Header Ads

Apa, Kenapa, Bagaimana Pelaksanaan Upacara Adat Batak Toba Sulang-Sulang Pahompu

WARTAGAS.COM -  Horas Bangso Batak, Kali ini, kita membahas tentang Budaya Batak, yaitu Apa, Kenapa, Bagaimana Pelaksanaan Upacara Adat Batak Toba Sulang-Sulang Pahompu.

Apa, Kenapa, Bagaimana Pelaksanaan Upacara Adat Batak Toba Sulang-Sulang Pahompu
Foto Ilustrasi: Upacara Adat Batak Toba Sulang-Sulang Pahompu (Foto: Wartagas.com / hansringo)

Pengertian Upacara Adat Sulang-sulang Pahompu

Secara umum pengertian upacara Sulang-sulang Pahompu adalah pengukuhan upacara adat Pernikahan pada etnik Batak Toba. Yang membedakan upacara Sulang-sulang pahompu dengan Upacara adat pernikahan ialah upacara Sulang-sulang Pahompu dilaksanakan setelah memiliki keturunan dan sebelumnya sudah menikah secara agama atau pemberkatan yang dilaksanakan di gereja akan tetapi upacara Mangadati/Adat Nagok belum dilaksanakan.

Sedangkan upacara adat pernikahan adalah upacara adat yang dilaksanakan secara keseluruhan, mulai dari tahap awal hingga akhir. Dalam upacara pernikahan itu ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan. Adapun tahap-tahap upacara parnikahan seperti, Marhusip, Marhata sinamot/ Marsukkun utang, Martoggo raja, Martumpol, Mangadati/acara puncak, Maningkir tangga.

Upacara Pasahat Sulang Pahompu (Pesta Pernikahan Adat yang tertunda) sifatnya hampir sama dengan acara adat “Marunjuk” yaitu mengukuhkan pernikahan secara adat Batak atas mempelai seperti pesta Marunjuk. Bedanya, pesta marunjuj harus melewati beberapa tahapan adat yang cukup panjang, sedangkan yang mangadati hanya menjalani beberapa tahapan adat berskala kecil.

Yang dimaksut berskala kecil contohnya adalah ”acara doa syukur menyambut pengantin” yang biasanya dilanjutkan dengan acara manuruk-nuruk atau “permintaan maaf” kepada keluarga istri karena putrinya sudah dibawa kawin lari tanpa prosedur adat. Orang dahulu menyebutnya “patuduhon natinangko” atau memperlihatkan hasil curian dengan membawa kurban adat oleh rombongan keluargan pengantin.


Tahapan Pelaksanaan Upacara Sulang-sulang Pahompu Pada Etnik Batak Toba

Dalam etnik Batak Toba Upacara Sulang-sulang Pahompu hanya dilaksanakan oleh suatu keluarga/orangtua yang belum melaksanakan Upacara Pernikahan secara Adat-istiadat etnik Batak Toba, atau keluarga yang mengalami pernikahan yang tertunda. Setiap keluarga/orangtua yang mengalami pernikahan yang tertunda harus diwajibkan melaksanakan Upacara Sulang-sulang Pahompu.

Jika upacara Sulang-sulang Pahompu tersebut tidak dilaksanakan akan berdampak kepada anak dari keluarga tersebut. Karena sebelum keluarga/orangtua melaksanakan Upacara Sulang-sulang Pahompu maka anak dari keluarga tersebut belum diperbolehkan untuk menikah. Tujuan dari pelaksanaan upacara Sulangsulang Pahompu adalah sebagai pengukuhan pernikahan suatu keluarga yang mengalami pernikahan tertunda dan juga membayar utang-utang adat yang belum dibayar ketika pernikahan.

Jika suatu keluarga ingin melaksanakan Upacara Sulang-sulang Pahompu maka akan terlebih dahulu pihak Hasuhuton Paranak memberitahukan informasi bahwasanya akan dilaksanakan Upacara Sulang-sulang Pahompu kepada pihak Hasuhuton Parboru melalui Dongan Tubu/Hahaanggi, setelah diberitahukan maka persiapan Upacara Sulang-sulang Pahompu akan segera dilaksanakan.

Ada 4 tahapan dalam upacara Sulang-sulang Pahompu.
Adapun tahap-tahap pelaksanaan Upacara Sulang-sulang Pahompu adalah sebagai berikut :

1. Manuruk-nuruk
Manuruk-nuruk adalah tahap yang pertama sekali yang harus dilaksanakan. Pada tahapan manuruk-nuruk hanya diikuti oleh keluarga dekat oleh kedua belah pihak karena pertemuan tersebut hanya di khususkan untuk keluarga dan juga kerabat dekat. Pada tahapan ini acara tersebut akan dilaksanakan di kediaman pihak hasuhuton parboru. Pihak hasuhuton paranak akan mengujungi rumah pihak hasuhuton parboru dengan tujuan meminta maaf, karena sebelumnya Hasuhuton paranak dulunya tidak mampu melaksanakan adat nagok.Pada tahapan ini juga bertujuan untuk pemberitahuan sekaligus meminta ijin akan diadakannya upacara Sulang-sulang Pahompu dari keluarga menantunya/hela yang sebelumnya belum melaksanakan pesta adat pernikahan. Dalam tahapan ini pihak hasuhuton paranak dan pihak hasuhuton parboru akan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan pesta nantinya.

Adapun yang akan dibicarakan pada tahap marhori-hori ding-ding adalah sebagai berikut:
  1. Partoding ni ulaon/konsep pesta yang akan diadakan.
  2. Besarnya batu sulang yang akan diberikan hasuhuton paranak kepada hasuhuton parboru.
  3. Berapa jumlah ulos yang dibutuhkan pada pesta nantinya.
  4. Kapan akan dilaksanakan pesta atau mata ni ulaon Sulang-sulang Pahompu.

2. Marpudun Saut/Marsungkun Utang
Marpudun saut/marsungkun utang merupakan salah satu tahapan persiapan dalam pelaksanaan Upacara Sulang-sulang Pahompu yang akan dilaksanakan. Pada tahap ini pihak hasuhuton paranak datang kerumah hasuhuton parboru untuk menidaklanjuti pembicaraan pada tahap marhori-hori ding-ding. Artinya tujuan dari pertemuan ini adalah memastikan semua yang telah dibicarakan pada tahap marhori-hori ding-ding, mulai dari besarnya batu sulang yang akan diberikan kepada hasuhuton parboru, ulos yang diberikan hasuhuton parboru nantinya pada saat pesta, dan juga tempat dan kapan pesta akan dilaksanakan.

3. Martonggo Raja
Martonggo Raja merupakan kegiatan persiapan yang bersifat umum karena pada tahap Martonggo Raja ini pihak hasuhuton paranak sebagai tuan rumah/Bolahan Amak akan melaksanakan martonggo raja, dengan mengundang seluruh keluarga/kerabat dekat, para penutur adat, tulang, bona tulang, parbonaan, dan juga warga setempat. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memastikan tanggal pesta Sulang-sulang Pahompu sekaligus mengumumkan kepada khalayak ramai kapan akan dilaksanakan pesta Upacara Sulang-sulang Pahompu. Pada tahap ini juga bertujuan membicarakan persiapan untuk pesta Sulang-sulang Pahompu, seperti konsep pesta, jambar, panandaion, ulos yang dibutuhkan.

Sama hal nya dengan pihak Hasuhuton Parboru, Hasuhuton Parboru juga akan melaksankan acara Martonggo raja dengan seluruh keluarga dan juga seluruh undangan mereka. Hasuhuton parboru akan menbicarakan seperti apa konsep acara yang akan dilaksankan, berapa ulos yang mereka berikan, sesuai yang telah dibicarakan dengan hasuhuton paranak sebelumnya. Dalam acara martonggo raja biasanya dimulai pada pukul 10:30 sampai dengan selesai. Pada tahapan ini karena mengundang banyak orang maka dalam acara ini memotong hewan untuk dimakan bersama.

4. Pelaksanaan upacara Sulang-sulang Pahompu
Pada tahap ini merupakan puncak dari seluruh tahapan Upacara Sulangsulang pahompu. Semua yang di undang akan hadir pada pesta Upacara Sulangsulang Pahompu. Pada tahap ini lah seluruh kewajiban adat-istiadat batak akan di laksanakan, seluruh kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan akan dilengkapi untuk memenuhi adat-istiadat batak. Semua prosesi-prosesi adat yang harus dilaksanakan akan dilakukan pada tahapan ini. Adapun tahapan yang terjadi pada pesta Sulang-sulang Pahompu antara lain :

1.Panomu-nomuon
Panomu-nomuon adalah prosesi penyambutan seluruh undangan yang datang oleh pihak hasuhuton paranak dan hasuhuton parboru. Pada tahapan panomu-nomuon akan di iringi musik yang bernuansa musik tradisional Batak Toba sebagaimana mestinya pada acara-acara adat Batak Toba. Adapun psosesi panomu-nomuon pada upacara Sulang-sulang Pahompu adalah sebagaiberikut:
  • Pihak hasuhuton paranak manomu-nomu/menjamu pihak parboru.
  • Pihak hasuhuton paranak akan menjamu Bona ni ari, parbonaan, bona tulang, tulang rorobot, dan juga tulang dari hasuhuton paranak sendiri.
  • Pihak hasuhuton parboru akan manomu-nomu/menjamu bona nin ari, parbonaan, bona tulang, tulang rorobot, tulang dari pihak hasuhuton parboru itu sendiri.

2. Pemberian Tudu-tudu sipanganon dan Dengke saur.
Pemberian tudu-tudu sipanganon dilakukan oleh hasuhuton paranak, yang diberikan kepada hasuhuton parboru. Setelah pemberian Tudu-tudu sipanganon, hasuhuton parboru juga akan memberikan Dengke saur kepada pihak hasuhuton paranak. Setelah pemberian Tudu-tudu sipanganon dan juga Dengke saur selesai, maka seluruh yang menghadiri pesta tersebut akan makan bersama.

3. Manghatai Adat
Manghatai Adat merupakan prosesi pembicaraan adat-istiadat antara pihak hasuhuton paranak dan pihak hasuhuton parboru. Sebagai simbol untuk mengawali prosesi manghatai adat hasuhuton paranak terlebih dahulu menyampaikan sepata-dua kata tentang hidangan makanan kepada hasuhuton parboru dan juga kepada rombongan Hula-hula lainnya. Setelah hal tersebut maka hasuhuton paranak akan menyampaikan Pinggan Panungkunan yang bertujuan untuk mengawali pembicaraan dan setelah itu hasuhuton parboru akan membalas dengan memberikan kembali Pinggan Pamalosi kemudian hasuhuton paranak dan parboru akan melaksanakan Manghatai Adat. Adapun yang isi pembicaraan pada tahapan ini adalah membicarakan tentang pembagian parjambaron batu sulang. Parjambaron batu sulang ialah upah untuk kerabat-kerabat terdekat dari pihak Hasuhuton Parboru seperti untuk amangtua, amanguda, haha anggi, namboru, tulang, pariban,dan lain-lain.

4. Penyerahan Batu Sulang
Setelah Hasuhuton Paranak dan Hasuhuton Parboru sudah selesai pada tahap Manghatai Adat, maka setelah itu Hasuhuton Paranak akan memberikan Batu Sulang atau mahar. Pemberian Batu Sulang kepada Hasuhuton Parboru pada umumnya diwakili oleh Pahompu/cucu. Batu Sulang biasanya sudah dalam bentuk uang yang diletak dalam sebuah piring yang sidah diisi dengan beras dan uang tersebut di dijepit oleh satu buah daun sirih.

Pada tahapan ini pihak Hasuhuton Paranak akan terlebih dahuli meminta maaf karena atas kekurangan mereka yang dahulunya belum bisa melaksanakan upacara adat pernikahan. Setelah Hasuhuton Paranak meminta maaf maka prosesi pemberian Batu Sulang yang diwakili anak akan dilaksanakan, secara simbolik Batu Sulang tersebut akan diberikan kepada orang tua si istri.

5. Pemberian ulosoleh Hasuhuton Parboru.
Dalam tahap ini Hasuhuton Parboru akan memberikan Ulos kepada seluruh keluarga Hasuhuton Paranak, sesuai yang sudah dibicarakan pada tahap Martonggo Raja, sudah ditentukan berapa Ulos yang akan diberikan Hasuhuton Parboru untuk hasuhuton paranak. Adapun Ulos yang sudah ditentukan adalah sebagai berikut :

A. Ulos Passamot.
B. Ulos Hela/Mardar Hela
C. Ulos Parangmangtuaan.
D. Ulos Paramangudaan.
E. Ulos Haha ni Hela.
H. Ulos pahompu

6. Olop-olop
Olop-olop merupakan acara penutup yaitu penyampaian berkat kepada keluarga pelaksana upacara Sulang-sulang Pahompu, supaya keluarga tersebut menjadi keluarga yang bahagia dan sejahterah nantinya. Akhirnya acara pesta tersebut akan ditutup oleh pihak Hasuhuton Paranak dan Parboru serta memberkati acara tersebut dan mengakhiri acara tersebut dengan mengucapkan Olop-olop sebanyak tiga kali. Dan ketika pada saat itu jugamaka hubungan keluarga antara Hasuhuton Paranak dan Parboru sudah dianggap sah secara adat, karena sudah melaksanakan upacara Sulang-sulang Pahompu.

Dalam etnik Batak Toba pernikahan suatu keluarga akan dianggap sah apabila sudah melaksanakan tahapan atau prosesi adat yang harus dilakukan dan juga membayar segala kewajiban adat-istiadat etnik Batak Toba yang berkaitan dengan adat pernikahan. Tahapan dan juga segala kewajiban adat tersebut merupakan suatu keharusan yang harus dilaksanakan bagi setiap masyrakat yang ingin melaksanakan upacara pernikahan. Namun dalam kenyataan-nya tidak semua masyarakat dapat melaksanakan hal tersebut karena berbagai faktor.

Ada 3 faktor yang melatar belakangi terjadinya upacara Sulang-sulang Pahompu. Adapun faktor-faktor yang melatar belakangi hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Faktor ekonomi
Untuk melaksanakan upacara adat pernikahan tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Biaya tersebut digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan untuk pesta tersebut seperti biaya untuk makanan, keperluan untuk pesta (baju, ulos, dekorasi, dll), dan juga sinamot atau mahar. Jika suatu keluarga tidak mampu untuk melaksanakan adat pernikahan, maka keluarga tersebut hanya melaksanakan pernikahan dengan bentuk acara yang kecil. Bentuk acara yang kecil artinya pernikahan dengan bentuk pesta syukuran atau Pasu-pasu Raja. Pernikahan tersebut disahkan dengan persetujuan raja adat, akan tetapi pernikahan tersebut secara adat belum sah karena belum melaksanakan upacara adat pernikahan (adat na gok) dan juga segala bentuk kewajiban yang harus dibayar belum terpenuhi karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan.

2. Faktor tidak direstui orang tua
Untuk menjalin hubungan rumah tangga yang baik kedepannya tentu kedua calon pengantin membutuhkan restu dari orang tua pihak laki-laki dan juga orang juga pihak perempuan. Karena restu orang tua adalah penentu hubungan antara kedua calon pengantin nantinya. Pada umumnya masyarakat yang mengalami hal tersebut mereka lebih memilih untuk kawin lari tanpa sepengetahuan keluarga. Akan tetapi suatu saat mereka bisa mengukuhkan pernikahan mereka jika sudah mendapat restu dari orang tua mereka dan melaksanakan upacara Sulang-sulang Pahompu.

3. Faktor situasi dan kondisi keluarga
Jika ditinjau dari situasi dan juga kondisi keluarga rencana penikahan dalam etnik Batak Toba bisa saja dilakukan dalam waktu yang singkat dengan status pernikahan belum dianggap sah secara adat karena pernikahan tersebut dilaksanakan tanpa melaksanakan tahapan adat dan juga segala bentuk kewajiban adat belum dipenuhi.

Jika dilihat dari situasi dan juga kondisi suatu keluarga,pasu-pasu raja dapat terjadi karena dua faktor:

A. Karena faktor permintaan orang tua yang sedang sakit.
Dalam kehidupan etnik Batak Toba jika orang tua yang sedang sakit dan juga sudah memiliki umur yang tua dan juga belum memiliki anak yang menikah. Sewaktu-waktu bisa saja orang tua tersebut meminta anak sulungnya untuk menikah dengan waktu yang cukup singkat, sehingga pernikahan tersebut dilaksanakan dengan ala kadarnya (pasupasu raja) dan hal tersebut sudah sering terjadi pada etnik Batak Toba.

B. Karena faktor keinginan memestakan orang tua yang meninggal.
Jika orang tua suatu keluarga meninggal tanpa memiliki anak yang belum menikah maka orang tua tersebut belim bisa dipestakan. Akan tetapi keluar tersebut berniat untuk memestakan orangtua tersebut maka mereka terlebih dahulu menikahkan salah satu anaknya. Karena waktu yang tidak memadai maka pernikahan juga akan dilaksanakan pasu-pasu raja. Hal tersebut juga sudah sangat sering terjadi didalam kehidupan etnikBatak Toba.

Jika masyarakat etnik Batak Toba mengalami pernikahan yang tertunda (pasu-pasu raja) maka dikemudian hari mereka bisa mengukuhan pernikahan tersebut yaitu dengan melaksanakan upacara Sulang-sulang Pahompu.

LIHAT VIDEO DI BAWAH INI
UPACARA ADAT BATAK TOBA SULANG-SULANG PAHOMPU - Apa Kenapa Bagaimana Pelaksanaannya



Sumber: Kutipan Skripsi yang berjudul: UPACARA SULANG-SULANG PAHOMPU PADA ETNIK BATAK TOBA : KAJIAN SEMIOTIKA SOSIAL, OLEH: TUMBUR HARYANTO NAIBAHO, PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA BATAK, DEPARTEMEN SASTRA DAERAH, FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN, 2016
loading...

No comments

Powered by Blogger.