Header Ads

Ternyata Antara Djarot dan Edy, "BETI" di Pilgubsu 2018

WARTAGAS.COM - Lembaga Survei Indo Barometer menggelar survei elektabilitas calon gubernur di Pilgub Sumut 2018. Hasilnya, elektabilitas mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat beda tipis ("beti"-meminjam istilah percakapan zaman sekarang) mengungguli Edy Rahmayadi yang mantan Pangdam I/BB dan mantan Pangkostrad.

Ternyata Antara Djarot dan Edy, "BETI" di Pilgubsu 2018
Edy Rahmayadi & Djarot Saiful Hidayat - Foto: HarianSIB

Survei dilakukan 4-10 Februari 2018 di 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dengan responden sebanyak 800 orang. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error sebesar +/- 3,46% dan tingkat kepercayaan 95%.

"Untuk hasil survei Pilkada Sumut, jujur dominan di Djarot. Pak Djarot memperoleh dukungan sebesar 27,8%," kata Direktur Indo Barometer M Qodari saat memaparkan hasil survei terhadap Pilgub Sumut di Hotel Atlete Century, Senayan, Jakarta, Jumat (23/3).

Jumlah persentase tersebut bersaing sangat ketat dengan Edy Rahmayadi dengan 27,4% suara. Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih) juga masih disurvei, tapi elektabilitasnya jauh dari Djarot dan Edy.

"Bersaing sangat kuat dengan Edy Rahmayadi yang memperoleh dukungan 27,4%. Kemudian JR ini memperoleh 9,4%," sebutnya. JR Saragih diketahui tak lolos jadi cagub Sumut karena terkendala masalah ijazah.

Jika dipasangkan, Djarot dan wakilnya Sihar PH Sitorus, kembali berada di posisi teratas. Menyusul di bawahnya pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah dengan jumlah suara yang juga bersaing tipis.

"Pasangan Djarot-Sihar memperoleh dukungan sebesar 26%. Bersaing kuat dengan pasangan Edy-Musa dengan dukungan 25,8%," tutur Qodari.

Berikut ini hasil survei yang dilakukan Indo Barometer terhadap calon gubernur dan wakil gubernur di Pilgub Sumut 2018 terhadap pertanyaan simulasi 3 pasangan cagub-cawagub:

Djarot Saiful Hidayat-Sihar PH Sitorus 26,0%

Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah 25,8%

Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih)-Ance Selian 8,4%

Tidak akan Memilih 0,3%

Rahasia 11,1%

Belum Memutuskan 22,6%

Tidak Tahu/Tidak Jawab 5,8%


Sedangkan untuk elektabilitas calon Gubernur Sumut tanpa berpasangan, berikut ini hasil surveinya:
Djarot Saiful Hidayat 27,8%

Edy Rahmayadi 27,4%

Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih) 9,4%

Tidak akan Memilih 0,2%

Rahasia 9,4%

Belum Memutuskan 19,6%

Tidak Tahu/Tidak Jawab 6,2%





BATU UJIAN
Sementara itu, Menteri Sosial Idrus Marham, selaku Koordinator Bidang Pemenangan Pilkada DPP Partai Golkar mengemukakan, Pilkada di Sumatera Utara dan daerah lainnya di Indonesia, merupakan ujian bagi elit politik di negeri ini supaya konsisten tidak menggunakan simbol-simbol primordialistik yang bisa mendorong terjadinya konflik.

Tetapi, sebaliknya, harus sama sama berkomitmen untuk mendorong persaingan kualitatif, dengan mengedepankan perdebatan konseptual, ide dan gagasan menjadi instrumen program para calon.

Idrus Marham menyatakan hal itu ketika tampil sebagai pembicara dalam diskusi dengan tema "Permasalahan dan Konstelasi Politik Sumut 2018", bersama politisi PDI-P Maruarar Sirait dan Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari.

Mantan Sekjen DPP Partai Golkar ini membenarkan, biasanya pendukung calon bisa terpancing untuk memanfaatkan cara cara yang tidak berkualitas bahkan menghalalkan segala cara.

Apalagi, melihat track record pasangan calon di Pilkada Sumut, memungkinkan hal itu terjadi. Misalnya, mengaktifkan, kembali simbol-simbol primordialisme. Dan kalau hal ini benar terjadi, maka sangat rawan terjadi konflik..

Karena itu, Idrus Marham berharap proses dan pelaksanaan Pilkada Sumut dilaksanakan secara demokratis dan berkualitas, karena Pilkada yang berkualitas akan melahirkan pemimpin yang berkwalitas pula.

Politisi Partai Golkar ini tidak ingin usai Pilkada terjadi konflik yang berkepanjangan.

"Jangan sampai nanti pasangan calon yang menang hanya sibuk dengan tugas menyelesaikan konflik yang terjadi," kata Idrus Marham.

Harapan serupa juga disampaikan anggota DPR RI Maruarar Sirait yang mewakili partai pengusung Djarot Saiful Hidayat-Sihar PH Sitorus. Dia juga tidak ingin terjadi konflik pasca Pilkada.

"Kalau bisa tirulah Pak Jokowi dan Pak Prabowo ketika Pilpres 2014 lalu. Mereka saling menghargai dan saling mengunjungi, ketika sudah diketahui siapa pemenangnya," kata Ara, (panggilan akrab Maruarar Sirait).

Politisi PDI-P ini memprediksi pertarungan Paslon di Pilkada Sumut berlangsung ketat. Namun, calon Gubsu Djarot Saiful Hidayat punya keunggulan, merupakan sosok yang jujur, bersih dari korupsi, mampu memimpin dan merakyat.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Usai diperiksa JR Saragih memberikan pernyataan di depan massa pendukung




Sumber: hariansib.co
loading...

No comments

Powered by Blogger.