Header Ads

Dolar AS Bikin Rupiah Babak Belur ke Rp 14.300, Ini Biang Keroknya

WARTAGAS, BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan terus mengalami pelemahan. Hari ini, dolar AS berada di level Rp 14.340.

Dolar AS Bikin Rupiah Babak Belur ke Rp 14.300, Ini Biang Keroknya
Ilustrasi Dolar AS/Foto: Grandyos Zafna

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai faktor utama pelemahan rupiah belakangan karena dampak dari virus corona. Ketidakpastian ekonomi global akibat wabah ini turut mempengaruhi banyak aktivitas perekonomian dalam negeri termasuk pergerakan rupiah.

"Karena ini dipengaruhi faktor sentimen, sentimen global khususnya dari Covid-19 (virus corona), rupiah memang cenderung agak lemah belakangan ini," ujar Josua dalam acara Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Sabtu (29/2/2020).

Josua menambahkan, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah saja. Fenomena ini juga terjadi di mata uang banyak negara, bahkan negara maju pun ikut mengalami pelemahan serupa.

"Bukan rupiah sendiri yang melemah, hampir semua mata uang melemah, semua merah, bahkan negara-negara maju lainnya juga mengalami pelemahan, hanya Jepang dan Swiss yang menguat," sambungnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan Josua, terlihat bahwa rupiah melemah sebesar 3,16% dibandingkan akhir tahun lalu (year to date/ytd). Pelemahan ini bukanlah yang paling dalam dibanding negara-negara lain. Bahkan ada dolar Singapura yang pelemahannya mencapai 3,38%. Lalu, ada won Korea Selatan yang melemah hingga 4,8% dan yang paling besar adalah baht Thailand hingga 5,05%.

"Penutupan kemarin, kita melemah sekitar 3% dibandingkan akhir tahun lalu. Tapi kalau dilihat di sini Singapore Dollar itu melemah lebih dalam hampir 3,4%, Yuan Korsel juga melemah menjadi hampir 5%, Thailand bahkan sudah sampai 5%, jadi bukan rupiah sendiri yang melemah," paparnya.

Lalu, bagaimana bisa wabah virus corona mempengaruhi nilai tukar sebuah negara?

Josua menerangkan bahwa hal itu memungkinkan karena di tengah ketidakpastian seperti ini, biasanya investor cenderung melarikan asetnya pada aset-aset yang lebih aman (safe haven) seperti dolar Amerika Serikat (AS).

"Karena memang tren pola investasinya larinya ke safe haven seperti AS, Japan, Swiss Franc," katanya.

Meski demikian, Josua bilang tren ini hanya terjadi sementara, dan dalam waktu dekat rupiah akan kembali menguat.

"Dan sekali lagi karena ini semua dipengaruhi oleh faktor sentimen, ini bersifat sementara, jadi tidak akan bertahan level ini dan karena level fundamental kita selama ini, mestinya rupiah bisa menguat lagi," pungkasnya. (detikcom)
loading...

No comments

Powered by Blogger.