Header Ads

Seandainya Guruku Tahu Isi Hatiku... Karya: Misron Napitupulu SMAN 1 Siantar Narumonda

Setiap Senin, Dodi menjadi pelajar yang paling cepat sampai di sekolah. Kantuk yang sangat amat tidak menjadi halangan untuknya menjadi orang pertama berada di tempatnya menimba ilmu. Kadang, gerbang pun belum dibuka, ia sudah datang.

Seandainya Guruku Tahu Isi Hatiku... Karya: Misron Napitupulu SMAN 1 Siantar Narumonda

Padahal, jika mau jujur, Senin adalah hari yang kurang nikmat bagi sebagian siswa. Soalnya, karena Sabtu keluyuran hingga dini hari Minggu, tidur semakin panjang. Dampaknya, pada Minggu petang hingga malam, mata sulit dipejamnya.

Ujungnya, tidur terlat hingga ketika bangun di Senin pagi, mata terasa berpasir. Beratlah. Tetapi itulah, Dodi tidak demikian.

Tak hanya petugas kebersihan yang heran, pengelola kantin pun bingung. Soalnya, setiap hari pertama di awal pekan, terus mendapati Dodi mojok di kantin. Duduk menghadap pintu.

Ia akan bangkit ketika Bu Tiur Rita tiba. Dodi pun langsung berlari kecil ke arah ruangan guru. Sampai di sana, ia merapikan rambut dan uniform sekolah.
Karena tiap Senin begitu, petugas kebersihan langsung berkesimpulan, Dodi ada hati sama Bu Tiur.

Pertama kali, ia mengelak. Menepis tuduhan tersebut. Tetapi, karena terus dicecar dengan perkataan serupa, Dodi geram sendiri.

"Ngaku ajalah. Kita dua aja ..."

"Urus aja urusan Mamang," sambut Dodi sebelum petugas kebersihan itu selesai bicara. "Kalau aku gak ada hati, matilah!"

"Maksudku, kau itu suka sama Bu Tiur," urai si mamang datar, serasa tak bersalah karena sudah membuat Dodi geram.

"Kan gak mungkin aku suka sama Mamang!"

"Gitu kan bagus!"

"Mau bagus atau tidak, bukan urusanmulah," ujar Dodi. Kali ini suaranya meninggi. Ingin rasanya hendak meninju si petugas tapi diurungkannya.

Sambil membersihkan ruangan, petugas keberhasilan menyodorkan tangannya. "Selamat ya, Dod!"

"Huh..." kesalnya Dodi dengan perlakuan si Mamang. "Apa Mamang ada hati juga sama Bu Tiur?"

"Mamang sih mau tapi Bu Tiur mau muntah sama Mamang!"

Dodi jadi geram. Dipelototinnya si Mamang. Dalam hati ia memaki-maki. Sudah tua pun tapi tingkahnya mengesalkan. Seperti anak-anak.

Yang bikin Dodi tambah geram, si Mamang seperti tak bersalah. Terus saja ngoceh soal Bu Tiur. Tetapi kali ini Dodi tak dapat menahan kesal, diludahinya lantai yang baru dibersihkan.

"Hayo... orang kasmaran memang begitu. Sikit saja kesal, dibesar-besarkan," ucapnya. "Mamang juga begitu. Waktu suka sama cewek, cepat emosi!"

Dodi menahan napas. Si Mamang memang seperti penjajah, di kasih hati minta jantung. Setelah itu meninggalkan bom.

"Mamang duluuu..."

"Udahlah, Mang. Bosan aku!"

Dodi langsung pergi. Setelah kejadian itu, ia tak mau lagi menunggu di kantin. Tiap Senin, ia berada di depan pintu gerbang di seberang pagar. Dari sana matanya terus mengintai.

Memelototi setiap orang. Dalam hatinya ingin memastikan Bu Tiur datang. Tetapi si petugas kebersihan emang kelewatan. Masih saja suka ngobrol sama Dodi.
"Dodi," teriaknya. Suaranya keras sampai orang-orang ikut berpaling. "Bu Tiur sudah datang. Itu sudah di dalam," ujarnya.

Saking kesalnya, Dodi langsung membogem. Tak cukup sekali. Berkali-kali sampai petugas kebersihan terjajar. Masih belum puas. Ingin kakinya ikut tapi kawan-kawan melerai.

Insiden itu membuat sekolah geger. Isunya, petugas kebersihan dibegal Dodi.

Info tersebut pun menyebar hingga sampai ke telinga Bu Tiur. Si Mamang dikompori cewek-cewek. Ia disarankan melaporkan ke kepala sekolah. Biar Dodi dihukum. Biar kapok. Jangan suka ringan tangan.

Benar. Ketika Senin seperti biasanya cepat sampai ke sekolah, sudah sampai di telinganya bakal diadili.

Meski hatinya tak enak, Dodi sudah pasrah jika dipanggil ke kantor. Tetapi, ia jadi marah ketika kepala sekolah mengumumkan pemanggilan Dodi melalui mik ketika menutup Upacara Bendera.

Begitu usai diumumkan, hampir semua peserta upacara bertepuk tangan dan bersorak 'huuu...'

Sepanjang jalan ke arah ruang kepala sekolah, orang-orang memerhatikan Dodi. Tetapi, ketika sampai di depan ruang guru, Bu Tiur menegurnya. Dodi dinasihati.

"Saya berharap, kamu berkata jujur pada Kepala Sekolah," ujar Bu Tiur. "Tetapi caramu itu tidak baik. Emosional. Apalagi si Mamang kan sudah lebih tua!"
"Tapi, Bu..."

"Sudah. Doa saya menyertaimu, Dodi!"

Mendengar itu Dodi merasa plong. Kekecutan hatinya berganti berani. Ia bersyukur karena merasa dibela Bu Tiur.

Pada Kepala Sekolah ia cerita sejujurnya. Dodi mendapat pembelaan, tapi karena lebih dulu menghakimi orang lain, orang yang lebih tua, tetap mendapat hukuman.

Mengetahui itu, Bu Tiur protes. Dipanggilnya Dodi. Dinasihatinya Dodi. "Tetapi, kamu itu menunjukkan jati dirimu. Pria sejati dan kesatri harus mempertahankan harga diri!"

Meski dapat hukuman, Dodi jadi bangga pada dirinya.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Tarian Tao Toba Nauli SMP Negeri 8 Pematangsiantar




Cerpen: Seandainya Guruku Tahu Isi Hatiku...
Karya: Misron Napitupulu SMAN 1 Siantar Narumonda
Sumber: HarianSIB
loading...

No comments

Powered by Blogger.