Header Ads

Alasan Kematian akibat Virus Corona Begitu Tinggi di Italia, Kasus Kematian Lebih dari 1.000 Orang

WARTAGAS - Kasus kematian di Italia terus meningkat dalam beberapa minggu terakhir, berdasarkan data terbaru lebih dari 1.000 orang dinyatakan meninggal akibat virus corona dan lebih dari 15 ribu orang terinfeksi.

Alasan Kematian akibat Virus Corona Begitu Tinggi di Italia, Kasus Kematian Lebih dari 1.000 Orang
KASUS kematian akibat virus corona di Italia terus meningkat dalam beberapa minggu terakhir.* /AFP

Negeri Pizza itu menjadi negara dengan kasus korban kematian terbanyak di luar daratan Tiongkok yang menjadi pusat penyebaran virus.

Tingkat kematian di Italia lebih dari 5 persen, lebih tinggi dari tingkat rata-rata global yang hanya 3,4 persen.

Dikutip dari Scientific American, salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kematian di Italia kemungkinan besar adalah usia populasinya.

Italia memiliki populasi tertua di Eropa, dengan sekitar 23 persen penduduk berusia 65 tahun ke atas.

Usia rata-rata di negara ini mencapai 47,3 tahun, bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya 38,3 persen.

Banyak kematian di Italia terjadi pada orang-orang yang berusia 80-an hingga 90-an, populasi yang diketahui lebih rentan terpapar wabah COVID-19.

Angka kematian secara keseluruhan akan selalu tergantung pada demografi populasi, kata Aubree Gordon, seorang profesor epidemiologi di Universitas Michigan di AS.

Dalam kasus di Italia, angka kematian yang dilaporkan bukanlah usia yang distandarisasi tapi merupakan cara untuk menyesuaikan demografi yang mendasari suatu populasi.

"Mengingat populasi Italia yang lebih tua, Anda akan mengharapkan tingkat kematian mereka rata-rata lebih tinggi, semua dianggap setara, dibandingkan dengan negara dengan populasi yang lebih muda," kata Aubree Gordon.

Sementara, menurut Krys Johnson, seorang ahli epidemiologi di Temple University College of Public Health yang juga di AS mengatakan bahwa seiring bertambahnya usia, peluang untuk berkembangnya virus setidaknya ada satu kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.

"Kondisi seperti itu juga membuat orang lebih rentan terhadap penyakit parah lain akibat virus corona," kata dia.

Masalah lain mungkin adalah jumlah orang di daerah tertentu yang memerlukan perawatan medis memiliki banyak orang yang sakit parah di satu wilayah dan berpotensi membanjiri sistem medis.

Menurut Gordon, Italia mungkin tidak menangkap atau mengisolasi banyak kasus COVID-19 yang dianggap ringan. Seringkali, ketika pengujian meluas dalam suatu komunitas, lebih banyak kasus ringan ditemukan, yang menurunkan tingkat kematian secara keseluruhan.

Adapun Korea Selatan melakukan tes kepada lebih dari 140 ribu orang dan ditemukan tingkat kematian di Negeri Ginseng itu hanya sebesar 0,6 persen.

Menurut Krys Johnson, orang dengan gejala yang lebih ringan atau mereka yang punya lebih muda kemungkinan tidak akan dites.***


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
PASAR (PAJAK) HORAS Pematangsiantar Nauli




Sumber: Pikiran-rakyat
loading...

No comments

Powered by Blogger.