai petahana, tapi akhirnya SBY yang menang.

Kini SBY dan Megawati tak maju lagi mencalonkan diri. Sebagai Ketua Umum PDIP, Megawati punya jagoan, yakni Jokowi, yang sudah mendapat dukungan untuk menjadi capres. Sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, SBY punya putra yang juga mulai moncer dalam beberapa survei, yakni AHY.

Kesampingkan Masa Lalu
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menyatakan tak ada urusan emosional dalam memutuskan cawapres Jokowi pada Pilpres 2019.

"Bukan itu persoalannya. Ini melewati pertimbangan rasional. Saya selalu katakan ada hal-hal yang menyangkut elektoral, kompetensi, dan fungsional ketika menjadi wapres ketika di pemerintahan. Itu yang harus dihitung. Bukan soal emosi dan lain lain," kata Andreas di kompleks parlemen, Senayan.

Ia menyebut kesempatan cawapres Jokowi dari parpol lain masih terbuka luas. PDIP, sebut Andreas, tak memaksakan cawapres dari kader PDIP.

"Bisa ya, bisa tidak (selain kader PDIP). Jokowi kan sudah kader PDIP," sebutnya.

"Kita membuka peluang. Siapa saja mau, bisa," sambung anggota Komisi I DPR itu.

Soal nama AHY yang disebut masuk daftar pertimbangan cawapres Jokowi, Andreas mengatakan masih dalam proses pembahasan. PDIP meramu semua nama yang berminat bersanding dengan Jokowi pada pilpres mendatang.

"Posisi ini karena banyak yang berminat, ya lewat seleksi. Kalau Pak AHY tentu punya minat, silakan saja. Tapi tentu Pak Jokowi dengan parpol-parpol yang mendukung akan melakukan proses seleksi," ujarnya.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Sumber: hariansib / detikcom
loading...

No comments

Powered by Blogger.