Header Ads

Massa Aksi Bela 212 Geruduk Polda Sumut, Bawa Atribut Bertulisan Kalimat Tauhid

WARTAGAS.COM - Usai Salat Jumat, ratusan umat Islam menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda Sumut, Jumat (6/4/2018).

Massa Aksi Bela 212 Geruduk Polda Sumut, Bawa Atribut Bertulisan Kalimat Tauhid
Massa 212 di Mapolda Sumut, Jumat (6/4/2018) - Foto: tribun-medan.com

Pantauan Awak Media, massa mulai berdatangan sekitar pukul 14.20 WIB.

Unjuk rasa ini merupakan sikap protes dari puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap menista ajaran agama Islam.

Mayoritas massa yang datang menggunakan pakaian putih dan membawa atribut yang bertulisan kalimat Tauhid.



Sebelumnya Sukmawati Soekarnoputri sudah meminta maaf.

"Saya mewakili pribadi tidak ada niat menghina umat Islam Indonesia dengan puisi 'Ibu Indonesia'. Saya adalah muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislaman saya," ujar Sukmawati dalam jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Permintaan maaf dan klarifikasi itu menyangkut puisi yang dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya, di ajang Indonesia Fashion Week 2018, di Jakarta Convention Centre, Jakarta Rabu (28/3/2018) lalu.

Dalam konferensi pers ini Sukmawati sempat menangis.

"Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam Indonesia, khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan pada puisi 'Ibu Indonesia', " ujar Sukmawati sambil menangis.

Ia mengaku puisi 'Ibu Indonesia' ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan, khususnya umat Islam.

"Selain itu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Anne Avantie dan keluarga serta apresiasi dan terima kasih kepada seluruh fashion designer Indonesia agar tetap berkreasi dan produktif," katanya.

Dalam kesempatan itu Sukmawati menyebut dirinya tidak mungkin bermaksud menghina umat Islam.

"Saya putri seorang proklamator, Bung Karno, yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan tokoh yang mendapatkan gelar dari Nahdlatul Ulama sebagai waliyyul amri addlaruri bissyaukah, pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan kebijakannya mengikat secara de facto dengan kekuasaan penuh," ujar Sukmawati.

Sukmawati menyebut puisi 'Ibu Indonesia' merupakan bagian dari buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang telah diterbitkan pada 2006.

"Puisi Ibu Indonesia ini ditulis sebagai refleksi dari keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan yang saya rangkum semata mata untuk menarik perhatian anak anak bangsa agar tidak melupakan jati diri Indonesia asli," ujar Sukmawati.

Sukmawati menjelaskan puisi 'Ibu Indonesia' itu adalah pandangan pribadinya sebagai seorang seniman dan budayawati. Puisi itu murni karya Sastra.

Meski Sukmawati telah menyampaikan permintaan maaf, dua pelapor menolak mencabut laporan.

Politisi Partai Hanura, Amron Asyhari, mengatakan proses hukum tetap harus berjalan.

"Ya tetap proses jalur hukum, tetap berlanjut. Kami ingin hukum ditegakkan ya," ujar Amron.

Amron mengatakan, tak mudah mencabut laporan. Menurutnya harus ada persamaan di hadapan hukum. Menurutnya, permintaan maaf yang disampaikan Sukmawati tak akan berpengaruh terhadap proses hukum dalam kasus tersebut.

"Tidak bisa dong seenaknya saja. Katakan sudah meminta maaf, itu bukan berarti selesai kasus ini," ujarnya.

Amron meminta polisi tetap menindaklanjuti laporannya sesesuai hukum yang berlaku.

Pengacara bernama Denny Andrian Kushidayat yang juga melaporkan Sukmawati mengaku tidak akan mencabut laporan.

"Bu Sukmawati sudah sepantasnya mengikuti prosedur hukum," ujar Denny.

Secara pribadi, Denny menerima permintaam maaf Sukmawati. Tapi proses hukum harus tetap berjalan.

Pelaporan ini, sebagai bentuk pelajaran kepada semua pihak agar lebih berhati hati dan tidak menyinggung sesuatu kepercayaan yang ada di masyarakat.

"Buat saya tidak akan dicabut, tetap lanjut," ujar Denny.

Keduanya menganggap, puisi Sukmawati mengandung unsur penistaan agama. Video saat Sukmawati membacakan puisi viral di media sosial dan dianggap meresahkan umat Islam oleh kedua pelapor.

Laporan yang dibuat Denny telah diterima polisi, bernomor LP/1782/VI/2018/PMJ/Dit. Reskrimum.

Sementara laporan Amron telah diterima polisi bernomor LP/1785/IV/2018/PMJ/ Dit. Reskrimum. [*]


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Sumber: tribun-medan.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.