Header Ads

Dengan Diiringi Musik Khas Simalungun, Warga Desak DPRD Copot Wali Kota Siantar

WARTAGAS.COM - Masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Simalungun Bersatu (GKSB) berunjuk rasa di depan kantor Wali Kota Pematangsiantar, di Jalan Merdeka.

Dengan Diiringi Musik Khas Simalungun, Warga Desak DPRD Copot Wali Kota Siantar
Dengan Diiringi Musik Khas Simalungun, Warga Desak DPRD Copot Wali Kota Siantar - Foto: Ist

Massa mendesak DPRD setempat untuk mencopot Wali Kota Pematang Siantar, Hefriansyah dengan cara pemakzulan (impeachment) karena dinilai telah menghina etnis Simalungun lewat sejumlah kebijakan yang dilakukannya.

Adapun kebijakan yang menjadi perhatian warga diantaranya minimnya pejabat ber-etnis Simalungun, permohonan warga etnis Simalungun untuk pembangunan Tugu Sangnaualuh yang sudah 10 tahun disampaikan, yang sampai saat ini belum direalisasikan sementara tugu becak dibangun dalam waktu singkat di pusat kota.

Pada peringatan HUT Kota Pematangsiantar, suku Simalungun sebagai pemilik tanah leluhur juga merasa dihina dan dianggap pusaka atau tinggal sejarah. Sebab, di gambar berbagai sosialisasi terlihat rumah adat Simalungun kecil dengan dikelilingi tujuh adat dan budaya suku lain dan tidak ada adat dan budaya Simalungun.

Dalam orasinya, Rado Damanik menilai kebijakan Wali Kota Pematangsiantar,Hefriansyah yang tidak menghargai dan menghormati suku Simalungun sebagai pemilik leluhur tanah dan budaya Kota Pematangsiantar telah menimbulkan keresahan di kalangan etnis Simalungun.

Atas dasar itu, warga etnis Simalungun di Kota Pematangsiantar mendesak DPRD untuk segera melakukan rapat melengserkan Wali Kota Hefriansyah dari jabatannya karena telah melanggar undang-undang nomor 40 tahun 2008 tentang diskriminasi ras dan etnis.

“Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah telah melanggar sumpah jabatan dengan melanggar undang-undang nomor 40 tahun 2008, karena sudah selayaknya diberhentikan dari jabatannya,sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” sebut Rado.

Kebijakan Walikota Pematangsiantar menurut Rado sangat berpotensi menimbulkan pertikaian dan gejolak SARA di tengah-tengah masyarakat, padahal selama ini hubungan harmonis antar etnis sudah terjaga dengan baik.

Meski lama menunggu namun tidak satupun pejabat Pemko Pematangsiantar termasuk Wali Kota Hefriansyah yang bersedia menerima para pengunjuk rasa untuk berdialog.

Aksi massa di depan kantor walikota Jalan Merdeka sempat menimbulkan kemacetan,karena ruas jalan tersebut ditutup,sehingga arus kenderaan dialihkan ke Jalan WR Supratman menuju Jalan Merdeka.

Dari kantor wali kota massa melanjutkan aksinya ke kantor DPRD Pematangsiantar dan perwakilan pengunjuk rasa diterima anggota komisi I,Frans Bungaran Sitanggang dan Hotmalina Malau yang berjani menyampaika aspirasi warga etnis Simalungun kepada pimpian dewan. “Aspirasi warga etnis Simalungun,diterima DPRD Pematangsiantar dan akan disampaikan kepada pimpinan dewan untuk ditindak lanjuti segera,” tegas Frans.


LIHAT VIDEO LIPUTANNYA DI BAWAH INI
Dengan Diiringi Musik Khas Simalungun, Warga Desak DPRD Copot Wali Kota Siantar




Laporan: TIm
Kamerawan: Tagor Leo
Sumber: medanmerdeka.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.