Header Ads

Sejarah Lahirnya Marga Tarigan

Sejarah Lahirnya Marga Tarigan
Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd

Sejarah Lahirnya Marga Tarigan

Pendahuluan
Tarigan merupakan salah satu marga induk pada suku Karo, marga ini berawal dari marga Purba bagian dari etnis Simalungun yang muncul pada masa Kerajaan Silou. Hingga hari ini masih banyak di kalangan mereka yang merasa orang Simalungun, terutama yang masih menetap di tanah Simalungun. Missionaris Karo J.H. Neumann, dalam bukunya berjudul Bijdrage tot de Geschiedenis van der Karo-Batakstammen, 1. Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde van Nederlandsch-Indiƫ, Deel 82: 1-36 dan Bijdrage tot de Geschiedenis van der Karo-Batakstammen, 2. Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde van Nederlandsch-Indiƫ, Deel 83: 162-180 yang diterbitkan tahun 1926 dan 1927 dalam bahasa Belanda dan telah dialihkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Sejarah Batak-Karo: Sebuah Sumbangan terbit tahun 1972. Ia menyatakan bahwa marga Tarigan tidak memainkan peranan penting di tanah Karo kecuali Karokaro Purba yang menjadi Sibayak di Urung XII Kuta Kaban Jahe yang masih bersaudara dengan Tarigan. Perlu diketahui bahwa golongan marga Tarigan yang berasal dari Simalungun sejak awal terbentuknya bernaung dibawah kerajaan di Simalungun mulai dari Kerajaan Silou, Dolog Silou, Purba, dan Silima Huta, di antara mereka menggunakan gelar Tuan sebagai penguasa di tingkat Perbapaan dan Pertuanan. Berbeda dengan kelompok Tarigan Sibero yang datang dari Tungtung Batu, mereka bernaung kepada Sibayak Sarinembah. Pada awalnya marga Tarigan tidak mengenal cabang marga seperti yang berlaku saat ini, lahirnya sejumlah cabang Tarigan terjadi pasca peralihan sejumlah cabang marga Purba dari Simalungun dan Pakpak. Adapun cabang Tarigan yaitu Tua, Tambak, Silangit, Gerneng, Girsang/Gersang, Sahing, Ijuk, Sibero, Tambun, Tendang/Tondang, Purba Cikala, Pekan, Jampang, Bondong, dan Ganagana.

Gambar 1: Peta daerah asal sejumlah cabang marga Tarigan di Simalungun. (Peta di bawah dilukis oleh Betman Tarigan Tambak asal Tambak Bawang)
Gambar 1: Peta daerah asal sejumlah cabang marga Tarigan di Simalungun. (Peta di bawah dilukis oleh Betman Tarigan Tambak asal Tambak Bawang)

Mereka berasal dari sejumlah perkampungan di tanah Simalungun dan juga Pakpak, Tarigan Tambak datang dari kampung Tambak Bawang, Bawang, Ujung Bawang, dan Tingkos di Kecamatan Dolog Silou. Kemudian Tarigan Silangit menyebar dari kampung Panribuan, Toras, Saran Padang, dan Langit Sinombah di Kecamatan Dolog Silou serta dari Gunung Mariah di Deli Serdang. Sementara Tarigan Gerneng hanya berasal dari satu kampung yaitu Tingkos (Cingkes sekarang). Sedang Tarigan Tua berawal dari dari kampung Purba Tua, Purba Tua Bolag, dan Purba Tua Etek di Kecamatan Silima Huta. Demikian juga Tarigan Girsang/Gersang dan pecahannya yaitu Tarigan Sahing dan Tarigan Ijuk pindah ke tanah Karo melalui Naga Saribu dan Saribu Jandi di Kecamatan Silima Huta. Kelompok Tarigan lainnya seperti Tarigan Tambun, Tarigan Tendang/Tondang, dan Tarigan Purba/Cikala datang dari kampung Binangara, Hinalang, dan Purba Hinalang di Kecamatan Purba. Lalu Tarigan Sibero datang dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga Dairi. Perpindahan mereka umumnya didorong oleh adanya hubungan perkawinan dan memperluas area pertanian serta mencari kehidupan baru. Sebagian karena diundang sebagai tabib dan juga untuk menghalau musuh.

Akibat dari perpindahan ini, kampung asal mereka menjadi sunyi, kampung Tambak Bawang sekarang sudah bergeser beberapa kilometer dari kampung Tambak Bawang lama yang dahulu berada di sekitar pemandian puteri Si Boru Hasaktian yang kini disebut Pancur Beru Tarigan, di sekitar kawasan ini sekarang menjadi area perladangan. Demikian juga penduduk kampung Toras dari golongan Tarigan Silangit banyak yang pindah ke Panribuan, sehingga Toras berubah jadi area perladangan. Mereka juga meninggalkan kampung Langit Sinombah menuju Saran Padang dan sebagian dari Panribuan juga pindah ke Saran Padang. J.H. Neumann menjelaskan bahwa di Juhar terdapat sejumlah perkampungan yang dihuni marga Tarigan yaitu Keriahen, Betung, Kuta Mbelin, Pergendangen, Kuta Galuh, dan Juhar. Terjadinya perpindahan massal golongan Tarigan ke tanah Karo sehingga menjadikan mereka bagian dari etnis Karo, sementara yang masih menetap di tanah Simalungun seperti di Kecamatan Silima Huta dan Dolog Silou, juga di Deli Serdang yaitu di Kecamatan Gunung Mariah dan Bangun Purba tetap mengaku etnis Simalungun. Namun pasca kemerdekaan hingga meletusnya Revolusi Sosial di Sumatera Timur 3 Maret 1946, terjadi perubahan sosial yang sangat drastis di tengah masyarakat Simalungun. Pada masa ini, demi keselamatan diri dari ancaman revolusi, banyak komunitas Tarigan baik yang tinggal di Simalungun maupun Deli Serdang melebur ke dalam etnis Karo. Sebagian pergi mengungsi ke tanah Karo, selebihnya tetap bertahan di kampung halaman mereka.

Gambar 2: Kampung Panribuan di Kecamatan Dolog Silou tahun 1917
Gambar 2: Kampung Panribuan di Kecamatan Dolog Silou tahun 1917

Perkembangan Marga Tarigan
Tarigan Tambak berasal dari Purba Tambak, leluhur marga ini merupakan penguasa Kerajaan Silou dan Dolog Silou, di Simalungun marga ini terbagi menjadi Tambak Bawang, Tambak Tualang, dan Tambak Lombang, yang banyak menyebar ke tanah Karo dari golongan Tambak Bawang. Selain itu, pada masa lalu leluhur Purba Tambak dan Tarigan Tambak juga pernah menjadi raja di Tambak Binongon, dari sinilah lahir kelompok Purba Sidasuha yang mendirikan Pertuanan Suha Bolag dan Kerajaan Panei. Akibat terjadinya perselisihan, keturunan Purba Sidasuha terpecah lagi menjadi Purba Sidadolog dan Purba Sidagambir. Di daerah Tingkos sekarang masih terdapat peninggalan leluhur Purba Tambak dan Tarigan Tambak berupa kolam bernama Tambak Lau Burawan yang dimiliki secara bersama-sama dengan Tarigan Purba Cikala, selain itu di Tambak Bawang juga ditemukan peninggalan yang sama yaitu Tambak Sumbul dan Pancur beru Tarigan. Untuk makam raja-raja Silou bisa disaksikan di Silou Buntu Kecamatan Raya Simalungun yang berada di atas bukit yang ditandai sebuah monumen batu setinggi setengah meter yang menggambarkan seorang kesatria menunggang kuda sebagai pintu masuk menuju makam. Sedang makam raja-raja Dolog Silou berada.di Barubei dan Pamatang Dolog Silou yang ditaruh dalam peti kayu, pemakaman ini sudah dibangun dengan baik semasa hidup Raja Dolog Silou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak yang dinamakan Balei Hubur. Pada zaman dahulu, Raja Silou memiliki beberapa orang putera, salah seorang di antaranya membentuk perkampungan di Tambak Bawang yang pada masa itu penuh dengan rawa-rawa. Di tempat ini, ia membuat sebuah kolam dan menamakannya Tambak Bawang artinya kolam terbuat dari rawa-rawa. Sejak itu marganya lebih dikenal dengan sebutan Purba Tambak Bawang, ia menikah dengan puteri Karo dari Sukanalu dan memperoleh lima orang anak. Putera sulungnya bergelar Ompung Nengel yang memiliki gangguan pendengaran, putera kedua adalah seorang yang sakti, sepeninggalnya sosoknya dikeramatkan (sinumbah). Adik mereka yaitu Nai Horsik, Si Boru Hasaktian (pemilik pemandian keramat yang ada di Tambak Bawang), dan putera bungsu pergi ke Sukanalu ke kampung pamannya marga Sitepu, keturunannyalah Tarigan Tambak yang ada di Sukanalu dan Kebayaken. Ompung Nengel merupakan leluhur Tarigan Tambak yang ada di Tambak Bawang dan Bawang, sepeninggal ayahnya ia meneruskan jabatan sebagai kepala kampung (pangulu) Tambak Bawang. Sedang adiknya Nai Horsik pergi ke timur dan sampai di Silou Buntu, ia menikah dengan puteri Raja Nagur dari klan Damanik dan melahirkan putera bernama Jigou.

Gambar 3: Hasil sketsa monumen batu setinggi setengah meter yang menggambarkan seorang kesatria menunggang kuda yang dilukis oleh G.L. Tichelman tahun 1921 (kiri) dan bentuk aslinya berhasil ditemukan oleh tim Komunitas Jejak Simalungun (kanan) pada 15 November 2014. Monumen ini menjadi pintu masuk menuju tempat penyimpanan tulang belulang leluhur raja-raja Silou. Asisten Residen Simalungun dan Karo J. Tideman juga pernah mengunjungi dan melakukan penelitian terhadap situs ini
Gambar 3: Hasil sketsa monumen batu setinggi setengah meter yang menggambarkan seorang kesatria menunggang kuda yang dilukis oleh G.L. Tichelman tahun 1921 (kiri) dan bentuk aslinya berhasil ditemukan oleh tim Komunitas Jejak Simalungun (kanan) pada 15 November 2014. Monumen ini menjadi pintu masuk menuju tempat penyimpanan tulang belulang leluhur raja-raja Silou. Asisten Residen Simalungun dan Karo J. Tideman juga pernah mengunjungi dan melakukan penelitian terhadap situs ini

Dalam naskah kuno (chronicle) Partingkian Bandar Hanopan peninggalan Kerajaan Dolog Silou yang disimpan oleh Tuan Bandar Hanopan dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh Taal Ambtenaar (pegawai bahasa Belanda) Dr. Petrus Voorhoeve dan pertama kali disebutkan dalam literatur oleh G.L Tichelman (Deli Courant 1936/07/03). Kronik tersebut mengisahkan bahwa Tuan Sindar Lela bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani dekat pohon tualang di sekitar Deli Tua. Sindar Lela memiliki keahlian berburu dan juga pemancing yang handal sehingga ia digelari dengan Pangultopultop, hal inilah yang menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak dan Tarigan Tambak yaitu ultop (sumpit) dan bubu (alat penangkap ikan); keturunanya disebut Purba Tambak Tualang. Pertemuan Puteri Hijau dengan Sindar Lela terjadi pada waktu Aceh menyerang Haru. Keduanya menjalin hubungan saudara, Sindar Lela kemudian membawa Puteri Hijau ke Sinembah untuk mencari perlindungan, namun Datuk Sinembah keberatan. Dari sini, mereka pergi ke Haru. Sultan Haru rela membantu asalkan Puteri Hijau bersedia menjadi permaisurinya. Mendengar Puteri Hijau berada di Haru, Sultan Aceh mengirim armada untuk menyerang Haru sekaligus membawa Puteri Hijau kembali ke Aceh. Setelah berhasil menghancurkan Haru, Puteri Hijau diboyong ke Aceh, sultan lalu membujuknya agar rela menjadi isterinya, keinginan ini diterima oleh Puteri Hijau namun dengan syarat Sultan Aceh segera memberikan legitimasi kepada saudaranya Sindar Lela menjadi raja di Kerajaan Silou.

Gambar 4: Raja Dolog Silou, Tuan Tanjarmahei Purba Tambak tahun 1920 yang merupakan raja dari golongan Tarigan Tambak, Tarigan Tua, Tarigan Gerneng, dan Tarigan Silangit
Gambar 4: Raja Dolog Silou, Tuan Tanjarmahei Purba Tambak tahun 1920 yang merupakan raja dari golongan Tarigan Tambak, Tarigan Tua, Tarigan Gerneng, dan Tarigan Silangit

Setelah ditabalkan menjadi raja, Sindar Lela kembali ke Simalungun dan mendirikan kampung Silou Bolag. Ia menikah dengan puteri Raja Nagur bernama Ruttingan Omas dan melahirkan dua orang putera, yang sulung bernama Tuan Tariti dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja. Anak yang sulung menggantikan ayahnya sebagai raja di Silou Bolag, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia dan menjadi Raja Goraha Silou. Sindar Lela juga mengambil puteri Raja Pohan dari Banua yang disebut Puang Toba. Putera bungsunya, Tuan Timbangan Raja menikah dengan Bunga Ncolei puteri Penghulu Pintu Banua dari Barus Jahe dan melahirkan dua orang putera dan seorang puteri. Salah seorang puteranya kemudian mendirikan kerajaan dekat jurang di tanah Raja Marubun di tepi Bah Karei berbatas dengan Rih Sigom dan Sibaganding dekat Bangun Purba, keturunannya kemudian bergelar Purba Tambak Lombang. Tuan Timbangan Raja juga menikah dengan puteri Raja Nagur dari Parti Malayu klan Damanik dan hanya melahirkan seorang putera. Pada masa terjadinya konflik antara Silou dengan Aceh karena perebutan Gajah Putih, Silou mengalami kekalahan. Sebagai tebusan, pasukan Aceh memboyong Raja Marubun, permaisuri Tuan Silou Dunia, dan sepasang anaknya. Sedang dua puteranya yang lain berhasil menyelamatkan diri, keduanya bergelar Raja Goraha Silou dan Raja Anggianggi. Setelah berada di Aceh, putera Tuan Silou Dunia mampu merebut hati Sultan Aceh sehingga dijadikan menantu lalu didudukkan sebagai penguasa di Tarumun, Aceh Selatan.

Gambar 5: Situs Gajah Putih peninggalan Raja Silou,patung ini dibuat di Bongguran (Nagori sekarang) dan dicat putih sehingga disebut “Gajah Putih". Raja Silou lalu memerintahkan agar menutup patung tersebut dengan tanah, sehingga tidak lagi tampak
Gambar 5: Situs Gajah Putih peninggalan Raja Silou,patung ini dibuat di Bongguran (Nagori sekarang) dan dicat putih sehingga disebut “Gajah Putih". Raja Silou lalu memerintahkan agar menutup patung tersebut dengan tanah, sehingga tidak lagi tampak

Raja Dolog Silou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak dalam bukunya "Sejarah Keturunan Silou" menyebutkan bahwa Tuan Rajomin Purba Tambak bergelar Nai Horsik putera Tuan Bedar Maralam juga menikah dengan puteri Sibayak Barus Jahe. Di mana acara pernikahan mereka diadakan di kampung Barubei, pada waktu itu hadir Penghulu Tanjung Muda, Tambak Bawang, Purba Tua, Partibi Raja, Huta Saing, dan Purba Sinombah. Selain dengan puteri Sibayak Barus Jahe, Tuan Rajomin juga mengambil puteri Raja Pohan dari Banua sebuah kerajaan di daerah Toba, saudara perempuan dari Raminta sebagai isteri. Namun belakangan, pihak Barus juga turut menikahi puteri Purba Tambak. Dua orang puteri Tuan Lurni bernama Panak Boru Tobin dan seorang lagi disebut Bou dijadikan isteri oleh Milasi Barus, Penghulu Tanjung Muda. Dari Panak Boru Tobin lahir tiga orang anak laki-laki bernama Sakka Barus, Tombaga Barus, Kudakaro Barus, dan seorang perempuan bernama Tapiorei beru Barus yang kemudian kawin dengan Tuan Duria Purba Silangit, Penghulu Gunung Mariah dan melahirkan seorang putera bernama Tuan Samperaja Purba Silangit. Kemudian putera Tuan Lurni bernama Tuan Dormagaja memiliki enam orang anak, pertama bernama Tapiara kawin dengan Laut Sipayung melahirkan Garain, kedua Tamin yang menikah dengan Tombaga Barus dan memperoleh putera bernama Martika Barus. Ketiga Hamura kawin dengan Andim Sipayung dan melahirkan Morgailam Sipayung, Keempat Loin kawin dengan Jimat Sipayung, dari hasil pernikahan keduanya lahir Kawan Sipayung. Kelima Rabini kawin dengan Ramauli Barus dan keenam bernama Arbun kawin dengan Taris Barus. Selanjutnya puteri Tuan Dorahim bernama Panak Boru Bungalou kawin dengan Sakka Barus dan memperoleh anak laki-laki bernama Jotar Barus, dan tiga anak perempuan bernama Dingin, Renep, dan Langges. Selanjutnya, putera Tuan Lurni bernama Tuan Tanjarmahei memiliki tiga puluh orang anak dari beberapa orang isteri, di antaranya boru Saragih Simarmata dari Purba Saribu dan kedua bernama Bungalain boru Saragih Garingging puteri Raja Raya. Salah seorang puteranya bernama Tuan Huala memiliki lima orang isteri, dari isteri keempat bernama Ragi boru Saragih melahirkan tiga orang puteri bernama Rainggan kawin dengan Tandang Sipayung, Tarmulia kawin dengan Bolong Barus, dan Parpulungan kawin dengan Banci Sinulingga. Sedang dari isteri kelima bernama Ikim boru Saragih lahir seorang puteri bernama Ramaidah yang kawin dengan Tolap Barus. Puteri Tuan Tanjarmahei bernama Panak Boru Linggainim kawin dengan Bintala Barus dan memperoleh tiga orang anak laki-laki bernama Rajanimbang kawin dengan Tiomina boru Tarigan Tua, Nokoh kawin dengan Tamin boru Purba, dan Ingatbona kawin dengan Maria boru Bangun. Dari hasil pernikahan Rajanimbang dengan Tiomina boru Tarigan Tua lahir Dr. Ir. Takal Barus. (Purba Tambak, 1967: 23-30)

Gambar 6: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak, putera Tuan Tanjarmahei Purba Tambak dan ayahanda dari Tuan Bandar Alam Purba Tambak.
Gambar 6: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak, putera Tuan Tanjarmahei Purba Tambak dan ayahanda dari Tuan Bandar Alam Purba Tambak.

Selain di tanah Simalungun dan Karo, marga Tambak juga ditemukan di daerah Padang Lawas dan Kota Pinang. menurut Nalom Siahaan B.A dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Batak menerangkan, akibat kehadiran marga Harahap mereka terdesak dan pindah ke Kota Pinang. Bila berkunjung ke Padang Lawas dan Mandailing, kita akan menemukan sejumlah perkampungan yang mengabadikan marga Purba seperti Bangun Purba, Purba Bangun, Tanjung Purba, Purba Sinomba, Purba Tua, Purba Lama, dan Purba Baru, apakah perkampungan ini ada kaitannya dengan keberadaan Purba Tambak di tempat ini, barangkali perlu penelitian lebih lanjut. Marga Tambak inilah yang ditemui oleh Batara Sinomba dan puteri Lenggani dari Pagaruyung. Dari kedua orang inilah cikal bakal lahirnya Kesultanan Kota Pinang, Bilah, Panai, Kualuh, dan Asahan. Pada tahun 2005 penulis pernah bertemu dengan salah seorang penyandang marga Tambak di Padang Lawas sewaktu berkunjung ke kampung halaman ipar penulis di Dusun Sipaho Desa Janji Matogu, Kec. Halongonan Kabupaten Padang Lawas Utara sekaligus mengunjungi komplek situs Candi Portibi. Keberadaan marga Tambak di Padang Lawas, mengingatkan penulis pada Kerajaan Panai yang pernah berdiri di lembah sungai Panai dan Barumun yang hancur oleh serangan Kerajaan Chola pada tahun 1025 Masehi. Kerajaan Panai merupakan kerajaan besar sebagai bukti kejayaan masa silam suku Batak di Sumatera Utara.

Adapun Tarigan Gerneng berasal dari Purba Sigumondrong keturunan Purba Tambak yang lahir dari boru Saragih Simarmata, marga ini berawal dari kampung Tingkos. Dari Tingkos inilah keturunannya menyebar ke tanah Karo. Sementara Tarigan Silangit berasal dari Purba Silangit, keturunannya yang pindah ke tanah Karo datang dari kampung Toras, Panribuan, Saran Padang, dan Langit Sinombah. Dari sini mereka menyebar ke tanah Karo, sebagian lagi bergerak ke Deli Serdang menduduki daerah Gunung Mariah, Bangun Sinombah, dan Bandar Sinombah hingga ke Bah Gerger di Lubuk Pakam. Dari Gunung Mariah, keturunannya pindah lagi ke tanah Karo. Pada zaman dahulu di sekitar Dolog Tinggi Raja di Kecamatan Silou Kahean pernah dikuasai leluhur mereka, konon terbentuknya cagar alam Dolog Tinggi Raja adalah akibat dari tragedi bencana banjir yang menimpa wilayah kekuasaan mereka, masyarakat setempat meyakini usai tragedi inilah sebagai awal mula munculnya massa air panas dan kawah putih di wilayah ini. Akibat bencana ini, keturunannya berhamburan keluar meninggalkan Dolog Tinggi Raja, ada yang pindah ke Raya, Toras, Langit Sinombah, dan Purba Sinombah. Hingga saat ini masih ditemukan keturunan Purba Silangit mendiami daerah sekitar Dolog Tinggi Raja. Kemudian Tarigan Tua, marga ini berasal dari Purba Tua di Silima Huta Simalungun dan memiliki ikatan persaudaraan yang erat dengan Purba Tanjung di Sipinggan, simpang Haranggaol. Eksistensi marga ini ditandai dengan adanya kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silima Huta yang kemudian terbagi menjadi Purba Tua Bolag dan Purba Tua Etek, dari sini keturunannya menyebar ke daerah Rahut Bosi (Rakut Besi sekarang), Tambak Bawang, dan Tingkos, dari tempat ini sebagian keturunanya menyebar ke tanah Karo. Marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero dari Tungtung Batu yang pindah ke Juhar kemudian ditabalkan jadi Tarigan Sibero, peristiwa ini terjadi sekitar 500 tahun yang lalu.

Gambar 7: Tuan Ragaim Purba Tambak bersama para penasehat dan pengawalnya di depan Rumah Bolon di Pamatang Dolog Silou
Gambar 7: Tuan Ragaim Purba Tambak bersama para penasehat dan pengawalnya di depan Rumah Bolon di Pamatang Dolog Silou

Tarigan Tendang atau sebagian menyandang Tarigan Tondang, berasal dari Purba Tondang. Tanah asal marga ini adalah Hitei Tanoh (Huta Tanoh sekarang) di Kecamatan Purba, marga ini memiliki hubungan erat dengan Purba Tambun Saribu. Keturunannya memperluas wilayah hingga sampai Hinalang dan Purba Hinalang. Dari sini menyebar lagi ke Rahut Bosi di Kecamatan Silima Huta terus ke tanah Karo. Sementara Tarigan Tambun, berasal dari Purba Tambun Saribu yang datang dari Binangara di Kecamatan Haranggaol Horisan. Marga ini bersaudara dengan Purba Tondang, perkembangannya berawal dari Silombu (tempat ini kini sudah berubah menjadi area perladangan) kemudian menyebar ke Binangara di Kecamatan Purba. Setiap tahun seluruh keturunan Purba Tambun Saribu dan Tarigan Tambun mengadakan pertemuan tahunan yang bertempat di Haranggaol dan tugu marga ini sudah dibangun di Binangara Kecamatan Haranggaol Horisan, Simalungun. Sedangkan Tarigan Purba Cikala atau Tarigan Cikala berasal dari Purba Hinalang, Simalungun pecahan dari Purba Pakpak. Leluhur marga ini pindah ke Dolog Silou dan mendirikan kampung Tanjung Purba dekat Tambak Bawang, dari sini menyebar ke tanah Karo.

Cabang Tarigan lainnya yaitu Tarigan Sibero, leluhur marga ini datang dari Tungtung Batu termasuk tanah adat Suak Keppas Kecamatan Silima Punggapungga, Dairi. Ketua Sulang Silima marga Cibero yang tinggal di Tungtung Batu menjelaskan kepada penulis bahwa leluhur Tarigan Sibero dalam tarombo disebut dengan gelar Guru Melayu, dia memiliki dua orang anak, yang sulung bergelar Pangultopultop dan yang bungsu bernama Batu. Abangnya, Pangultopultop pergi berkelana ke Simalungun dan memasuki wilayah Kerajaan Panei dan mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Setelah Pangultopultop memiliki kekuasaan di Simalungun, dia mengundang adiknya agar datang mengunjunginya. Si Batu menerima undangan tersebut dan datang menyusul abangnya ke Simalungun. Setelah beberapa lama tinggal bersama abangnya, dia kemudian meminta izin untuk kembali ke Tungtung Batu untuk menjenguk orangtuanya yang sudah lama ditinggalkannya. Batu memiliki dua orang anak, pertama bernama Gondang dan kedua bernama Buah atau Suksuk Langit yang juga digelari dengan Pengelter atau disebut juga si Mbelin Gelang. Buah mengikuti jejak pamannya berkelana, dia pergi ke Singkil kemudian meneruskan perjalanan hingga sampai di Tiga Binanga, dari sini ke Gunung Babo lalu turun ke Juhar. Pada masa itu sudah ditemukan kelompok Tarigan Tua di Juhar yang menjadi pihak menantu dari Ginting Munthe. Tarigan Tua menerima kedatangan si Buah di Juhar hingga ia ditabalkan menjadi Tarigan Sibero, ia kawin dengan puteri Peranginangin Pinem. Di Deli Serdang terdapat juga sejumlah keturunan Tarigan Sibero, mereka ini tidak berasal dari Juhar melainkan dari keturunan Purba Siboro yang datang dari Simalungun dan pulau Samosir.

Gambar 8: Raja Purba XII Tuan Rahalim Purba Pakpak didampingi para penasehatnya, ia merupakan raja bagi golongan Tarigan Tendang/Tondang, Tarigan Tambun, dan Tarigan Purba Cikala.
Gambar 8: Raja Purba XII Tuan Rahalim Purba Pakpak didampingi para penasehatnya, ia merupakan raja bagi golongan Tarigan Tendang/Tondang, Tarigan Tambun, dan Tarigan Purba Cikala.

Tarigan Gersang, sebagian tetap menggunakan Tarigan Girsang. Mengenai asal marga ini ada tiga pendapat yang berkembang, pertama sebagian penyandang marga ini meyakini leluhur mereka berasal dari Lehu keturunan marga Cibero, kedua ada yang menyatakan keturunan Purba Sigulang Batu dari Humbang, ketiga ada yang mengaku berasal dari Sitampurung dekat Siborongborong keturunan marga Sihombing Lumban Toruan. Komunitas Girsang yang tinggal di daerah Silimakuta umumnya meyakini asal leluhur mereka datang dari Lehu. Posisi Girsang di Lehu adalah sebagai menantu dari marga Manik, sejarahnya diawali ketika si Girsang mengembara hingga akhirnya sampai ke Lehu, dia kemudian diangkat menjadi menantu oleh Raja Mandida Manik salah seorang penguasa di Suak Pegagan tanah Pakpak.

Dari hasil investigasi penulis beberapa tahun yang lalu, di mana penulis mewawancarai salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Dia tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, kediamannya merupakan tanah pemberian Raja Mandida Manik, yang dalam istilah Pakpak disebut rading beru. Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya ada dua orang, yaitu si Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan kesebelas dari Raja Ghaib leluhur pertama marga Cibero. Asisten Residen Simalungun dan Karo, J. Tideman dalam bukunya Simeloengoen: het land der Timoer-Bataks in zijn vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra mengisahkan, leluhur Girsang berasal dari tanah Pakpak, suatu hari ia mengejar seekor rusa ke timur yang ditembaknya di Lehu; rusa tersebut dikejar oleh anjingnya sampai ke Dolog Tanduk Banua (Sipisopiso). Di tempat ini mereka kehilangan jejak, si Girsang melihat seekor kerbau putih (horbou jagat), sehingga dia menduga sedang berada di suatu perkampungan. Untuk memenuhi rasa penasarannya, dia bersama anjingnya lalu mendaki Dolog Tanduk Banua, namun karena sepanjang hari mereka tidak makan dan minum, mereka lapar dan haus sehingga si Girsang duduk di bawah pohon dan meminum beberapa tetes embun yang jatuh dari daun, dia lalu bangkit berdiri. Anjingnya berjalan dengan menjulurkan lidahnya, si Girsang kemudian membantu hewan ini memetik cendawan merah dan memberikan kepadanya untuk dimakan, namun ternyata buah itu mengandung racun. Setelah dia memberikan cendawan putih, maka hewan itu pulih kembali seperti sebelumnya. Si Girsang mengetahui bahwa cendawan merah itu mengandung racun, sementara cendawan putih bisa digunakan sebagai obat penawar.

Dari puncak gunung dia melihat sebuah kampung yang luas, tempat pemukiman marga Sinaga yang bernama Naga Mariah. Dia memasuki perkampungan itu dan salah seorang penduduk bersedia menerima si Girsang untuk menetap di rumahnya. Pada saat itu kampung Naga Mariah sedang terancam oleh serbuan musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, mereka bermalam di dekat Dolog Singgalang. Mereka mengambil air dari lereng Dolog Singgalang, kini disebut Paya Siantar. Melihat kondisi ini, Tuan Naga Mariah lantas merasa sangat terancam, setelah mendengar berita ini, si Girsang lalu datang menemuinya. Dia mengajukan diri kepada Tuan Naga Mariah mampu menghancurkan semua musuhnya. Tuan Naga Mariah berkata, “Jika engkau berhasil menghancurkan mereka, maka saya akan menyerahkan puteri saya untuk engkau jadikan sebagai isteri”. Kemudian si Girsang memohon kepada Tuan Naga Mariah agar memerintahkan penduduknya mengumpulkan sebanyak mungkin duri, baik duri bambu, jeruk, rotan, pandan maupun tanaman lainnya. Si Girsang lalu memetik cendawan merah, merendamnya dalam air dan menaburkan duri ke dalamnya. Duri beracun tersebut lalu ditaburkannya di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh pihak musuh, demikian juga air beracun dimasukkannya ke dalam Paya Siantar. Setelah para musuh bergerak menuju Naga Mariah, mereka terjebak dalam duri dan keracunan karena meminum air dari Paya Siantar, akibatnya mereka semua mati terbunuh. Si Girsang kemudian pergi menemui Tuan Naga Mariah dan berkata: ”Ada seribu lawan mati bergelimpangan di gunung itu”, sehingga gunung tersebut dinamakan Dolog Singgalang dan tempat itu disebut Saribu Dolog. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian mengangkatnya sebagai menantu, upacara pernikahan mereka dirayakan layaknya pernikahan seorang raja. Karena si Girsang belum memiliki rumah, untuk sementara dia tinggal di Rumah Bolon (rumah besar) di sebelah kiri rumah Tuan Naga Mariah.

Gambar 9: Tuan Dumaraja alias Pa Moraidup Purba Girsang, Raja Silima Huta pertama. Sebelumnya ia adalah Tuan Naga Saribu, sedangkan saudaranya Pa Ngasami menjadi Tuan Siturituri. Raja Silima Huta merupakan raja untuk golongan Tarigan Girsang/Gersang, Tarigan Sahing, dan Tarigan Ijuk.
Gambar 9: Tuan Dumaraja alias Pa Moraidup Purba Girsang, Raja Silima Huta pertama. Sebelumnya ia adalah Tuan Naga Saribu, sedangkan saudaranya Pa Ngasami menjadi Tuan Siturituri. Raja Silima Huta merupakan raja untuk golongan Tarigan Girsang/Gersang, Tarigan Sahing, dan Tarigan Ijuk.

Akibat peristiwa ini, dia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan terkenal sebagai dukun sakti dan ahli nujum yang memahami seni mencampur racun sehingga orang menyebutnya Datu Parulas. Setelah wafatnya Tuan Naga Mariah, tampuk kekuasaan beralih kepadanya, tidak lama kemudian dia mendirikan kampung Naga Saribu di sekitar lokasi di mana para musuh dari Siantar itu mati dan menjadikannya sebagai ibukota Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Naga Mariah. Sejak terjadinya suksesi kepemimpinan ini, masyarakat setempat bermarga Sinaga, akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan berafiliasi dengan marga Peranginangin Bangun. Dari isteri pertamanya Datu Parulas memperoleh empat orang putra, namun mereka belum bisa disebut sebagai putra raja, karena ayahnya belum menjadi raja. Mereka menjadi leluhur Tuan Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, dan Mardingding. Setelah itu dia masih dikarunia dua orang putra, yang sulung membuka kampung Jandi Malasang, kemudian pindah ke Bage, di tempat ini dia membangun pasar dan balai yang mandiri. Si Bungsu mengikuti Datu Parulas dan menjadi penggantinya. Pada masa penjajahan Belanda, Bage berada di bawah Silima Huta. Keturunannya kemudian membelah diri menjadi beberapa cabang yaitu Girsang Rumah Bolon, Nagodang, Parhara, dan Rumah Parik. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo membentuk dua kelompok yaitu Tarigan Girsang dan Tarigan Gersang, di antara keturunannya membentuk marga baru yang dinamakan Tarigan Sahing pekerjaannya berburu seperti leluhurnya dan Tarigan Ijuk bertugas menyadap aren dan memukul pohon sagu (Neumann, 1972: 43). Sebagian keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini dan menamakan Girsang Silangit.

Selain itu masih ada cabang Tarigan lainnya seperti Tarigan Tegur menempati daerah Suka, Tarigan Pekan pecahan Tarigan Tambak di Suka Nalu, Tarigan Ganagana mendiami daerah sekitar Batu Karang. Kemudian Tarigan Bondong marga ini banyak ditemukan di daerah Lingga, disusul Tarigan Jampang yang mendiami daerah Pergendangen, dan terakhir adalah Tarigan Kerendam kemungkinan pecahan dari Tarigan Tua. Dari keturunan Tarigan Kerendam ini lahir seorang tokoh terkenal yang dianggap pahlawan bergelar si Nuan Kata, ada yang menyebutnya si Onan Katana, si Nongon Kata atau si Ngenan Kata. Ibunya dari kalangan marga Karokaro Ketaren, si Nuan Kata berasal dari Kuala. Karena diancam oleh pamannya dari Balesisi atau Banua Sini, ia melarikan diri menuju ke tempat pamannya di Padang Sambo. Di tempat ini, ia kawin dengan keponakannya, setahun kemudian ia pergi ke Sugo dan kawin lagi. Akibat ketidaksetiaannya, isteri tuanya lalu datang memeranginya. Dari sini, dia menyingkir ke Deli dan mendirikan sebuah dusun. Setelah dua tahun berada di Deli, si Nuan Kata berkelana lagi menuju Sait dan berhasil mendudukinya, nama daerah itu diganti jadi Siak. Dia lalu mengirim sebuah surat dan sebilah pisau kepada Sibayak Siput (Lau Cih), nenek moyang dari Sibayak Pa Pelita Purba dari Kaban Jahe. Kepada J.H. Neumann, Pa Pelita pernah mengatakan bahwa dia masih bersaudara dengan Sultan Siak (Neumann, 1972: 42).

Salah seorang keturunan Tarigan Gersang bernama Prof. Dr. Hendry Guntur Tarigan, seorang pakar linguistik Indonesia. Semasa hidupnya ia memberikan perhatian lebih terhadap budaya Simalungun, ia lahir di Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Karo 23 September 1933. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Pajajaran Bandung (1962), kemudian melanjutkan Pasca Sarjana Linguistik di Rijks Universiteit Leiden Nederland (1971-1973) dan meraih gelar doktor di bidang linguistik pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975) dengan disertasi berjudul "Morfologi Bahasa Simalungun". Jabatan terakhirnya adalah Pembina Utama Muda/Lektor Kepala Golongan IV/C. Ia sering mengikuti berbagai seminar dan lokakarya baik dalam maupun luar negeri dalam bidang kebahasaan, antara lain di Hasseit-Belgia (1972), di Paris-Perancis (1973), di Hamburg-Jerman (1981), dan di Tokyo-Jepang (1983). Jabatan lainnya adalah anggota Tim Evaluator Program Akta Mengajar V (sejak tahun 1981) dan anggota Tim Penilai Karya-Karya Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah yang disponsori oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sejak tahun 1976). Hasil karyanya untuk Simalungun antara lain:

1. Struktur Sosial & Organisasi Sosial Masyarakat Simalungun.
2. Morfologi Bahasa Simalungun.
3. Umpamani Simalungun (Peribahasa Simalungun).
4. Umpasani Simalungun (Pantun Simalungun).
5. Hutintani Simalungun (Teka-Teki Simalungun).
6. Perbandingan Kata Tugas Bahasa Simalungun dan Bahasa Indonesia.
7. Sumbangan Bahasa Simalungun Terhadap Bahasa Indonesia Khusus Dalam Bidang Morfologi: Thesis Diajukan Untuk Memperlengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana.
8. Morfologi Kata Kerja Dalam bahasa Simalungun.
9. Pengantar Fonologi Bahasa Simalungun.
10. Pengantar Morfologi Bahasa Simalungun.
11. Perbandingan Morfologi Bahasa Ogan Dengan Bahasa Simalungun.
12. Morfologi kata Benda, Kata Keadaan & Kata Bilangan Dalam Bahasa Simalungun.
13. Perbandingan Morfologi Bahasa Karo dan Bahasa Simalungun.
14. Perbandingan Umpasa Simalungun Dengan Pantun Melayu.
15. Sahap Silumat-lumatni Simalungun.
16. Folklore Simalungun: Cerita Si Jonaha.
17. Folklore Simalungun: Cerita Tuan Sormaliat.
18. Cerita Rakyat Simalungun: Cerita Si Marsingkam.
19. Sitalasari: Bunga Rampai Adat dan Budaya Simalungun.

Simpulan
Tarigan merupakan salah satu bagian dari Merga Silima dalam suku Karo, marga ini terbentuk berawal dari seorang marga Purba Simalungun yang hidup pada masa Kerajaan Silou. Keturunannya kemudian membentuk komunitas tersendiri yang terpisah dari marga Purba, namun demikian hubungan antara keduanya tetap terus terjalin dengan baik hingga hari ini. Pada perkembangannya muncul sejumlah cabang yang juga berasal dari peralihan sejumlah cabang marga Purba Simalungun dan keturunan marga Cibero dari Pakpak. Adapun cabang-cabang Tarigan antara lain Tua, Tambak, Silangit, Gerneng, Girsang/Gersang, Sahing, Ijuk, Sibero, Tambun, Tendang/Tondang, Purba Cikala, Pekan, Jampang, Bondong, dan Ganagana. Neumann menjelaskan, cabang Tarigan ini datang dari Simalungun di Dolog Silou dan juga tanah Pakpak (Tungtung Batu dan Lehu), selain itu ada juga yang datang dari Kecamatan Purba dan Silima Huta di Simalungun. Perpindahan mereka ke tanah Karo umumnya terjadi disebabkan oleh perkawinan dan juga memperluas area pertanian serta mencari kehidupan baru, di sisi lain ada juga yang datang karena diundang sebagai tabib dan juga menghalau musuh. Fenomena peralihan marga di kalangan suku Batak sangat umum terjadi dan salah satu yang mendasari lahirnya beragam marga dan juga cabang-cabangnya. Selain kasus Purba Simalungun menjadi Tarigan, para pendatang dari Toba dan Pakpak juga tidak sedikit yang membentuk marga baru di tanah Karo dan meninggalkan induk marganya, seperti marga Sihotang menjadi Karokaro Sitepu. Marga Kudadiri dari Pakpak dan Simbolon dari Samosir menjadi Ginting Suka, marga Solin jadi Peranginangin Pinem dan Sebayang di tanah Karo serta Selian di Alas. Selain itu marga Karokaro Sinuraya oleh pihak Pakpak diakui berasal dari marga Angkat. Demikianlah dinamika peralihan marga yang terjadi pada suku Batak, kondisi ini terjadi umumnya karena adanya konflik sosial, perpindahan, dan ada juga berasal dari julukan dan pemberian orang lain.

Daftar Pustaka:
1. Purba Tambak, Angin & Purba Tambak, Jorhalim. 1845. Partingkian Bandar Hanopan. Bandar Hanopan
2. Purba Tambak, TBA. 1967. Sejarah Keturunan Silou. Pematang Siantar: Percetakan HKBP
3. Purba Tambak, TBA & Purba, Jintahalim. 1967. Naskah Silsilah Purba Tambak. Pematang Siantar
4. Purba Tambak, Herman. 2008. Kerajaan Silou (Historiae Politia), Edisi Kedua. Pematang Siantar
5. Putro, Brahma. 1981. Karo Dari Jaman Ke Jaman, Jilid I. Medan: Yasasan Massa.
6. Prinst, Darwan dan Darwin. 1984. Sejarah dan Kebudayaan Karo. Bandung: CV. Yrama
7. Tambun, P. 1952. Adat Istiadat Karo. Jakarta: Balai Pustaka.
8. Tideman, J. 1922. Simeloengoen: het land der Timoer-Bataks in zijn vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra. Leiden: van Doesburg.
9. Neumann, J.H. 1972. Sejarah Batak Karo: Sebuah Sumbangan. Jakarta: Bhratara.
10. Siahaan, N. 1964. Sejarah Kebudayaan Batak. Medan: C.V. Napitupulu & Sons


Sumber: Putra Batak Simalungun
loading...

No comments

Powered by Blogger.