Header Ads

Rapat Pendeta HKBP, Pdt Lutz Neumeier dari Jerman: Gereja Harus Berubah dan Berinovasi

WARTAGAS.COM (Tapanuli Utara) - Pendeta dari Jerman, Lutz Neumeier menjelaskan pentingnya pemanfaatan media sosial dalam berhubungan dengan jemaat dan orang-orang di luar gereja. Harus diakui gereja sangat lamban merespons perubahan dengan alasan konservatif. Untuk itu gereja harus berubah dan berinovasi dalam berhubungan dengan orang-orang.

Rapat Pendeta HKBP, Pdt Lutz Neumeier dari Jerman: Gereja Harus Berubah dan Berinovasi
DISKUSI: Pdt Lutz Neumeier dari Jerman (kiri), pada sesi diskusi, menjawab pertanyaan peserta ceramah dalam rangkaian rapat pendeta HKBP, Rabu (23/10) di Auditorium Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara. Pdt Lutz didampingi Ketua Rapat Pendeta Pdt Dr Robinson Butarbutar dan salah seorang pembicara Pdt Dr Enig Aritonang. (Foto: hariansib)

"Pada dasarnya gereja atau dan anggota jemaat lebih konservatif daripada semua unsur lainnya di dunia. Di satu sisi, tentulah hal ini tidak buruk karena tradisi-tradisi yang baik dan dasar-dasar kekristenan seperti nilai hidup setiap orang sangat dihargai selama berabad-abad," ujarnya dalam sesi ceramah pada hari ketiga Rapat Pendeta HKBP 2019 di Seminarium Sipoholon Tapanuli Utara, Rabu (23/10).

Namun di sisi lain, menurut Lutz, konsekuensinya adalah gereja dan anggota jemaat lambat untuk berubah dan beradaptasi dengan gaya hidup modern. Pola dan cara berpikir lama seharusnya ditinjau dari waktu ke waktu seperti yang Martin Luther lakukan pada abad ke 16. Ungkapan dalam bahasa Latin, "Ecclesia Semper Reformanda", yang menegaskan mereformasi gereja sepanjang masa adalah kebutuhan yang harus diingat dan ditindaklanjuti.

Lutz menyebutkan, jika ingin terhubung dengan orang-orang dengan gaya hidup modern dan berubah-ubah (fluid), gereja harus menjadi cair, mau berubah serta fleksibel. Jemaat-jemaat yang kokoh sangat dibutuhkan untuk menguatkan dan menopang gaya hidup yang Kristiani.

"Smartphone dan semua media sosial dapat digunakan untuk memberitakan kabar baik dan untuk berkomunikasi dengan anggota jemaat dan bahkan orang-orang di luar gereja dan jemaat. Terutama dengan kaum muda, menggunakan smartphone untuk belajar dan menjadi kreatif adalah ide yang bagus," jelasnya.

Lutz mengungkapkan, dalam dua dekade terakhir kehidupan dan komunikasi telah banyak berubah menjadi kehidupan hibrida yang membuat orang-orang hampir setiap saat online. Di samping adanya beberapa bahaya atas gaya hidup baru yang tidak akan hilang begitu saja, gereja dan jemaat disarankan untuk menggunakan semua cara yang mungkin mengabarkan berita baik.

"Para pelayan dan setiap orang yang terlibat dengan misi harus memikirkan bagaimana menggunakan media sosial dan bagaimana memasukkan media sosial ke dalam kehidupan kerja mereka. Jemaat-jemaat yang diam di dalam habitatnya adalah tetap penting. Namun persekutuan Kristiani pun dapat juga dibangun melalui media sosial, " terangnya.

Menurut Lutz, gereja sangat disarankan untuk memanfaatkan internet dan media sosial sebaik mungkin dengan memikirkan dirinya sebagai gereja hibrida yang tersedia untuk orang - orang baik secara offline maupun online.

"Misi gereja adalah menjangkau orang di mana pun mereka berada dan berita baiknya adalah manusia zaman sekarang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jejaring sosial. Menjangkau semua itu di jejaring sosial tidak menyita waktu yang banyak dan tidak menelan biaya besar. Jejaring sosial yang dapat digunakan yakni, Facebook, Instagram dan Youtube," paparnya.

Lutz menjelaskan, di Facebook hadirlah sebagai anggota gereja dan beritakan kabar baik. Posting semua kegiatan dan pelayanan di gereja dan jemaat sebelum dilakukan dan setelah dilakukan. Kemudian buatlah sebuah situs Facebook jemaat, buat group Facebook untuk membangun komunitas dan ajukan pertanyaan dan berinteraksilah dengan followers.

"Untuk Instagram, hadirlah sebagai anggota gereja dan menyebarkan kabar baik, buatlah akun jemaat dan gereja yang lebih luas, postinglah foto dan pelayanan doa. Ajukan pertanyaan dan terlibatlah aktif dengan followers, gunakan orang-orang muda dan mintalah mereka menghasilkan cerita-cerita Kristen atau Alkitabiah," jelasnya.

Selanjutnya, Lutz mengatakan, untuk Youtube, gunakanlah video bersama dengan kaum muda yang berisi cerita Alkitab atau cerita-cerita gaya hidup Kristen. Cari dan dukunglah orang - orang Kristen yang berpengaruh dan para pelayan yang bersedia memposting kehidupan mereka secara teratur.

Senada disampaikan Dosen STT Pematangsiantar, Pdt Dr Enig Sonatha Aritonang yang menjadi pembicara ceramah bertajuk "Pendeta HKBP Belajar dan Bergegas Melaksanakan Tugas Panggilannya agar Iman Tidak Jatuh pada Era Revolusi Industri Keempat". Transformasi raksasa teknologi sudah dimulai. "Gereja atau umat Tuhan yang sedang tumbuh dalam revolusi industri 4.0 mengalami shock of civilization (keterkejutan peradaban)," kata Pdt Enig Sonatha.

Gereja yang berada dunia nyata dan maya, katanya, hampir tidak bisa dipisahkan. Sebagian gereja telah siuman dari keterkejutannya dan mulai bergerak, berlari untuk bertumbuh sembari menghalau tantangan yang ditimbulkan revolusi industri 4.0.

Enig menyebutkan munculnya komunitas atau persekutuan virtual misalnya, dapat mengganggu eksistensi persekutuan fisik (face to face) yang telah dihidupi oleh gereja sejak dari mulanya. Ini dapat berakibat munculnya berbagai informasi dan pengungkapan diri yang berlebihan dan liar. Media yang seharusnya sarana bersosialisasi dan berkomunikasi, bisa berubah menjadi media caci maki.

Dengan memperhatikan tantangan itu, setidaknya gereja secara khusus pelayan HKBP memiliki tugas panggilan untuk merespon revolusi industri 4.0 yakni, gereja harus berkontribusi menata peradaban dunia di era disruptif.

HKBP menurutnya, harus memantapkan makna kehadiran gereja yang cenderung tidak lagi mengutamakan kehadiran fisik dan gereja harus bisa terlibat aktif menggunakan media teknologi komunikasi sebagai sarana pelayanan kepada umat dan masyarakat.

Dengan demikian, untuk meningkatkan kesadaran bermedia sosial dan sekaligus menjadikan sebagai media misi, sebaiknya gereja melakukan festival literasi digital gereja di seluruh gereja HKBP mulai dari level huria, resort, distrik dan pusat serta kepada anak sekolah minggu, pemuda dan orang dewasa.

Dengan begitu, kecakapan bermedia sosial, gereja dapat memberikan informasi teologi ajaran dan etika yang relevan dan benar di tengah kelebihan informasi.

Merenungkan Panggilan Tuhan
Sementara itu, Dosen STT Pematangsiantar Pdt Dr Hulman Sinaga dalam ceramahnya mengatakan orang Kristen termasuk para pendeta HKBP mendapat tugas untuk menyebarkan kabar keselamatan.

Sesuai tema Rapat Pendeta 2019 "Hutangiakhon do ho Asa Unang Mintop Haporseaonmu" (Aku mendoakanmu Agar Imanmu Tidak Jatuh) yang tercatat di Lukas 22:32, Hulman mengundang pendeta HKBP untuk menyadari dan merenungkan panggilan Tuhan sebagaimana yang dialami oleh Petrus. Pengikut Yesus diajak untuk mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah masih terus mengalami kuasa doa Yesus.

Implikasi tema ini, menurut Hulman, ada beberapa faktor yang kemungkinan besar dapat membuat iman para hamba Tuhan menghadapi tantangan, ancaman, bahaya dan pencobaan yang mengarah pada kejatuhan. Antara lain, pergumulan lokal, pergumulan nasional, pergumulan global, dan pergumulan internal.

LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Aksi Anak-Anak Paud Tunas Bangsa Panombeian Panei Manortor cara melestarikan Budaya Batak



Sumber: hariansib
loading...

No comments

Powered by Blogger.