Header Ads

Viral di Medsos! Turnip se-Indonesia Minta Pernikahan Gomgom Tambunan Dibatalkan

WARTAGAS.COM - Pomparan Turnip se-Indonesia meminta pihak Pengadilan Negeri (PN) Balige, Kabupaten Tobasa, membatalkan pernikahan Margomgom Luhut Martua Tambunan alia Gomgom (34) dengan Dortaida Hutahaean.

Viral di Medsos! Turnip se-Indonesia Minta Pernikahan Gomgom Tambunan Dibatalkan
Helen Eunika Turnip. - Foto: ist/metro24jam.com

Kasus ini sempat viral di media sosial, setelah Helen Eunika boru Turnip, mendatangi gereja HKBP Tambunan, Balige, Kabupaten Tobasa, di mana Gomgom dan Dortaida melangsungkan pernikahan, Sabtu (24/3/2018)–sambil menggendong bayinya yang masih berusia 1 tahun 4 bulan.

Ketua Punguan Turnip Kota Siantar, Bob W Turnip (62), didampingi Pinondang Turnip (55) dan Op Birgita Turnip, kepada Siantar24Jam, di Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Nagapita, Kecamatan Siantar Martoba, Siantar menyampaikan hal itu saat mendampingi Helen yang datang dari Balige, Kamis (29/3/2018) sore.

Ketua Punguan Turnip Kota Siantar, Bob W Turnip
Bob W Turnip. - Foto: ist/metro24jam.com

Bob mengatakan, dalam hal ini, pendeta seharusnya benar-benar menjalankan aturan yang dibuat HKBP.

“Kita berharap, pernikahan itu bisa dibatalkan, karena Gomgom sesungguhnya sudah berbohong. Di mana dia sebetulnya sudah memiliki anak dari hasil hubungannya dengan Helen. Bahkan untuk membuktikan kebenaran anaknya yang kini dibawa Helen, keluarga siap melakukan uji DNA,” katanya.

Bob mengingatkan, harus ada penegakan aturan dalam kehidupan ini. Tuntutan dari Turnip se-Inodensia bahkan Parna se-Indonesia meminta Gomgom mengakui anaknya Michael.

“Karena Michael ini adalah anaknya Tambunan. Biar ada nama dan silsilah anak ini, karena tak mungkin ini dibuat jadi marga Turnip,” tukasnya.

Bob lebih jauh menegaskan, keluarga besar Turnip dan Parna se-Indonesia berharap juga kepada Ephorus HKBP agar dengan bijak menyikapi permasalahan ini dan tetap mengacu pada peraturan HKBP.

“Sekaligus agar dievaluasi pendeta yang memberkati pernikahan itu. Agar tidak terjadi hal-hal yang sama di belakang hari,” katanya.

Begitu juga kepada Pengadilan Negeri Balige, diharapkan dapat menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Seharusnya pernikahan Gomgom dan DH dibatalkan demi tegaknya masalah ini sesuai aturan.

Sementara itu Op Birgita Turnip menimpali, sikap pendeta HKBP Tambunan seolah-olah tak mendukung apa yang dirasakan Helen dan anaknya Michael. Pendeta bahkan mengabaikan beberapa komunikasi yang coba dilakukan keluarga Turnip untuk mengklarifikasi hubungan Gomgom dan Helen.

“Pendeta tak menghargai. Bahkan, somasi yang sudah dia terima diabaikan. Sebagai bukti pemberkatan pernikahan dipercepat,” katanya.

Kepada pihak Tambunan, dia meminta bertanggung jawab terhadap Michael. Meski anak itu lahir dari hubungan di bawah tangan, harusnya tetap ditanggungjawabi sampai dewasa.

“Gomgom anak sasada. Bapaknya masih hidup. Harus bertanggung jawab. Status anak ini kelak akan terkendala di administrasi kependudukan kalau tak ada pengakuan dari Tambunan, harus jelas ke depan,” tambahnya.

Lebih jauh dia menuding, dalam persoalan ini pendeta justru memperkeruh situasi. Pendeta tak berada di posisi tengah. Pendeta berpihak kepada keluarga Tambunan.

Pendeta HKBP Tambunan, yang memberkati Gomgom dan Dorta, Pdt Lintong Sitorus dalam klarifikasi melalui media sosial, Senin (26/3/2018) menyebutkan, Gomgom melakukan acara pranikah atau martuppol pada 8 Maret 2018 di HKI Huta Gurgur, Borbor dengan pemberitahuan pertama dan kedua.

Pada saat pengurus gereja HKBP Tambunan melakukan acara rapat atau sermon di gereja, mereka mendapat telepon dari orang yang mengaku bermarga Turnip dari Pekanbaru, yang menyatakan keberatan pihaknya atas rencana pemberkatan pernikahan Gomgom pada Sabtu (24/3/2018).

“Setelah acara sermon Guru Jemaat H Sihombing mengatakan kepada saya ada telepon Amang dari Pekabaru keberatan pemberkatan si Gomgom hari Sabtu,” katanya,” menirukan ucapan H Sihombing.

Pdt Lintong mengaku meminta guru jemaat untuk mengontak Gomgom, agar datang ke gereja bersama orangtuanya mempertanyakan soal status Gomgom.

Selanjutnya mengikuti perkataan marga Turnip bahwa pihaknya sudah meluncur dari Pekanbaru dan sesuai dengan janjinya akan tiba Tambunan, Sabtu (24/3/2018) jam 08.00 Wib.

Namun, terang Pdt Lintong, setelah ditunggu-tunggu Turnip tak kunjung datang. Pdt Lintong mengaku kesal, karena pihak Turnip yang merasa keberatan, [justru] tidak bertanggung jawab menuntut dengan tidak datang ke gereja atau ke pendeta.

“Saya undang, saya telepon dia yang mengaku-ngaku marga Turnip itu, tapi tidak datang. Itulah situasi yang terjadi,” ujarnya.

Surat keterangan lahir Michael
Surat keterangan lahir Michael.- Foto: ist/metro24jam.com


‘Michael’ Diambil dari Nama Oppung Gomgom
Helen yang datang dengan bayinya Michael, di Jalan Rakutta Sembiring, Kota Siantar, menyebut, nama anaknya itu adalah pemberian Gomgom.

Michael lahir pada 27 November 2016 dinihari sekitar jam 02.00 Wib di rumah seorang bidan, di Cikapmak dan Gomgom saat itu tiba sekira jam 06.00, empat jam setelah Michael lahir.

“Gomgom lah yang memberikan nama anak kami. Michael Martua Mora Tambunan. Nama Michael itu merupakan nama oppungnya si Gomgom,” terang Helen, yang mengaku sudah berstatus janda saat berkenalan dengan Gomgom.

Saat Michael dibawa ke Balige, banyak warga di sekitar kampung keluarga Gomgom mengakui betapa miripnya Michael dengan Gomgom.

Dan hampir 90 persen warga kampung sudah tahu Helen dan Gomgom sudah memiliki anak bernama Michael. Namun keluarga Gomgom bersikukuh tak mengenal Helenm bahkan berani bersumpah di bawah kitab suci di hadapan seorang pendeta. [*]


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Klrarifikasi Pdt. Lintong Sitorus HKBP Tambunan Tentang Pernikahan Margomgon dan Dortaida




Sumber: metro24jam.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.