Header Ads

Polisi Sikapi Status Viral Tudingan Penganiayaan Akun Sabrina Bakkara

WARTAGAS.COM - Viral status akun Facebook Sabrina Bakara yang menuding adanya tindak pidana penganiayaan oleh aparat kepolisian setempat terhadap kedua orangtuanya, yakni Kirip Bakkara dan Nurhayati Sihombing, warga Desa Simatupang, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara, akan disikapi secara tegas oleh pihak kepolisian.

Polisi Sikapi Status Viral Tudingan Penganiayaan Akun Sabrina Bakkara
Kasat Reskrim Polres Taput, AKP Hendro Sutarno didampingi Kasi Propam, Iptu M Togatorop, dalam siaran persnya, di Aula Mapolres setempat. (Antara Sumut/Rinto Aritonang)

Langkah dan upaya hukum oleh kepolisian, menurut Kasat Reskrim Polres Taput AKP Hendro Sutarno, Kamis (14/2), akan segera ditempuh sesuai petunjuk pimpinan.

"Nama baik kepolisian sebagai aparatur penegak hukum telah tercoreng. Padahal, apa yang diungkapkan dalam status FB viral tersebut adalah fitnah, sebab polisi tidak pernah menganiaya orangtua Sabrina Bakkara," terang AKP Hendro didampingi Kasi Propam Polres Taput Iptu M Togatorop dalam keterangan persnya di Aula Mapolres setempat.

Dikatakan, materi dalam postingan berawal saat sejumlah personil Polsek Muara ditugasi untuk melakukan penjemputan atas para tersangka, yang tidak mengindahkan dua kali panggilan dalam perkara penganiayaan anak dibawah umur, RS (14).

"Penyelidikan atas hal ini akan dilakukan, karena isi status viral yang bersangkutan tidak benar, sangat menyudutkan kepolisian," ujarnya.

Awal perkara yang menempatkan Sabrina, dan kedua orangtuanya sebagai tersangka berawal ketika RS, teman satu kampungnya, dituduh melakukan pencurian pada 16 April 2018 lalu.

"Usai dituduh telah melakukan pencurian, Sabrina bersama kedua orangtuanya diduga telah melakukan penganiayaan terhadap RS yang mengakibatkan si anak mengalami luka memar," katanya.

Luka memar di bibir, pinggang, wajah dan lengan sebelah kanan korban yang dialami RS dan disaksikan sejumlah warga setempat menjadi dasar pelaporan orangtua korban kepada polisi.

Saat perkara dugaan penganiayaan diselidiki polisi dan dinyatakan sudah P21 (lengkap), selanjutnya pihak Polres Taput melakukan pemanggilan terhadap ketiganya, namun dua panggilan pertama tidak diindahkan, hingga dilakukan penjemputan paksa.

"Materi postingan yang diunggah ke akun media sosial itu adalah saat dilakukan penjemputan paksa, 5 Juni 2018, yang ditanggapi para tersangka dengan meronta saat digiring petugas ke dalam mobil polisi. Sabrina bahkan melukai dan menggigit tangan petugas kita," katanya.

Namun, meski ketiganya berontak, penjemputan paksa berhasil dilakukan, hingga ketiganya dapat menjalani proses hukum, dan sidang, serta terakhir ketiganya sudah divonis oleh pangadilan.

Hendro menegaskan, bila dalam penyelidikan, unsur pidana sesuai undang-undang informasi transaksi elektronik, dapat dibuktikan, maka pihaknya akan membawa perkara tersebut ke ranah hukum.

"Makanya kita selidiki dan pelajari dulu, dan kalau kita menemukan unsur pidana sesuai undang-undang ITE, tentu kita akan menindaklanjutinya sesuai prosedur hukum, karena ini telah menyangkut nama baik institusi kepolisian," tukasnya.

Penelusuran Antara, status viral tudingan penganiayaan atas kedua orangtuanya diposting oleh pemilik akun Sabrina Bakkara pada pukul 10.26 WIB, 13 Februari 2019. Status tersebut seketika viral dan mendapatkan komentar dari netizen.

Screenshot Akun Facebook Sabrina Bakkara
Screenshot Akun Facebook Sabrina Bakkara

Sabrina Bakkara (13 Februari pukul 10.26 · Siborongborong):
"Kepada yang terhormat bapak presiden indonesia BAPAK JOKOWI JENDERAL BAPAK TITO serta seluruh yang berwajib kami butuh bantuan kepada kami yang buta hukum ini masyarakat kecil ini yang tidak tau hukum. Kenapa kami di perlakukan seperti binatang kenapa kami di perlakukan seperti melebihi teroris 😭😭. Kronologis pencuri masuk ke rumah dan ketangkap di rumah namun lolos melarikan diri dia memukul ibu saya nma pencuri roger siahaan stelah kedatangan kluarga sinpencuri setalah 3 tahun ini warga sosor dolok simatupang sering kehilangan bahkan anak si pencuri ini sudah sering di bayar orang tua ya uang perdamaian karena terus mencuri dan sudah pernah di bawa ke polsek muara karena mencuri celengan tp knpa masih di bela anak nya mencuri. Disaat kejadian itu kami dtang kerumah nya untuk menasihati agar tidak mencuri lagi tp dia malah melawan ibu saya dia mau bukul ibu saya dan stelah itu bpak saya membela ibu saya bapak saya menampar si pencuri ini.
Tetapi orang tuanya hotmian ompusunggu tidak nrima karena bapak sya menampar anak nya.bsok nya Dia melapor ke polisi bapak PARLIN SIANTURI dia berkata akan sya penjara kan kalian semua. Aku akan mengadu kekeluarga ku. Setelah itu dia bikin laporan kmi di panggil ke polsek muara kami hadiri kami ceritakan kejadian nya namun oknum tersebut tidak menanggapi perkataan kami. Dan kami sangat keberatan kenapa jenis kelamin kami di ubah ubah oleh polosi yg memproses kami saya tidak tau pa maksud dan tujuan ya Sebulan berikutnya polisi bapak PARLIN Sianturi dan juga rekan2 nya datang kerumah pas malam2 dia menangkap ibu dan bapak saya mereka memperlakukan seperti binatang bapak saya di gari dan di siksa 😭😭ibu saya di tonjok dan di tarik2 😭😭 sehingga ibu saya mengalami luka. Setelah ibu sya terluka saya meminta visum kepada DUMA simatupang namun dia berkata harus ada surat dari polisi. Namun dokter tersebut mengukur luka ibu saya. Sya juga tidak tau apa maksud dari semua itu.
Setelah pagi nya kami di paksa untuk masuk ke dalam mobil kami di bawa ke polres tarutung kami di penjarakan disana dan setelah itu kami di urus keluarga agar bisa tahanan luar.
setelah masuk dalam persidangan kmi hadiri selalu sidang di kantor pengadilan tarutung. Setelah kami sidang penuntun jaksa Bapak PANTUN SIMBOLON. membacakan dakwaan penganiayaan terhadap anak kami sangat keberatan dan tidak pernah menganiaya anak. Setelah itu jaksa membacakan visum jaksa mengatakan tidak bisa ber aktivitas karena ada luka anak si pencuri tersebut dan saya juga heran kenapa umur bapak saya 20 an di buat jaksa sementara bpak saya uda 64 tahun. Kemudian pengacara kami meminta Dokter DUMA SIMATUPANG yang membuat visum agar hadir di persidangan.karena sama sekali kami tidak ada memukul atau menganiaya sinpencuri itu. Stelah dokter kami hadirkan dokter tersebut mengatakan dia slah ketik membuat visum itu.
Wajar kah seorang dokter mengatakan di persidangan dia salah ketik? Dan pengacara kami menanyakan dokter itu keadaan anak itu bagaimana dia mengatakan dengan ke adaan umum membaik.sementara jaksa mengatakan tidak bisa ber aktivitas. Setelah sidang kami selesai dua minggu yang lalu. Apalah daya kami kami pengadilan tarutung kami di vonis 10 bulan penjara. 😭😭karena kejadian ini ibu saya mengalami trauma dan bapak saya jadi buta😭 bapak saya tidak bisa lagi melihat dunia ini karena kejadian ini.
Dan saat ini kami tahanan rumah. saya berharap dan saya memohon sudi kiranya menolong kami. 😭😭"



LIHAT JUGA VIDEO MENARIK DI BAWAH INI
Rombongan Pengurus PSSAB dan Horong Situmorang Sipitu Ama Bandung disambut Panitia Pesta Bona Taon




Sumber; Antara
loading...

No comments

Powered by Blogger.