Header Ads

COVID-19 Ancam Vaper, FDA Didesak Larang Rokok Elektronik

WARTAGAS - Sudah banyak ditulis bahwa orang-orang yang merokok, memiliki risiko lebih tinggi terhadap virus corona SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19.

COVID-19 Ancam Vaper, FDA Didesak Larang Rokok Elektronik
Ilustrasi (Foto : Healthline)

Mengingat virus corona SARS-CoV-2 satu ini menyerang sistem pernafasan atas. Logikanya ketika perokok positif terinfeksi COVID-19, akan jauh lebih sulit penanganannya mengingat paru-paru orang yang merokok sudah di dalam kondisi tidak optimal.

Terkait hal ini, bahkan sebagaimana dilapor Foxnews, Kamis (2/4/2020) House Oversight Committee Amerika telah mendesak Food and Drug Administration (FDA) selaku badan yang mengatur tentang Administrasi Makanan dan Obat-obatan untuk membersihkan e-cigarettes alias rokok elektronik dari pasaran, yang disebutkan membuat perokok lebih rentan terhadap tertular virus corona.

Disebutkan lebih lanjut, para anggota parlemen khawatir bahwa kebiasaan merokok dapat mempercepat penyebaran COVID-19 dan memiliki efek berantai pada sistem layanan kesehatan, yang mana kondisinya sekarang sudah overload, rumah sakit yang kewalahan menangani pasien, yang pada akhirnya dinilai sangat berbahaya bagi publik di tengah kondisi darurat seperti pandemi COVID-19 saat ini.

National Institute on Drug Abuse (NIDA) sendiri, telah mengeluarkan peringatan bahwa COVID-19 ini tak bisa dianggap enteng. Terutama dampaknya bagi para perokok, yang bisa berakibat lebih serius.

“Karena virus itu menyerang paru-paru, virus corona yang menyebabkan COVID-19 bisa menjadi ancaman yang sangat serius bagi mereka yang merokok. Baik itu rokok tembakau, atau vape sekalipun. Meningkatkan risiko dan dampak komplikasi yang bisa terjadi lebih serius,” bunyi peringatan National Institute on Drug Abuse.

Raja Krishnamoorthi, D-Ill., ketua Subkomite Kebijakan Ekonomi dan Konsumen, menyebutkan dengan larangan rokok elektronik ini tak hanya secara langsung menolong para perokok itu sendiri, tapi juga bisa menolong seluruh sistem pelayanan kesehatan negara.

“Mengurangi jumlah perokok dan vapers (orang yang mengisap vape) yang jatuh sakit terinfeksi virus corona, tidak hanya akan membantu mereka sendiri tetapi seluruh sistem kesehatan," tulis Raja Krishnamoorthi.

Sementara itu, Amerika Serikat sendiri kini sudah tercatat sebanyak 209.071 kasus positif COVID-19, dengan catatan angka kematian sebanyak 4633 orang. Meskipun sudah ada larangan di seluruh negara bagian kepada masyarakat untuk mengadakan acara pertemuan besar, sekolah-sekolah, restoran, serta bar juga telah ditutup ditambah dengan imbauan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
TAHU BULAT, Yang Tekenal di Bandung Bentuk Bulat Harga 500an - Kuliner Bandung




Sumber: okezone
loading...

No comments

Powered by Blogger.