Header Ads

Ketum PGI Tanggapi Kasus Penghadangan Beribadah Jemaat GBI Philadelpia

WARTAGAS.COM - Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pdt Dr Henriette Tabita Lebang angkat bicara terkait peristiwa penghadangan beribadah jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Philadelpia, Medan Labuhan, Sumatera Utara. Dia merasa prihatin atas kasus tersebut.

Ketum PGI Tanggapi Kasus Penghadangan Beribadah Jemaat GBI Philadelpia
Ketum PGI Pdt Dr Henriette Tabita Lebang - Foto: Rolan/detikcom

"Ya ini keprihatinan kita ketika kita kurang menghargai satu terhadap yang lain. Mungkin ada hal-hal yang menyebabkan ya hal itu terjadi, dari mana pun mulainya, kita perlu mencari solusi bersama, duduk bersama untuk mengatasi masalah ini," kata Henriette.

BACA JUGA: Warga 'Geruduk' Gereja di Medan, Polisi: Tak Ada Larangan Ibadah tapi Bangunan Gereja Belum Berizin

Pernyataan tersebut disampaikan Henriette di Kantor Pusat PGI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (16/1/2018). Dia bicara didampingi Utusan Khusus Presiden untuj Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Prof Syafiq A Mughni.

Henriette mengatakan, Indonesia adalah negara Pancasila yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika yang di dalamnya terkandung nilai-nilai gotong-royong dan persaudaraan. Menurutnya itu lah yang seharusnya ditumbuhkembangkan.

"Sayang sekali belakangan ini nilai-nilai ini tergerus oleh berbagai sebab, sehingga fanatisme, radikalisme, makin mencuat," ujarnya.

Henriette berharap persoalan ini bisa diselesaikan secara jernih dengan berlandaskan Pancasila. Dengan begitu menurutnya tidak akan terjadi benturan di lapangan.

"Saya kira dari dulu masyarakat Indonesia hadir dalam masyarakat majemuk, baik majemuk secara suku, agamanya, majemuk pilihan politiknya, tapi bagaimana supaya itu jangan berbenturan gitu. Nah ini yang harus ditumbuhkembangkan semangat itu," ucapnya.

BACA JUGA: PGI Sumut Tanggapi Kasus Penghadangan Beribadah Jemaat GBI Philadelpia

Henriette menyerahkan penanganan persoalan ini kepada PGI wilayah Sumatera Utara serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan pihak-pihak terkait. Dia berharap semua diselesaikan dengan damai.

"Karena mereka yang berada di lapangan, mereka yang mempelajarinya, PGI wilayah Sumut, oleh karena itu ada statement-statementnya yang dikeluarkan oleh masing-masing. Tentu itu sesuai dengan pemahaman mereka, karena mereka yang lebih dekat kepada konteks itu," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Prof Syafiq juga menyampaikan hal senada. Dia mendorong agar persoalan ini diselesaikan dengan semangat persaudaraan.

"Itu kan sudah ada FKUB di sana, kemudian ada pemerintah daerah di sana, ya tentu kita bersifat normatif apa lagi dalam masa otonomi daerah, kita bersifat normatif supaya mendorong diselesaikan secara seksama dengan semangat persaudaraan, jadi kita dorong supaya diselesaikan," ujarnya.


Kedatangan Prof Syafiq ke PGI

Kedatangan Prof Syafiq sendiri ke PGI terkait rencana musyawarah besar pemuka-pemuka agama yang akan dilaksanakan di 2019 ini. Dia bersama PGI membahas persoalan-persoalan apa saja yang nantinya perlu dibahas di agenda besar tersebut.

Kedatangan Prof Syafiq ke PGI
Prof Syafiq - Foto: Rolan/detikcom

"Salah satu agendanya adalah kita mencoba mengevalusi sejauh mana kita bergerak mengalami kemajuan setahun ini. Karena tentu dari hasil-hasil survei yang ada kita juga bisa mendapatkan indikasi awal tapi itu perlu kita bahasa di dalam musyawarah besar pemuka-pemuka agama yang akan datang," ucapnya.

"Yang kedua adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kerja sama antar-agama ini dalam berbagai macam program yang konkrit. Tentu kami tidak melaksanakan sendiri program-program itu, kita memberikan dorongan-dorongan supaya program-program itu bisa lebih intensif. Saya kira yang sangat dibutuhkan masyarakat kita adalah bagaimana kita bergerak bersama-sama untuk rukun, harmoni, dengan semangat keadilan kita berjuang meningkatkan harkat martabat kemanusiaan," sambung Prof Syafiq.

Prof Syafiq menambahkan, dirinya sebagai Utusan Khusus Presiden hanya bersifat mendorong kepada lembaga-lembaga agama. Caranya dengan memfasilitasi dan mengusulkan kebijakan yang mengarah kepada kerukunan antaragama.

"Dan tentu untuk luar negeri itu juga sangat penting karena apa yang kita lakukan di Indonesia harus kita perkenalkan atau promosikan di luar negeri. Supaya Pancasila ini benar-benar bisa dikenal masyarakat luas dan disadari kalau itu adalah formula yang paling mujarab untuk mempersatukan masyarakat bangsa Indonesia dari berbagai agama," ucapnya.

Di tahun politik ini, lanjut Prof Syafiq, dirinya berharap kerukunan antarumat beragama tetap terjaga.

"Ya mudah-mudahan gesekan ini bersifat sementara, tapi itu cukup menyita perhatian kita, bahwa seharusnya kita sudah bergerak menjadikan agama ini sebagai nilai-nilai yang bisa memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegera, kita bisa merajut persatuan ini dengan nilai-nilai agama kita. Jadi ini sebuah tantangan, mudah-mudahan bersifat sementara," ucapnya.

Prof Syafiq menambahkan selain ke PGI dirinya juga akan berkunjung ke lembaga-lembaga agama lainnya. Selain itu juga ke ormas-ormas Islam.

BACA JUGA: Kemenag Medan Jelaskan Penyebab Warga Protes Ibadah GBI di Rumah Tinggal

Ketua Umum PGI Pdt Dr Henriette Tabita Lebang sendiri mengapresiasi kunjungan Prof Syafiq. Menurutnya pertemuan ini penting untuk saling mengenal satu sama lain.

"Pertemuan seperti ini sangat penting untuk saling membuka diri dan saling mengenal satu dengan yang lain. Sebenernya tadi pertemuan pertama tadi Pak Syafiq sudah minta 'Kami ingin mengenal PGI lebih jauh, bagaimana PGI itu, bagaimana cara bekerja PGI, apa saja yang dilakukan PGI pokok-pokok programnya'. Dan di situ kami menjelaskan bahwa gereja-gereja di Indonesia mengangkat tema yang penting dalam sidang rayanya, pokok yang penting, bagaimana bekerja bersama dengan semua anak-anak bangsa untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Demi mengatasi masalah kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, dan kerusakan lingkungan," ucapnya.

"Kami sangat yakin bahwa persatuan Indonesia itu sangat penting, kebersamaan masyarakat Indonesia untuk mengatasi persoalan-persoalan yang kita hadapi itu tentu dengan perspektif iman masing-masing. Tapi, satu hal, agama-agama mengajarkan nilai-nilai damai, nilai persaudaraan, nilai kebersamaan. Dan saya kira tadi Bapak (Syafiq) juga menyampaikan mengenai hal itu, nilai-nilai Pancasila sebenarnya kalau dihidupkan nilai Pancasila itu, ini yang paling penting. Challange kita bersama bagimana nilai-nilai Pancasila tidak hanya diucapkan, disebutkan, tetapi dihidupkan diwujudnyatakan di dalam kehidupan bersama sebagai bagian masyarakat Indonesia," sambungnya.


LIHAT VIDEONYA DI BAWAH INI
Ironis Warga Geruduk Gereja di Medan Sumut




Sumber: detikcom
loading...

No comments

Powered by Blogger.