Header Ads

WHO: Virus Corona 10 Kali Lebih Mematikan daripada Flu Babi

WARTAGAS - WHO mengatakan bahwa virus corona sepuluh kali lebih mematikan daripada pandemi flu babi yang terjadi pada 2009 silam. Untuk itu WHO juga menyebutkan jika vaksin diperlukan untuk menghentikan COVID-19 yang terjadi saat ini.

WHO: Virus Corona 10 Kali Lebih Mematikan daripada Flu Babi
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Youtube/AFP News Agency)

Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan hal tersebut saat pengarahan secara virtual dari Jenewa, bahwa organisasi kesehatan dunia tersebut saat ini terus-menerus belajar mengenai virus yang melanda di dunia tersebut.

Pandemi yang sangat menular ini telah menewaskan hampir 115.000 jiwa dan sudah mencapai 1,8 juta kasus yang terjadi secara global.

"Kita tahu bahwa COVID-19 menyebar dengan cepat, dan kami tahu itu mematikan, sepuluh kali lebih mematikan daripada pandemi flu 2009," ujar Tedros, dikutip dari laman Daily Mail.

Virus ini telah mengamuk di Inggris, Amerika Serikat dan Australia, dengan masing-masing menewaskan 11.329 orang, 22.858 orang dan 61 orang.

Sedangkan untuk Flu babi hanya menewaskan 138 di Inggris, 12.465 di Amerika Serikat, dan 191 di Australia.

Sebagai presentase, virus corona sejauh ini telah membunuh 6,4 persen orang yang telah dites positif COVID-19.

Termasuk 12 persen yang terjadi di Inggris, 0,1 persen di Australia, dan 4 persen di Amerika Serikat.

Namun, jika dibandingkan dengan Flu babi hanya membunuh 1,1 persen dari mereka yang terinfeksi secara global, berdasarkan data WHO.

Di Inggris tingkat kematian berada pada 0,03 persen, 0,2 persen di Amerika Serikat, dan 0,5 persen di Australia.

WHO kembali mengatakan bahwa 18.500 orang meninggal karena flu babi, di mana kematian pertama kali ditemukan di Meksiko dan AS pada bulan Maret 2009.

Wabah Flu babi, kemudian dinyatakan sebagai pandemi pada bulan Juni 2009 silam dan dipertimbangkan pada Agustus 2010.

Di mana virus dinyatakan tidak mematikan seperti yang ditakutkan ada saat pertama kali muncul.

Vaksin kemudian dikeluarkan, meskipun ada saja kritikan bahwa WHO telah bereaksi terlalu berlebihan.

Tedros baru-baru ini mengatakan bahwa beberapa negara melihat kasus berlipat ganda setiap tiga hingga empat hari.

Namun, ia menekankan bahwa mereka berkomitmen untuk 'menemukan kasus awal, menguji, mengisolasi dan merawat setiap kasus serta melacak setiap kontak' agar dapat mengendalikan virus.

Lebih dari setengah populasi dunia tinggal di rumah saja sebagai bagian dari upaya membendung penyebaran virus.

Tetapi, Tedros juga memperingatkan keterhubungan global yang terjadi berarti dapat berisiko pengenalan dan kebangkitan kembali penyakit yang kemudia akan berlanjut.

Ia juga mengungkapkan bahwa penyebaran cepat hanya terjadi sementara pada COVID-19 yang kini telah melambat.

Tedros juga menekannya langkah-langkah kontrol yang harus dilakukan perlahan-lahan.

Sehingga dengan kontrol tersebut tidak menjadikan masyarakat terinfeksi secara bersam-sama

"Langkah-langkah pengendalian hanya bisa dicabut jika langkah-langkah kesehatan masyarakat sudah tepat, termasuk kapasitas yang signifikan untuk pelacakan kontak," tambahnya.

Terlepas dari upaya yang dilakukan, WHO mengakui pada akhirnya, pengembangan dan pemberian vaksin yang aman dan efektif akan diperlukan untuk sepenuhnya menghentikan transmisi.

Sementara vaksin diperkirakan setidaknya membutuhkan waktu 12 hingga 18 bulan lagi.**


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Lagu Rohani Bahasa Batak BE No 806:1-2 AHA PE MASA DI NGOLUM
(Apa pun yang terjadi di hidupmu, Tuhan Menjagamu)



Sumber: pikiran-rakyat
loading...

No comments

Powered by Blogger.