Header Ads

Uni Eropa Tolak Sawit Indonesia, Menko Luhut: Paus Fransiskus Siap Bantu Indonesia dari Ancaman UE

WARTAGAS.COM - Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan mengatakan, Vatican akan membantu Indonesia dalam menghadapi ancaman Uni Eropa untuk menghapus penggunaan biodiesel dari kelapa sawit.

Uni Eropa Tolak Sawit Indonesia, Menko Luhut: Paus Fransiskus Siap Bantu Indonesia dari Ancaman UE
Paus Fransiskus saat menerima titipan "doa pita iklim" dari Christina Leano yang mewakili tim GCCM. - Foto: tribun-medan.com

Hal ini disampaikan Kardinal Peter Turkson, Direktur Lembaga Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian di kota Vatican, Rabu (25/4/2018).

“Kardinal Turkson menyampaikan bahwa Ia concern dengan nasib petani sawit dan jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada industri kelapa sawit ini. Beliau secara khusus menyatakan apa yang akan terjadi jika mereka ini -yang sebagian besar Muslim- tidak mempunyai penghasilan lagi. Karena itu, Kardinal Turkson menggagas untuk mengadakan seminar yang membicarakan hal ini di Universitas Kepausan di Vatican bulan depan, " ujar Menko Luhut usai pertemuan.


Menurut Menko Luhut dalam pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu dibahas tentang apa yang dapat dilakukan untuk mencegah jangan sampai jumlah orang yang dikategorikan miskin bertambah.

Seminar akan mengundang unsur-unsur dari Uni Eropa, perusahaan multi-nasional pengguna produk kelapa sawit, petani rakyat khususnya dari Malaysia dan Indonesia serta lenbaga-lembaga keagamaan.

Menko Luhut mengusulkan untuk mengundang organisasi keagamaan terbesar seperti NU dan Muhammadiyah karena untuk Indonesia, yang dikhawatirkannya adalah tumbuhnya paham-paham radikal sebagai dampak dari kemiskinan.

Menko Luhut juga menjelaskan kepada Kardinal Turkson apa saja yang telah dilakukan Indonesia, seperti pembersihan sungai Citarum yang tidak hanya dilakukan oleh masyarakat sipil, tetapi juga melibatkan ribuan personel TNI dan Polri ikut membersihkan sungai terkotor di dunia yang panjangnya 300 km itu.

Kardinal Turkson mengapresiasi usaha-usaha pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan termasuk pencurian ikan dan kebakaran hutan.

Aksi Lucu Paus Fransiskus dan Donald Trump
Paus Fransiskus dan Donald Trump. - Foto: tribun-medan.com


Kolombia

Petang harinya dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Kolombia, Juan Guillermo Zuluaga, Menko Luhut mengundang Menteri Zuluaga untuk berpartispasi dalam seminar yang diselenggarakan di Vatican.

Pada pertemuan yang berlangsung di KBRI Indonesia di Den Haag tersebut, kedua menteri bertukar informasi apa saja yang sudah dilakukan dan rencana kerja bersama dalam menghadapi ancaman rencana penghapusan pembelian produk biodiesel sawit ini.

Kolombia adalah salah satu negara penghasil sawit terbesar bersama Thailand, Nigeria, Papua Nugini, Guatemala, Pantai Gading dan Honduras.

Menteri Zuluaga bercerita bahwa Ia baru saja melakukan hal yang sama, yaitu bertemu dengan beberapa unsur EU di Brussels dan bertemu dengan anggota Parlemen di Belanda.

Kolombia merupakan penghasil kelapa sawit ke empat terbesar di dunia dengan produksi 1,28 juta ton per tahun.

“Bagi negara kami, rencana EU ini cukup mengganggu, karena ada sekitar 5,000 hektar kelapa sawit di Kolombia yang dimiliki oleh petani atau pengusaha kecil menengah. Saya melakukan hal yang sama dengan Anda. Kami melakukan berbagai pertemuan dan meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang kelapa sawit, seperti dampak kelapa sawit untuk kesehatan, tuduhan ini sama sekali tidak berdasar," kata Menteri Zuluaga.

Menko Luhut memberitahukan kepada Menteri Zuluaga bahwa PM Najib dari Malaysia juga bersedia melakukan hal yang sama.

Dampak penghentian pembelian produk kelapa sawit, jika diberlakukan untuk Kolombia adalah akan terjadi peningkatan jumlah pengangguran industri dan perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan pekerjaan bagi mantan pemberontak Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC) pada November 2016 seperti dituangkan dalam perjanjian perdamaian dengan pemerintah yang sah saat itu.

Paus Fransiskus

Sebelum bertemu Kardinal Turkson, Menko Luhut mengikuti audiensi umum yang diadakan di St, Peter's Square bersama ratusan umat lainnya.

Menko Luhut mendapat kesempatan berjabat tangan dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan undangan dari Presiden Joko WIdodo agar Paus bersedia berkunjung ke Indonesia.

“Saya tadi menyampaikan undangan dari Presiden kepada Yang Mulia Paus Fransiskus dan ia mengatakan bersedia," pungkas Menko Luhut.

Kelapa sawit di area perkebunan di Pelalawan, Riau.
Kelapa sawit di area perkebunan di Pelalawan, Riau. (AFP PHOTO / ADEK BERRY / tribun-medan.com


Uni Eropa Tolak Sawit Indonesia, Jokowi Kirim Surat Protes

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Indonesia Pramono Anung mengatakan Presiden Joko Widodo mengirim surat protes kepada Presiden dan Ketua Parlemen Uni Eropa atas penolakan sawit Indonesia.

“Presiden telah menulis surat secara khusus pada Presiden Uni Eropa, kemudian ketua Parlemen Uni Eropa, yang menyatakan keberatan dan protes dengan keras apa yang dilakukan Uni Eropa berkaitan dengan kelapa sawit,” katanya, melansir Tempo.co.

Pramono menuturkan, lewat surat protes yang diteken Presiden itu, pemerintah Indonesia menilai perlakuan Uni Eropa tersebut sebagai bentuk proteksionisme.

“Pemerintah Indonesia menganggap apa yang dilakukan Uni Eropa ini bentuk dari proteksionisme yang dilakukan oleh mereka terhadap produk bunga matahari dan sebagainya karena mereka tahu dengan kelapa sawit ini akan menjadi sebuah keunggulan bagi bangsa kita,” ujarnya.

Ia berujar pemerintah Indonesia juga tengah menimbang untuk melakukan hal yang sama. “Dan juga Indonesia akan memperlakukan treatment yang equal kalau memang kemudian ada rencana untuk dihambat,” tuturnya.

Mengenai hal ini, Pramono tidak merincinya. “Kalau mereka tetap melakukan proteksionisme, tentunya Indonesia tidak mau diperlakukan seperti ini. Sekarang kan sudah era perdagangan bebas. Semua negara harus menghormati satu negara dengan negara lain,” katanya.

Pramono mengatakan pelarangan yang dilakukan Uni Eropa terhadap kelapa sawit Indonesia dinilai melanggar asas persaingan usaha yang sehat.

“Indonesia sebenarnya dianggap sebagai negara yang taat dan patuh kepada isu tentang iklim dunia karena Indonesia selalu berpartisipasi aktif di COP (Conference of Parties atau Konferensi Perubahan Iklim PBB), baik di Paris, Maracas, dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah Indonesia menilai pelarangan ini kampanye hitam bagi produk sawit Indonesia.

“Sekarang ini (pengiriman) kelapa sawit ke Eropa itu kecil dibandingkan ke Asia Timur maupun Cina dan beberapa negara lain. Sehingga secara komoditas pasti tidak akan terganggu. Tapi ini sudah terjadi yang kita sebut black campaign terhadap sawit, maka Presiden telah menandatangani surat yang ditujukan pada Presiden Uni Eropa dan Parlemen Uni Eropa,” ucapnya.

Pemerintah, kata dia, juga mencurigai pelarangan masuknya kelapa sawit Indonesia itu sebagai proteksi negara-negara Uni Eropa untuk produk biofuel negara itu yang di antaranya berasal dari biji bunga matahari.

“Sebenarnya sekarang ini di seluruh dunia bisa menerima, kecuali Uni Eropa. Mereka takut bunga matahari yang menjadi andalan mereka tersaingi. Itu saja,” tuturnya. [*]


LIHAT JUGA VIDEO DO BAWAH INI



Sumber: tribun-medan.com
loading...

No comments

Powered by Blogger.